Kerajaan Sriwijaya Beserta Sebelas Rajanya Yang Terkenal

- Desember 23, 2017
Eksistensi Kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan besar yang pernah berdiri di Indonesia sebenarnya sudah dilupakan orang, terlebih-lebih ketika Bangsa Indonesia secara total telah dijajah Belanda (Abad 19). Dalam masa itu nama Sriwijaya seperti tertutup lumpur tebal. 

Meskipun Demikian ada juga orang-orang yang masih mengenal Sriwijaya, itupun hanya sedikit, sebatas keluarga-keluarga Kerajaan Melayu baik yang ada di Sumatra maupun semenanjung Melayu yang masih menganggap bahwa mereka berasal dari keturunan Raja-Raja Sriwijaya. 
Nama Kerajaan Sriwijaya kembali Booming setelah seorang penliti berkebangsaan Prancis melakukan sebuah penelitian tentang kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia, dalam penelitiannya ditemukan bahwa di Sumatra Selatan pernah berdiri sebuah kerajaan besar yang kekuasaanya luas meliputi setengah Asia tenggara, peneliti asal prancis tersebut bernama George Coedes. Hasil penelitiannya tersebut kemudian dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul Le Royaume de Crivijaya, buku tersebut terbit  pada tahun 1918 M. 

Buku tersebut pada nantinya menjadi bahan kajian para pelajar di Indonesia, baik yang belajar di dalam negeri maupun diluar negeri, dan jelas saja setelah itu kemudian Sriwijaya dijadikan propaganda kaum nasionalis Indonesia untuk berbangga dengan jati dirinya. 

“Lihat lah bangsa kami dahulu pernah jaya berkuasa, dan mengapa kita sekarang terjajah, mari kita kembali jaya untuk merdeka, seperti jaman Sriwijaya”, begitu barangkali kira-kira propaganda para pelajar Indonesia untuk menyemangati teman-temanya agar merdeka dari penjajahan.

Sriwijaya menurut George Coedes adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan. letak ibukota Sriwijaya di Palembang, anggapanya itu didasarkan pada pendapat Groeneveldt dalam bukunya “Notes on the Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Source”, yang menyatakan bahwa, kata San-fo-ts‘i dalam catatan Cina identik dengan topografi Palembang karena Palembang berada di tepi sungai musi. 

Setelah berlalunya jaman, rupanya bukti-bukti keberadan Sriwijaya ini muncul kepermukaan, sehingga kemudian dari temuan-temuan baru itu para Sejarawan dapat merekonstruksi Kerajaan Sriwijaya dengan referensi yang jelas, baik itu bagaimana kerajaan ini didirikan, dan siapa saja raja-raja yang disebut-sebut dalam penemuan baru itu. 

Oleh karena itu, dalam artikel kali ini penulis akan menyuguhkan Kerajaan Sriwijaya berdasarkan sumber sejaranya serta sebelas raja-raja yang pernah memerintah Sriwijaya sesuai dengan sumber-sumber sejarah yang telah ditemukan, adapun pemaparannya sebagai berikut.

Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya
1. Sumber Asing, Sumber Asing mengenai keberadaan Kerajaan Sriwijaya didapat dari temuan berupa naskah, maupun prasasti dari India, Arab dan Cina, adapun penjelasannya sebagai berikut:

India: Kerajaan Sriwijaya pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan-kerajaan di India seperti Kerajaan Nalanda dan Kerajaan Chola. Dengan Kerajaan Nalanda disebutkan bahwa Raja Sriwijaya mendirikan sebuah prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Nalanda. Dalam prasasti tersebut dinyatakan bahwa Raja Nalanda yang bernama Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 desa dari pajak. Sebagai gantinya, kelima desa tersebut wajib membiayai para mahasiswa dari Kerajaan Sriwijaya yang menuntut ilmu di Kerajaan Nalanda.

Arab: Orang-orang Arab sering menyebut Sriwijaya dengan nama Sribuza, Sabay atau Zabaq. Mas‘udi, seorang sejarawan Arab klasik menulis catatan tentang Sriwijaya pada tahun 955 M. Dalam catatan itu, digambarkan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan besar, dengan tentara yang sangat banyak. Hasil bumi Sriwijaya adalah kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, kayu cendana, pala, kardamunggu, gambir dan beberapa hasil bumi lainya.

Cina: Kunjungan I-sting, seorang peziarah Budha dari China pertama kali pada tahun 671 M. Dalam catatannya disebutkan bahwa saat itu terdapat lebih dari seribu orang pendeta Budha di Sriwijaya. Aturan dan upacara para pendeta Budha tersebut sama dengan aturan dan upacara yang dilakukan oleh para pendeta Budha di pusat ajaran agama Budha, India. I-tsing tinggal selama 6 bulan di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta, setelah itu ia berangkat ke Nalanda, India. Setelah lama belajar di Nalanda, tahun 685 I-tsing kembali ke Sriwijaya dan tinggal selama beberapa tahun untuk menerjemahkan teks-teks Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. Catatan Cina yang lain menyebutkan tentang utusan Sriwijaya yang datang secara rutin ke Cina, yang terakhir pada tahun 988 M.

