Formasi Burung Bayan Dalam Perang Cirebon Vs Rajagaluh

- Februari 12, 2019
Ketika Cirebon masih berbentuk desa/ketumenggungan, administrasi wilayah ini dikendalikan oleh Kerajaan Pajajaran yang diwakili Kerajaan bawahannya yang bernama Kerajaan Rajagaluh[1],  kerajaan bawahan itu mengendalikan Cirebon dari Palimanan. Yang menjadi penguasa di Palimanan[2] dan bertugas mengawasi Cirebon waktu itu adalah Arya Gumirincing.

Selepas Cirebon memerdekakan diri dari Pajajaran dan mendirikan Kesultanan Cirebon, maka bentrokan diantara kedua kerajaanpun pecah, bentrok Cirebon dengan Kerajaan Pajajaran bermula dari penentangan kemerdekaan Cirebon oleh Palimanan dan Rajagaluh.

Arya Gumirincing dari Palimanan tidak terima atas berdirinya Kesultanan Cirebon, sebab  bagi Arya Gumirincing, bagaimanapun Cirebon harus tetap tunduk dibawah Rajagaluh wakil Kerajaan Pajajaran di pantai utara bagian timur Pajajaran.

Mendapati hal tersebut Arya Gumuricing kemudian memproklamirkan perang pada Cirebon. Tantangan perang dari Palimanan ini kemudian membuat Cirebon bertindak, dibawah pasukan Arya Kuningan Cirebon kemudian menyerang Palimanan.

Dibawah pimpinan Arya Kuningan pasukan Cirebon berjuang habis-habisan untuk dapat mengalahkan Palimanan yang dipimpin langsung oleh Arya Gumirincing. Dalam pertempuran ini tentara Cirebon yang dikepalai orang-orang Kuningan itu rupanya dapat dipatahkan, sebagianya tewas sementara sebagain lainnya mundur meninggalkan tempat pertempuran, meskipun kalah akan tetapi Arya Kuningan selaku panglima tentara Cirebon dikisahkan selamat.

Kebeberhasilan Palimanan melalui Arya Gumirincing dalam mematahkan serangan Cirebon ini kemudian membuat penguasa Rajagaluh merasa yakin mampu menaklukan Cirebon dan mengabungkannya lagi dibawah kekuasaan Pajajaran. Oleh karena itu penguasa Rajagaluh yang kala itu dijabat oleh Prabu Cakraningrat mengutus patihnya yang bernama Arya Kiban untuk menyerang dan menaklukan Cirebon.

Dalam rangka menaklukan Cirebon secara total, Arya Kiban meminta bantuan kerajaan-kerajaan bawahan Pajajaran lain, diantara yang turut membantu Arya Kiban adalah Gempol, Talaga, Igel, Cianom, Sarakarsa, Sindangkasih dan Rajapolah.

Bersama para Panglima kerajaan bawahan Pajajaran lain, Arya Kiban menuju Cirebon untuk menaklukannya, serangan awal yang direncanakan Arya Kiban adalah dengan menyerang pusat pemerintahan Cirebon kedua selain Istana Pakungwati, yaitu menyerang Gunung Jati.
Salah Satu Pintu Gerbang Keraton Pakungwati Cirebon
Dengan pasukan yang besar, Arya Kiban menyerbu Gunung Jati, akan tetapi dalam serbuan di Gunung Jati itu, tentara Cirebon tidak meladeninya, Tentara Cirebon diperintahkan oleh Sunan Gunung Jati untuk mundur ke Kota Raja menghindari pasukan Rajagaluh dan sekutunya.

Merasa pasukan Cirebon lari kocar-kacir menghadapi Rajagaluh, Arya Kiban menjadi bertambah-tambah yakin, jika Cirebon sebentar lagi akan sanggup ia taklukan. Arya Kiban beserta sekutunya kemudian menuju pusat kerajaan Cirebon untuk segera menaklukannya.

Barulah, ketika Arya Kiban bersama pasukannya masuk ke dalam wilayah kota raja, perang  yang sesunguhnya terjadi, perang penentuan kalah dan menang. Jika Cirebon kalah maka sudah tentu Kesultanan Cirebon dapat dibubarkan, akan tetapi sebaliknya jika Cirebon yang menang maka Rajagaluh akan menjadi taklukannya.

