Kisah Pengembaraan Jaka Tingkir Ke Pasundan

- Juli 07, 2017
Dalam sejarah dinyatakan bahwa Jaka tingkir merupakan Pendiri Kesultanan Pajang, dan juga seorang yang dipercaya merupakan murid kesayangan dari Sunan Kali Jaga. Sejauh pemaham penulis bahwa tidak ada sumber tulis baik prasasti maupun naskah yang mengisahkan mengenai pengembaraan Jaka Tingkir ke Pasundan. 

Meskipun demikian ada sumber cerita turun temurun dari masayarakat pasundan yang mendiami bantaran sungai cimanuk mengenai jejak pengembaraan Jaka Tingkir ke Pasundan, yang mana dalam kisah legenda tersebut dinyatakan pengembaraan Jaka Tingkir ke Pasunan kemudian berbuah kutuk pada keturunannya. Demikian kisahnya:

Pada tahun 1990-1997 di Indramayu khususnya di Kecamatan atau desa-desa yang dibelah Sungai Cimanuk masyarakat hilir mudik dari desa satu ke desa lainnya banyak yang menyebrang menggunakan prahu (Orang Indramayu Menyebutnya Jukung) yang di atasnya dikaitkan dengan tambang, sehingga jenis perahu angkut ini disebut tambangan.

Pada umumnya masyarakat lebih memilih transportasi tambangan ketimbang menggunakan angkot yang melewati jalan umum dikarenakan jarak tempuh yang lebih singkat, selain juga karena menunggu angkot pada waktu itu sangat lama. 
 Transportasi Tambangan Di Sungai Cimanuk
Yang menarik dari sungai Cimanuk ini adalah mengenai kisah seringnya orang-orang Jawa (Jawa Tengah-Jawa Timur) yang meniggal tak wajar setelah menyebrangi sungai dengan menggunakan transportasi tambangan. 

Ada yang setelah naik tambangan, kemudian kakinya tiba-tiba berasa ada yang mematuk, kemudian sehari stelahnya meninggal, ada yang ketika menaiki tambangan melihat penampakan-penampakan aneh kemudian sesampai dikontrakan meninggal, dan lain sebagainya.

Kisah-kisah kematian tragis orang Jawa yang menyebrangi sungai Cimanuk, yang dahulu kala merupakan sungai tapal batas Kerajaan Jawa dan Sunda itu sangat kencang sekali gaungnya, bahkan saking khawatirnya mengenai hal ini, pernah juga dilakukan himbauan kepada orang-orang Jawa pendatang agar jika berpergian jangan menyebrang melalui sungai ini. 

Yang lebih unik daripada kisah tersebut, ternyata berdasar cerita yang dituturkan turun temurun dalam masyarakat Indramayu yang mendiami bantaran sungai Cimanuk, dinyatakan bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan  pengembaraan Jaka Tingkir ke Pasundan.

Menurut kisah turun tersebut dahulu dikatan ketika Jaka Tingkir menyebrangi Sungai Cimanuk Jaka tingkir dikisahkan membunuh siluman buaya putih yang mendiami sungai Cimanuk, sehingga dari kejadian tersebut keturunan buaya putih tersebut menuntut balas pada Jaka Tingkir dan keturunannya. 

Jadi siapa saja keturunan Jaka tingkir akan dibalas dengan pembunuhan pula. Itulah sebabnya kenapa banyak orang Jawa yang menyebrangi sungai Cimanuk kemudian mati tak wajar, demikianlah memang legendanya. 

Tapi yang menjadi persoalan apakah benar Jaka Tingkir pernah mengembara ke Pasundan..?

Apakah dalam kisah kehidupan Jaka Tingkir perna dikisahkan membunuh siluman buaya putih di Cimanuk? 

Kedua hal tersebut itulah yang perlu dipecahkan.  Nah rupanya dalam hal ini penulis menemukan titik terang melalui kisah Jaka Tingkir yang terdapat dalam babad tanah jawi, demikian kisah selengkapnya; 

Dalam Babad Tanah Jawi  dikisahkan;
Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati raja Demak Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.
Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan Sadak Kinang. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai ke tujuan.
Saat itu Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya.
Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Kisah Jaka Tingkir sebagaimana terdapat dalam babad tanah jawi di atas jelas menyinggung mengenai sungai dan siluman Buaya putih, namun demikian bahwa Jaka Tingkir memang dikatan pernah berurusan dan membunuh buaya putih namun kejadiannya berlangsung di Sungai Kedung Srengenge.

Dengan demikian maka dipastikan ada kemungkinan kisah turun temurun mengenai pertarungan Jaka Tingkir dengan Siluman Buaya putih dicimanuk ini terinspirasi dari kisah ini, dalam kata lain kisah buaya putih Cimanuk yang menuntut balas pada orang Jawa ini hanya rekaan saja, pendongengnya ada kemungkinan terinspirasi dari kisah babad tanah jawi.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search