Sejarah Kesultanan Kanoman Cirebon

- Desember 02, 2018
Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam artikel “Kerajaan Cirebon, Masa Pendirian, Kejayaan dan Kemundurannya” diketahui bahwa selepas Pangeran Mertawijaya dan Kertawijaya dibebaskan dari sekapan Mataram, Banten kemudian melantik kedua Pangeran tersebut menjadi Sultan Cirebon yang baru, akan tetapi karena keduanya diangkat menjadi Sultan maka sudah barang tentu Kerajaanpun terbelah menjadi dua.

Kerajaan itu kemudian dikenal dengan nama Kasultanan Kasepuhan dan Kanoman. Dalam pembahasan kali ini akan dibahas mengenai Sejarah Kasultanan Kanoman.

Baca Juga: Sejarah Kesultanan Kasepuhan Cirebon

Raja pertama Kesultanan Kanoman adalah Pangeran Kartawijaya, ia  membangun Keraton baru dalam masa-masa pendirian kesultanan ini, mengingat keraton lama Kesultanan Cirebon telah jatuh menjadi waris kakaknya yang menjadi Sultan di Kesultanan Kasepuhan, keraton Kanoman sendiri dibangun di bekas rumah Pangeran Cakrabuana.

Pada saat menjadi Sultan, Pangeran Kertawijaya mendapatkan gelar Sultan Anom I atau Sultan Anom Mohamad Badrudin. Keraton Kanoman terletak di jalan Lemah Wungkuk, tata letak keraton memanjang dari utara ke selatan dan menempati tanah seluas kira-kira 20.000 m2.

Tidak jauh berbeda dengan Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman juga dijadikan pusat pemerintahan serta tempat tinggal keluarga Sultan Anom I. Aktivitas politik, ekonomi dan kebudayaan berkembang disekitar lokasi keraton ini. Sultan Anom I memerintah Kesultanan Kanoman dari tahun 1677 hingga 1703 dan digantikan oleh putranya yaitu Sultan Raja Madureja Kadiruddin atau Sultan Anom II.

Sayangnya sumber informasi tentang masa pemerintahan Sultan Anom II sangatlah minim sehingga data informasipun masih sangat terbatas. Hal inipun terjadi pada masa pemerintahan Sultan Anom ke III yaitu Sultan Anom Alimuddin yang mengantikan Sultan Anom II dari tahun 1744 hingga 1798.

Sejalan dengan pembentukan keraton sebagai pusat pemerintahan, timbul konflik antara Sultan Anom I dengan Sultan Sepuh I mengenai kakuasaan atas Cirebon.

Masing-masing Sultan menginginkan daerah kekuasaan atas Cirebon serta ingin menjadi penguasa tertinggi di Cirebon. Hingga akhirnya Panembahan Cirebon atau Pangeran Wangsakerta juga menginginkan daerah kekuasaan di Cirebon.

Panembahan Cirebon menganggap meskipun dirinya hanya putra dari selir akan tetapi dirinya pantas berkuasa di Cirebon karena selama Panembahan Ratu II ditahan di Mataram, dialah yang menjalankan pemerintahan di Cirebon.

Konflik antar sultan tidak kunjung selesai, dan akhirnya situasi ini dimanfaatkan oleh VOC untuk menanamkan pengaruhnya di lingkungan keluarga keraton. VOC menjadi penengah dalam meredakan konflik tersebut dan akan terus berlangsung seperti itu untuk konflik-konflik antar sultan selanjutnya.

Sudah banyak kontrak yang harus disepakati oleh para sultan karena dari setiap konflik menghasilkan perjanjian antar sultan yang dimediasi oleh VOC.  Sebagai pihak mediator, VOC membuat isi perjanjianperjanjian yang hanya menguntungkan VOC dan harus disetujui oleh para sultan.

Adanya campur tangan VOC dalam keluarga keraton membuat kemegahan Cirebon kini terpuruk bersama kekuasaannya, berbeda sekali dengan masa raja sebelumnya (Sunan Gunung Jati).

Sultan kehilangan kekuasaannya sehingga bisa dikatakan bahwa sultan hanya simbol saja karena setiap keputusan yang diambil oleh sultan harus mendapatkan persetujuan dari VOC.  Meskipun demikian Kesultanan Kanoman tetap bertahan hingga Indonesia merdeka, walau kini kedudukannya hanya sebagai institusi penjaga budaya Cirebon saja.

Baca Juga: Para Raja di Kesultanan Kanoman Cirebon


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search