Riwayat Burung Kukilan dan Canang Ki Bicak Peninggalan Sunan Gunung Jati

- September 01, 2018
Burung Kukilan dalam tradisi masyarakat Jawa tempo dulu dianggap sebagai burung penuh mistis, burung ini bermuka seram, jika siang hari terlihat pendiam, akan tetapi di malam hari burung ini sangat agresif, suaranya menakutkan, bahkan bagi sebagian orang suara burung ini dianggap sebagai pertanda akan adanya kematian.

Sunan Gunung Jati selama hidupnya dikisahkan pernah memelihara Burung Kukilan, burung itu merupakan hadiah dari Sunan Ampel, Burung Kukilan dihadiahkan Sunan Ampel kepada Sunan Gunung Jati karena sebelumnya Sunan Gunung Jati memberikan canang ki bicak kepadanya.

Peninggalan Sunan Gunung Jati yang diceritakan masih lestari hingga kini adalah Canang Ki Bicak, Canang sendiri merupakan alat musik sejenis gong akan tetapi kecil bentuknya, di pulau Jawa dahulu Canang digunakan untuk wewara atau woro-woro, biasanya apabila pihak pemerintah ingin mengumumkan sesuatu kepada masyarakat mereka umumnya menabuh canang keliling kampung sambil mengumumkan Sesutu.

Canang Ki Bicak dikisahkan ditemukan oleh Sunan Gunung Jati ketika menggali kolam di Ampel Denta (Surabaya) untuk keperluan wudu atau bersuci para Santri di Pesantren Ampel Denta yang didirikan Sunan Ampel.
Canang
Pada mulanya Canang Ki Bicak ini berjumlah dua biji, akan tetapi, karena setelah penemuan canang itu Sunan Ampel merasa tertarik maka untuk kemudian Sunan Gunung Jati menyerakan yang satunya kepada Sunan Ampel.

Sebagai gantinya Sunan Ampel meberikan burung peliharaan kesayanganya kepda Sunan Gunung Jati. Burung itu adalah burung kukilan.

Nama lain dari burung kukilan sendiri adalah burung Kukuk Beluk (Kukuk Pemanggil) dinamakan Kukuk Beluk karena memang bunyi burung ini semacam panggilan kematian (panggil dalam bahasa jawa “beluk”).

Selain itu ada juga yang berasumsi bahwa munculnya nama kukuk beluk untuk menamai burung kukilan itu karena memang bunyi dari burung tersebut adalah “ Kukuk beluuuk
Burung Kukilan/Kukuk Beluk
Kisah mengenai Canang Ki Bicak dan burung kukilan kepunyaan Sunan Gunung Jati itu dikisahkan dalam naskah mertasinga pupuh LIII.04-LIII.15, demikian kisahnya;
Pada waktu itu Sinuhun Jati dan Sunan Kalijaga ingin berkunjung ke Surabaya untuk mengasingkan diri. Mendengar hal tersebut, Sunan Ampel Gading mengirim utusan untuk mengundang kedua wali tersebut. 
Kedua utusan itu membawa surat dan burung kukilan. Setelah tiba dikedua hadapan wali itu, sang utusan menyerahkan suratnya, walaupun suratnya belum dibaca akan tetapi wali sudah mengetahui apa yang tercantum didalamnya. Kedua wali itupun kemudian berangkat dengan mengendarai burung kukilan itu. Setiba di Surabaya keduanya segera ditemui Sunan Ampel Gading yang menerimanya dengan penuh kebahagiaan. 
Setelah beberapa lama berada di Ampel Gading, Sinuhun Ingin membuat sebuah kolam. Sinuhun menggali hingga tengah malam akan tetapi airnya belum juga keluar. Setelah muncul rembulan, barulah ditanah terlihat bercak-bercak tanda akan keluarnya air. Sinuhun Jati senang sekali melihatnya, dan segera Sinuhun mendekati sumber air itu, setelah dekat Sunuhun menemukan dua buah Canang. Kedua buah canang itu segera diambil dan dijingjing dengan kedua tangan kanan dan kirinya. Canang itu dibawanya ke atas dan barulah air keluar dengan derasnya memenuhi kolam itu.  
Pada waktu itu fajar telah tiba, telah tiba saatnya orang berdoa dan melakukan shalat subuh. Selesai Shalat, Sunan Ampel Denta dating menemui Sunan Jati. Walaupun Sunan Ampel belum mengatakan maksudnya, Sinuhun Jati mengetahui apa keinginanya. Canang yang ditangan kirinya segera diksihkan kepada Sunan Ampel Denta. Yang diberi sangatlah gembira hatinya, sebagai gantinya Sunan Ampel memberikan burung kukilan kepada Sinuhun Jati. 
Setelah menerima kenang-kenangan itu, kedua wali pun kemudian memohon pamit untuk kembali Ke Cirebon, keduanyapun kembali pulang dengan membawa burung dan salah satu dari canang itu. Canang itu diberi nama Ki Bicak, karena asalnya ditemukan dari bercak-bercak air. [dalam bahasa jawa disebut bicak]
Kisah di atas menginfokan kepada kita bahwa Canang Ki Bicak yang kini menjadi salah satu peninggalan di Cirebon itu asalanya dari Ampel Gading/Denta Surabaya, selain itu dalam cerita di atas juga menginformasikan kepada kita bahwa para wali tempo dahulupun gemar memelihara burung, kegemaran memilihara burung ini tentu bukan suatu yang aneh, sebab orang-orang yang hidup dipulau Jawa sendiri menganggap memelihara burung sebagai filosofis hidupnya. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search