2. Sumber Dalam Negeri, yaitu sumber yang didapat dari wilayah-wilayah yang dahulu menjadi kekuasaan Sriwijaya, sumber yang didapat dari temuan prasasti, mengenai Sriwijaya adalah sebagai berikut:

Prasasti Kota Kapur. Prasasti ini merupakan yang paling tua, bertarikh 682 M, menceritakan tentang kisah perjalanan suci Dapunta Hyang dari Minana dengan perahu, bersama dua laksa (20.000) tentara dan 200 peti perbekalan, serta 1.213 tentara yang berjalan kaki. Sumber lain menyatakan prasasti ini berisi tentang penaklukan Bumi Jawa yang tidak setia kepada Sriwijaya. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka. 

Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti ini berangka tahun 683 M itu menyebutkan bahwa raja Sriwijaya bernama Dapunta Hyang yang membawa tentara sebanyak 20.000 orang berhasil menundukan Minangatamwan. Dengan kemenangan itu, Kerajaan Sriwijaya menjadi makmur. Daerah yang dimaksud Minangatamwan itu kemungkinan adalah daerah Binaga yang terletak di Jambi. Daerah itu sangat strategis untuk perdagangan.

Prasasti Talangtuo. Prasasti ini berangka tahun 684 M itu menyebutkan tentang pembuatan Taman Srikesetra atas perintah Raja Dapunta Hyang.

Prasasti Karang Berahi. Prasasti ini berangka tahun 686 M itu ditemukan di daerah pedalaman Jambi, yang menunjukan penguasaan Sriwijaya atas daerah itu.

Prasasti Ligor. Prasasti ini berangka tahun 775 M itu menyebutkan tentang ibu kota Ligor yang difungsikan untuk mengawasi pelayaran perdagangan di Selat Malaka.

Prasasti Nalanda. Prasasti itu menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai Raja terakhir dari Dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Dalam prasasti itu, Balaputra Dewa meminta kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Kerajaan Syailendra. Di samping itu, prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 buah desa dari pajak untuk membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda. 

Prasasti Telaga Batu. Prasasti ini ditemukan di sekitar Palembang pada tahun 1918 M. Berbentuk batu lempeng mendekati segi lima, di atasnya ada tujuh kepala ular kobra, dengan sebentuk mangkuk kecil dengan cerat (mulut kecil tempat keluar air) di bawahnya. Menurut para arkeolog, prasasti ini digunakan untuk pelaksanaan upacara sumpah kesetiaan dan kepatuhan para calon pejabat. Dalam prosesi itu, pejabat yang disumpah meminum air yang dialirkan ke batu dan keluar melalui cerat tersebut. Sebagai sarana untuk upacara persumpahan, prasasti seperti itu biasanya ditempatkan di pusat kerajaan, maka diduga kuat Palembang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya.

Raja-Raja Sriwijaya
Dari sumber-sumber temuan yang telah didapat baik sumber asing maupun sumber dalam, kemudian ternyata telah didapat nama-nama Raja terkenal dari Kerajaan Sriwijaya, kesemuanya berjumlah 11 Raja, adapun penjelasnya adalah sebagai berikut:

1. Dapunta Hyang Sri Jayanasa (Prasasti Kedukan Bukit 683 M, Prasasti Talangtuo 684 M)
Berita mengenai raja ini diketahui dari Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M dan Prasasti Talangtuo tahun 684 M. Pada masa pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang Sri  Jayanasa telah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Minangatamwan, Jambi. Sejak awal pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang telah mencita-citakan agar Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim. Meskipun demikian eksistensi Raja ini sebagai Raja Pertama Kerajaan Sriwijaya masih diperdebatkan. Baca dalam " Kontroversi Raja Pertama Kerajaan Sriwijaya"

2. Sri Indrawarman (Berita Arab Dan Cina, 724 M)
Sri Indrawarman Gaungnya menjadi terkenal karena Raja ini dikisahkan pernah berkirim Surat Kepada Kekhalifahan Muawiyah dalam surat tersebut Raja Sri Indrawarman meminta kepada penguasa Islam pada waktu itu agar sudi mengirimkan pendakwah Islam ke Sriwijaya. Selain berkirim Surat ke Penguasa Islam. Raja ini juga tercatat pernah mengirimkan surat pada kekaisaran Cina adapun tujuanny adalah menjalin persahabatan.

3. Rudrawikrama (Berita Cina, 728 M)
Raja ini dikenal melalui Kabar dari Cina karena disebutkan pada tahun 728 mengirimkan utusan ke Cina dalam rangka menjalin persahabatan. 

