Membuminya Madhab Tantrayana dan Runtuhnya Majapahit-Pajajaran

- Desember 31, 2018
Ada kaitan antara membuminya Madhab Tantrayana dengan keruntuhan Majapahit-Pajajaran, kedua kerajaan besar di Jawa ini rupanya Raja-Raja terakhirnya penganut Tantrayana. Penganut Madhab ini pada perkembangannya melegalkan berhubungan intim secara bebas, foya-foya dan minum-minuman keras dalam puncak ritual keagamannya, melenceng jauh dari ajaran Induknya Hindu-Buda yang melarang tentang itu.

Rakyat Pulau Jawa yang kala itu dikenal sebagai pribadi anti kecabulan lebih memilih berpihak pada Demak dan Banten ketimbang pada Majapahit dan Pajajaran yang kedua rajanya berfaham cabul. Sehingga manakala Majapahit dan Pajajaran membutuhkan rakyatnya untuk menangkis serangan lawan, Rakyatnya justru malah bertepuk tangan mensyukuri lengsernya Raja-Raja mereka.

Bukti kongkrit bahwa para Raja-Raja terakhir Majapahit dan Pajajaran penganut Tantayana dapat dipahami dari Peninggalan Candi Sukuh bagi Majapahit, dan khabar dari Naskah Carita Parahyangan bagi Pajajaran.

Madhab Tantrayana yang berkembang di Nusantara khusunya Jawa adalah perpaduan dari agama Hindu-Siwa dan Buddha, meskipun madhab Tantrayana ini merupakan bagian dari Hindu dan Buda, akan tetapi madhab ini dikucilkan oleh kedua agama tersebut, bahkan dianggap sesat.

Tantrayana mengajarkan agar badan, perkataan, serta pikiran digiatkan oleh ritual, mantra, dan samadi.

Dalam Tantrayana Hindu, konsep Sakti Siwa mengakibatkan lahirnya kegiatan “hubungan intim” yang dianggap “suci” dan membawa manusia kepada “kebebasan jiwa” dalam upacara Tantra. Begitu pula dalam Tantrayana Buddha (Wajrayana), yang ditandai dengan adanya hubungan Dewi Tara dengan Dyani Buddha.

Tantrayana menganggap bahwa penciptaan alam semesta beserta isinya dilakukan oleh Unsur Asal melalui hubungan intim dengan istrinya. Dalam hubungan intim, unsur jantan disebut upaya mencapai kebenaran yang agung, sedangkan unsur wanita disebut prajna (kemahiran yang membebaskan).

Meskipun pada awalnya konsep hubungan itim itu dilaksanakan antara suami dan istri namun kemudian timbul “penyelewengan” sehingga berubah menjadi kebebasan untuk bersenggama antara pria dengan wanita, tidak peduli bukan suami istri. Dalam prakteknya ritual ini mereka melakukan di Ksetra atau lapangan tempat membakar mayat, sebelum mayat dibakar saat gelap bulan.

Ajaran Tantrayana ini makin menyimpang dengan adanya penggunaan minuman keras oleh para pengikutnya, sebagai penyimpangan dari konsep madya/mada. Minuman keras ini dimaksudkan untuk mempercepat “peleburan diri” dengan unsur asal.

Selain itu, mereka selalu mengutamakan makanan-makanan lezat dan mewah, sebagai penyimpangan dari konsep mamsa dan matsya, ajaran-ajaran ini jelas bertentangan dengan ajaran Buddha yang menolak minuman keras dan hidup berfoya-foya.

Bukti dari adanya ritual bersenggama secara bebas, dan minum-minuman keras dalam madhab ini dapat dijumpai dalam beberapa petikan mantra dalam kitab induk mereka yaitu Kali Mantra dan Maha Nirvana Tantra.

Dalam Kali Mantra disebutkan:
"Sadayam bhaamsaca miinam ca mudraa naithuna se vaca, Ete Pamca Makaaraa syu Mokshadaah Kaluyuge"
Terjamah:
"Mabuk, memakan daging, memakan ikan,melakukan sexualitas dan meditasi, akan menuntun kepada Moksha pada jaman Kaliyuga ini."
Dalam Maha Nirvana Tantra disebutkan:
“Pautvaa pitvaa punah pitvaa yaavat patati bhuutale, Punarutyaaya dyai potvaa punarjanma ga vidhate.”
Terjamah:
“Minum, teruslah minum hingga kamu terjerembab ke tanah. Lantas berdirilah kembali dan minum lagi hingga sesudah itu kamu akan terbebas dari punarjanma (kelahiran kembali) dan mencapai kesempurnaan. (Moksha).”
Ajaran Tantrayana baik dalam Hindu maupun Budha di Jawa telah berkembang lama, sudah ada sejak jaman Empu Sendok. Selain itu ajaran ini dalam sejarah Jawa juga rupanya sering membuat apes Kerajaan-Kerajaan yang raja-rajanya menganut Madhab Agama ini.

