Perang Banten VS Mataram, Yang Menang Malah Belanda

- Januari 28, 2018
Perang antara Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram pernah terjadi pada masa Pangeran Kenari. Pangeran Kenari merupakan Sultan Banten ke empat. 

Beliau Bergelar Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Qadir, memerintah Banten dari mulai tahun 1596 -1651. Pada masa beliau memerintah tercatat Banten memberikan ijin pada VOC Belanda duntuk membuat markas dagang di Jaya Karta, pemberian ijin tersebut terjadi pada tahun 1611 Masehi.
Ilustrasi Perang Banten Vs Mataram
Menurut Naskah Cirebon[1], pemberian ijin terhadap VOC Belanda untuk mendirikan markas di Jaya Karta oleh Banten dilatar belakangi oleh peristiwa peperangan antara Banten dan Mataram. Selepas kemangkatan Sultan Banten ke III yaitu Maulana Mahmud (Panembahan Banten Sedang Renapati) dalam peristiwa pertempuran dengan Mataram. 

Sultan Banten selanjutnya yang menjabat harus melalui persetujuan Mataram. Kebetulan waktu itu Pangeran Kenari sedang melaksanakan Ibadah Haji sehingga pelantikan Sultan Banten selanjutnya menunggu kedatangan sang Pangeran. 

Setibanya Pangeran Kenari dari Mekah beliau kemudian memproklamirkan diri menjadi Raja ke IV Banten dengan memakai Gelar Sultan. Pangeran Kenari mengklaim pengangkatan dirinya menjadi Sultan atas ijin dari Syarif Mekah. Mendapati Banten mengangkat Raja tanpa sepengetahuannya Raja Mataram kemudian murka. Untuk kemudian Matarampun menyerang Banten. 

Sementara di Banten Pangeran Kenari ternyata tak tinggal diam, ia pun mempersiapkan tentaranya untuk menghadapi Mataram dengan penuh pertimbangan. 

Perang antara Banten dan Mataram ini dikisahkan memakan waktu bertahun-tahun, sehingga akhirnya ada seorang Belanda yang bernama Kapten Morgel[2] yang dapat mendamaikan peperangan. 

Dalam perdamaian itu Mataram mau mengakui pengangkatan Pangeran Kenari sebagai Sultan Banten dengan syarat Banten harus mengirimkan Tugur (Pasukan Penjaga) ke Mataram setiap tahun. Pasukan ini bergantian datang ke Mataram untuk tugas jaga. Atas permintaan tersebut kemudian Banten menyetujui.

Dalam Pandangan Mataram meskipun Banten tidak dapat ditaklukan akan tetapi dengan adanya tentara Banten yang ditugaskan menjaga Keraton Mataram pamor Mataram dimata kerajaan bahwanya menjadi tinggi, karena dianggap mampu menaklukan Banten dengan bukti adanya pasukan Banten yang ditempatkan di Mataram sebagai tanda takluk.

Sementara Banten beranggapan bahwa, pengiriman Tugur ke Mataram sebagai lelucon saja, karena pada nyatanya meskipun Banten mengirimkan Tugur ke Mataram pada nyatanya Banten tidak dapat dikuasi Mataram. 

Cara tersebut dianggap Banten sebagai cara tepat untuk melakukan gencatan senjata. Mengingat waktu itu Banten belum pulih benar dari keterpurukan setelah kemangkatan Sultan ke III.


Kapten Morgel yang berhasil mendamaikan antara kedua kerajaan tersebut kemudian minta upah kepada Sultan Banten, upahnya agar VOC Belanda diberikan kebebasan membangun markas di Jaya Karta. Maka berdsarkan ijin tersebut pada tahun 1611 VOC mendirikan markas dagang di Jaya Karta. 

Pada mulanya markas yang dibangun tersebut hanya berupa rumah kayu dengan pondasi batu sebagai kantor dagang. Pada tahun 1618  mereka selanjutnya menyewa lahan sekitar 1,15 hektar dan dalam lahan tersebut kemudian dibangun komplek tempat tinggal orang Belanda disertai Benteng yag tinggi dan persenjataan lengkap. Selanjutnya hal yang tak diduga-duga kemudian terjadi, pada tahun 1619 dari dalam benteng itu VOC Belanda kemudian menghujani pemerintahan di daerah Jaya Karta dengan meriam sehingga kemudian Jaya Karta dapat direbut VOC Belanda dari tangan penguasa lokal Jaya Karta. 

Mulai setelah itu Jayakarta tidak lagi dikuasi oleh Banten. Jaya Karta kemudian diubah namanya menjadi Batavia. Setelah peristiwa itu Banten kemudian bermusuhan dengan VOC yang kini telah membangun Negara di Jaya Karta. Pada abad-abad selanjutnya Banten dan Mataram kemudian dikuasai oleh Belanda.  

Catatan Kaki
[1] Lihat Naskah Mertasinga Pupuh LXX.20-LXX1.11
[2] Kapten Morgel merupakan nama Tradisonal utuk Gubernur/Pejabat Belanda. Panggilan ini berasal dari kata Kapten Mur yang berasal dari bahasa Portugis Capitao Mor yang berarti Panglima tertinggi. Nama Kapten Morgel banyak dijumpai dalam naskah klasik Cirebon.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search