MA Sentot Pejuang Kemerdekaan Yang Di Kejar Belanda Di Incar DII/TII

- Februari 04, 2018
November Tahun 1947 tentara Belanda yang sedang iring-iringan melewati Jembatan Bangkir Indramayu tiba-tiba terkapar karena dihantam bom dan dihujani brondongan peluru dari arah yang tak diketahui. 40 prajurit Belanda mati dalam peristiwa tersebut[1]. Dalang dari peristiwa itu adalah MA Sentot, Komandan TRI Pasukan Setan dari Divisi Siliwangi. 
Pasca terjadinya peristiwa pembunuhan Prajurit Belanda yang sedang melakukan Agrisi Militer I itu, nyawa MA Sentot dihargai tinggi oleh Belanda, ia dikejar-kejar dan diburu tentara Belanda, bahkan Belanda bersedia membayar tinggi bagi seorang yang menginformasikan keberadaan MA Sentot. 

Tapi bukan Pasukan Setan namanya kalau mudah ditemukan Belanda. MA Sentot dikenal pandai dalam menyamar, tak terduga-duga jika melakukan serangan, sebab itulah ia menamai pasukannya dengan nama pasukan Setan.

Tahun 1948 TRI Divisi Siliwangi Hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, sebagai akibat dari perjanjian Renville antara Pemerintah Indonesia dengan Belanda. Begitupun dengan MA Sentot, dari Indramayu ia memimpin pasukannya hijrah menuju ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. 

Tahun 1949 Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, oleh sebab itu TRI Divisi Siliwangi yang sebelumnya berkumpul di Jawa Tengah, kemudian kembali ke Jawa Barat. Peristiwa kembalinya tentara Jawa barat dari Jawa Tengah menuju Jawa Barat ini dalam sejarah disebut longmarch Siliwangi. 

Tapi rupanya, ketika Tentara Divisi Siliwangi memasuki Jawa Barat, dan untuk kemudian dipecah-pecah sesuai tujuan kepulangannya, MA Sentot dalam kepulanganya ke Indramayu malah selanjutnya berhadapan dengan pemberontak DII/TII. Milisi DII/TII ternyata mengincar MA Sentot. Pada saat berjalan dengan anak buahnya, tiba-tiba terdengar letusan senjata yang amat nyaring, tembakan itu ditujukan kepada pasukan MA Sentot. 

Beliau memerintahkan pasukannya untuk maju, namun karena rentetan tembakan tersebut terus menerus ditembakan, anak buah MA Sentot yang umunya Shock hanya bisa tiarap sambil sesekali melakukan tembakan-tembakan ngawur ke arah bunyi rentetan tembakan musuh. Waktu itu MA Sentot tidak sempat tiarap. Ia dikisahkan dalam pertempuran ini kebal peluru, bahkan peluru yang dibrondngkanya kebadanya itu jatuh berguguran ke tanah, aneh memang.


Kisah mengenai kebal pelurunya MA Sentot tersebut dikisahkan oleh salah satu anak buahnya yang bernama Bapak Kaswinah. Bahkan katanya Ia melihat dengan mata kepala sendiri, menurutnya[2]:

“Kalau perang, Pak Sentot di tengah-tengah. Kasih arahan maju (sisi) kanan, maju (sisi) kiri udah kayak main (sepak) bola aja. Kalau (MA Sentot) kena tembak enggak apa-apa. Kalau diberondong (senapan mesin ringan) Bren, malah pada jatuh pelurunya,” kenang Kaswinah. 

“Sementara kita anak buah yang lain tiarap, dia mah berdiri terus. Perintah maju sini, maju sana, kayak orang ngangon bebek. Boro-boro ditembak dari jauh, ditembak dekat dari jendela pakai Bren sama DI (Maksudnya DII/TII) aja enggak apa-apa. Pelurunya pada ngampar di bawah dan cuma diketawain aja sama Pak Sentot,” begitu penuturan pak Kaswinah. 
Bapak Kawinah Mantan Pasukan Setan Divisi Siliwangi Anak Buah MA Sentot Img By Okezone.com
Demikianlah mengenai kisah MA Sentot Pahlawan Kemerdekaan yang diburu Belanda dan di Incar DII/TII. Jasa perjuangannya untuk kemerdekaan sungguh luar biasa. Adapun Biografi serta perjalanan hidupnya sebagi seorang TRI atau TNI akan dipaparkan sebagai berikut:

Biografi Perjalanan Hidup MA Sentot[3]
M.A Sentot lahir pada 17 Agustus 1925 di Blok Lapangan Bola Desa Plumbon Kabupaten Indramayu, beliau lahir dari pasangan  HajiAbdul Kahar dan Hajah  Fatimah. Karena M.A Sentot berlatar belakang sebagai keluarga yang mampu secara financial iapun mengenyam pendidikan. Ia tercatata pernah bersekolah di HIS Indramayu.

Pada jaman penjajahan Jepang ia masuk PETA mengikuti pendidikan Shodantjo dan selepas itu menjadi Shodantjo di Daidan Majalengka dan Indramayu.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan M.A Sentot masuk BKR, yang kemudian berganti nama menjadi TKR, yang kemudian berganti lagi menjadi TRI, dan kemudian sekarang beralih nama menjadi TNI. Karirnya mulai dengan pangkat Letnan Satu kemudian naik menjadi Kapten dan komamndan Komandan Kompi. Pada saat menjadi Komandan itulah beliau menamakan pasukan yang dipipmpinnya dengan Pasukan Setan.

Setelah perang kemerdekaan usai dan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indoesia, M.A Sentot naik pangkatnya menjadi Mayor sebagai Komandan Batalyon A Divisi Siliwangi.

Kemudian M.A Sentot menjadi Komandan Detasemen Subsistensi KMKB Bandung di tahun 1951, menjadi Staf TT III Siliwangi di tahun1957, Siswa SSKAD di tahun 1957 dan ditahun yang sama naik pangkatnya menjadi Letkol.

Setelah menamatkan pendidikan di SSKAD beliau ditempatkan di Kalimantan Selatan, menjadi Komandan Batalyon 604 di Kotabaru Kalimantan Selatan, kemudian menjabat Irtepe Koanda Kalimantan, Asisten II Deyah Koanda dan pernah mewakili Kepala Staf Deyah Koanda.

Pada 1961 dia dipindah tugaskan dan ditempatkan sebagai Pamen SUAD III Mabesad di Jakarta, 1963 ditugaskan di Operasi Karya menjabat Asisten III dan pada  1966 dipindahkan kembali ke Mabesad dan pada1969 pangkatnya naik menjadi Kolonel, pensiun tahun 1980 dengan pangkat terakhir Kolonel.

Setelah pensiun M.A Sentot kembali hidup bersama masyarakat dan tinggal di Desa Bugel, Kecamatan Patrol Kabupaten Indramayu. Beliau wafat tanggal 6 Oktober 2001 dan karena jasanya sebagai pahlawan kemerdekaan beliau kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung. Kini nama MA Sentot di Indramayu diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Militer yang terletak di Patrol Indramayu.

Catatan Kaki
[1] Penjelasan Bapak Kaswinah Melalui Okezone.cm
[2] Ibid
[3] Baca : Wawan Idris, dkk. M.A Sentot Dalam Arus Sejarah Nasional Indonesia. 2008


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search