Tercatat bahwa Raja Kertanegara  (1268-1292) yang oleh Pararaton disebut Bhatara Siwa Buddha, yang mana Nagarakretagama menguraikan bahwa raja ini, karena telah menguasai ajaran Siwa dan Buddha, maka disebut telah terbebas dari segala dosa, bahkan pesta minuman keras adalah salah satu acara ritual agamanya. Bahkan ketika diserang tentara Jaya Katwang dari Kediri, Sang Raja tengah melakukan ritual Tantra bersama para menteri dan pendeta, dalam keadaan mabuk minuman. Serangan ini belakangan menyebabkan keruntuhan Singasari.

Tidak berbeda dengan kruntuhan Singsari, maka keruntuhan Majapahit pun salah satu sebabnya karena itu, Raja Majapahit pada periode akhir rupanya penganut ajaran Tantrayana, kekayaan pangan negara digunakan untuk kepentingan foya-foya ritual yang dianggapnya berguna sebagai bentuk penyatuan terhadap Dewa.

Bukti kongkrit dari kondisi di Majapahit yang para pembesar-pembesarnya penganut Tantrayana adalah dari peninggalan Candi Sukuh. Candi sukuh yang didalamnya berserakan pernak-pernik arca yang menampilkan adegan intim antara wanita dan pria.
Candi Sukuh
Candi ini jelas didirikan oleh Siapapun yang jelas beragama Hindu Tantrayana, dimana dalam ajarannya ritual puncak keagamannya mengajarkan "Sadayam bhaamsaca miinam ca mudraa naithuna se vaca, Ete Pamca Makaaraa syu Mokshadaah Kaluyuge"

Candi Sukuh Sendiri kini terletak di Desa Berjo, Karanganyar, didirikan pada tahun 1378 Saka atau 1456 Masehi, dimana waktu itu Rakyat Majapahit sudah muak melihat tingkah pola para Abdi Negara di Kerajaan mereka, tahun itu jika ditinjau dari sisi kesejarahan tepat 22 tahun sebelum Brawijaya V digulingkan oleh Girindra Wardhana Dyah Ranawijaya pada 1478 M.

Baca Juga: Rekayasa Politis Dibalik Perang Sudarma Wisuta

Tidak berbeda dengan Majapahit yang runtuh akibat moral para pembesarnya yang disebukan dengan pesta dan foya-foya yang dibalut dengan embel-embel keagamaan, maka demikian pula dengan Keruntuhan Kerajaan Pajajaran.

Raja Nila Kendra, Raja Ke V Pajajaran disebut juga sebagai Raja yang menganut ajaran Tantrayana, Raja ini dikabarkan dalam Naskah Carita Parahyangan sebagai Raja yang gemar mengadakan ritual-ritual Tantra yang didalamnya terdapat berbagai kesenangan, dari mulai hidangan enak, mabuk-mabukan dan hubungan intim secara bebas.

Nilakendara pada akhirnya dapat digulingkan oleh Kesultanan Banten, karena otak dan fikirannya sudah tidak lagi dapat digunakan dengan benar karena terlalu banyak berimanjinasi dengan hal-hal mistis, mabuk dan bersenang-bersenang. Nila Kendra sendiri akhir hayatnya teragis sebab ia wafat dalam pelarian, sementara Kerajaannya waktu itu telah direbut oleh Banten, Melihat rajanya yang tersingkir sepertinya Rakyat Pajajaran waktu itu justru bertepuk tangan mensyukuri kebebasannya.

Memahami hal itu, maka bilapun ajaran mabuk-mabukan, kebebeasan hubungan intim, berfoya-foya dalam ritual yang dibalut dengan alasan suci sekalipun akan dapat menyebabkan kehancuran sebuah negara. Raja dan para Pembesar Kerajaan yang terjerumus dalam pusaran ini tidak akan waras lagi untuk memikirkan rakyat dan negaranya, sehingga negara menjadi lemah dan rapuh. Dengan demikian maka sudah dipastikan keruntuhannya tinggal menunggu waktu saja.

Baca Juga: Ratu Nila Kendra, Raja Pajajaran Yang Tercatat Ngawur Dalam Memerintah


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search