4. Wishnu (Prasasti Ligor, 775 M)
Raja Wisnu dipercaya sebagai Raja Jawa (Medang) dari Wangsa Sailendara yang menaklukan Sriwijaya, kemudian ia mengangkat dirinya sebagai Raja di Sriwijaya.  Nama Raja Winsu ditemukan pada prasasti ligor di Semenanjung Malaysia, hal tersebut menurut para ahli menandakan bahwa kekuasaan Sriwijaya pada masa Raja ini hingga ke Semenanjung Malaysia. 

5. Maharaja (Berita Arab, 851 M)  
Raja ini adalah Raja kedua dari Kerajaan Sriwijaya yang diduga mengirimkan surat ke Kekhalifahan Dinasti Abasiyah, tujuannya menjalin persahaban dan pengiriman pendakwah Islam ke Sriwijaya. 

6. Balaputradewa (Prasasti Nalanda, 860 M)
Pada masa pemerintahan Balaputradewa, Kerajaan Sriwijaya mengalami masa kejayaannya. Pada awalnya, Raja Balaputradewa adalah raja dari kerajaan Syailendra (Jawa Tengah). Ketika terjadi perang saudara di Kerajaan Syailendra, antara Balaputradewa dan Pramodhawarni (kakaknya) yang dibantu oleh Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya), Balaputradewa mengalami kekalahan. Akibat kekalahan itu, Raja Balaputradewa lari ke Sriwijaya. Di Kerajaan Sriwijaya berkuasa Raja Dharma Setru (kakak dari ibu Balaputradewa) yang tidak memiliki keturunan, sehingga kedatangan Raja Balaputradewa disambut baik. Kemudian ia diangkat menjadi raja. 

7. Sri Udayaditya Warmadewa (Berita Cina, 960 M)
Raja ini  muncul berdasarkan catatan kekaisaran Cina dinsati Song, dalam catatan tersebut Seorang Raja bernama Sri Udayaditya Warmadewa mengirimkan utusan ke Cina sebagai tanda persahabatan pada tahun 960 M.

8. Sri Udayaditya (Berita Cina, 962 M)
Raja ini  muncul berdasarkan catatan kekaisaran Cina dinsati Song, dalam catatan tersebut Seorang Raja bernama Sri Udayaditya mengirimkan utusan ke Cina sebagai tanda persahabatan pada tahun 962 M. Sebagai Kelanjutan dari pengiriman utusan pada periode Raja sebelumnya.
9. Sri Cudamaniwarmadewa (Berita Cina, 1003. Prasasti Leiden, 1044 M)
Raja Ini dikenal melalui berita Cina yang menyatakan pada masa Raja Ini, mendirikan sebuah Candi yang didedikasikan untuk Maharaja Cina, selain itu juga Atiśa, seorang sarjana Buddha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Buddha Vajrayana di Tibet, dalam kertas kerjanya Durbodhāloka menyebutkan bahwa karyanya tersebut dituliskan pada masa pemerintahan Sri Cudamanivarmadeva penguasa Sriwijayanagara di Malayagiri di Suvarnadvipa. Raja ini juga dikenal dari Prasasti Leiden yang menyebut-nyebut nama Raja ini. 

10. Maraviyatunggawarman (Prasasti Leiden, 1044 M)
Raja ini juga dikenal dari Prasasti Leiden yang menyebut-nyebut nama Raja ini. Kedalam deretan Raja-Raja yang pernah memerintah Sriwijaya. 

11. Sri  Sanggrama Wijayatunggawarman (Prasasti Chola, 1004 M)
Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya mengalami ancaman dari Kerajaan Chola. Di bawah Raja Rajendra Chola, Kerajaan Chola melakukan serangan dan berhasil merebut Kerajaan Sriwijaya. Sanggrama Wijayatunggawarman berhasil ditawan. Namun, pada masa pemerintahan Raja Kulottungga I di Kerajaan Chola, Raja Sanggrama Wijayatunggawarman dibebaskan kembali. 
    Daftar Bacaan: 
    1. Bellwood, Peter and James J. Fox, Darrell Tryon. The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives.
    2. Hirth, Friedrich and Chao Ju-kua, W.W.Rockhill. The Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteen centuries. Entitled Chu-fan-chi St Petersburg, 1911.
    3. http://wikipedia/sejarahkerajaansriwijaya/com
    4. Karso, Drs, dkk. Pelajaran Sejarah Untuk SMTA kelas 1. Bandung: Penerbit Angkasa, ISBN. 979-404-179-3-7, 1988.
    5. Munoz, Paul Michel. Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet, pages 171, 143, 140, 132, 130, 124, 113. ISBN 981-4155-67-5, 2006.
    6. Notosusanto, Nugroho, dkk. Sejarah Nasional Indonesia 1. Jakarta: CV. Adhi Waskita Semarang, ISBN. 979-462-144-7, 1992.
    7. Soekmono, Drs. R. (1973, 5th reprint edition in 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed.. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, page 60.
    8. Taylor, Jean Gelman. Indonesia: Peoples and Histories. New Haven and London: Yale University Press, pp. 8-9. ISBN 0-300-10518-5, 2003.


    EmoticonEmoticon

     

    Start typing and press Enter to search