Ketika kedua belah pasukan berhadap-hadapan, dan sebelum Gong tanda bermulanya perang dimulai, Pasukan Cirebon mengatur formasi perang. Formasi perang yang digunakan tentara Cirebon adalah formasi  Burung Bayan[3].
Ilustrasi Formasi Perang Burung Bayan
Dalam formasi itu, Arya Pandalegan ditempatkan pada bagian paruh, Gedeng Kiring ditempatkan pada bagain kepala, sementara bagain sayap kanan dan kiri ditempati oleh Patih Lembu Sasrah dan Tuan Bhumi, Patih Keling sebagai badannya, adapun bagain ekornya ditempati oleh Arya Tandhumuni.

Mengamati Cirebon menggunakan formasi Burung Bayan, Arya Kiban rupanya memerintahkan pasukannya untuk menggunakan formasi perang yang sama. Shangyang Gempol ditempatkan dibagain paruh, Shangyang Igel sebagai Kepalnya, Dalem Rajapaloh sebagai sayap kanan, Sunan Talaga sebagai sayap kiri, Arya Kiban sebagai badannya, sementara Dalem Cianom sebagai ekornya.

Pada saat Gong tanda perang dibunyikan, kedua belah pihak pasukan kemudan saling maju kemedan perang, akan tetapi baru saja perang itu dimulai, tiba-tiba pasukan Cirebon merubah formasi perangnya. Formasi perang Burung Bayan yang sudah diterapkan dibalik posisinya. Yang didepan menjadi ekor, sementara yang dahulunya menjadi ekor berubah menjadi kepalanya.

Perubahan formasi perang pasukan Cirebon secara mendadak itu membuat bingung pasukan Rajagaluh, Arya Kiban terkadang salah perintah dan cenderung gegabah karena kebingungan, sehingga perang yang berkecamuk dengan dahsyat itu membawa psukan Rajagalauh dalam keterpurukan.

Pada saat pasukan Rajagaluh sedang terdesak, pasukan Cirebon mendapatkan tenaga baru, bantuan datang dari pasukan pimpinan Arya Kuningan dan Nyimas Gandasari yang baru saja samapai ke Cirebon selepas kekalahan mereka  pada perang di Palimanan, perang pun kemudian meletus kembali dengan bertambah-tambah dahsyat.

Dalam perang yang menentukan itu, akhirnya pasukan Rajagaluh dapat ditaklukan, Arya Kiban, Dalem Sindangkasih,Sunan Talaga, Dalem Cianom dan Dalaem Sarakarsa dalam peristiwa ini dikisahkan terbunuh[4], adapun Shangyang Gempol dan Arya Gumirincing tertangkap dan menyerahkan diri, sementara Shangyang Igel berhasil melarikan diri  bersama pasukannya, meskipun ia sendiri terluka parah karena sabetan pedang.

Selepas kekalahan pasukan Rajagaluh dalam perang yang menentukan hidup dan matinya Kesultanan Cirebon itu, Rajagaluh kemudian masuk dalam wilayah kekuasaan Cirebon, selanjutnya Cirebon kemudian menjadikan Dalem Rajagaluh (Cakra Ningrat) sebagai tawanan[5]. Setelah ini penguasa Rajagaluh kemudian masuk Islam, dan tidak lagi mengangu dakwah Islam yang dilakukan oleh orang-orang Cirebon di wilayah kekuasaannya.

Catatan Kaki
[1] Rajagaluh kini merupakan nama Kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Majalengka Jawa Barat
[2] Palimanan adalah nama Kecamatan yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Cirebon
[3] Burung Bayan dalah jenis burung Nuri (Eclectus roratus), yaitu burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 43cm, dari salah satu genus burung paruh-bengkok Eclectus. Burung ini sangat berbeda dengan burung paruh-bengkok lainnya.
[4] Dalam Naskah Mertasinga Arya Kiban dalam perang ini dikisahkan menghilang ke langit menjadi siluman (bahasa kiasan untuk menceritakan kematian seorang pimpinan musuh agar terlihat terhormat), Dalem Sindangkasih terbunuh karena badanya terkoyak peluru, Sunan Talaga dan Dalem Sarakarsa terbunuh karena sabetan pedang, Dalem Cianom terbunuh karena tertembak.
[5] Dalam catatan naskah-naskah Cirebon abad 15-19 Istilah "Dalem" digunakan untuk menyebut pangkat raja daerah di wilayah Pajajaran, kedudukanya sama seperti Adipati di Jawa Timur dan Tengah. Selain disebut dengan "Dalem" Raja-raja bawahan ini kadang juga disebut Prabu/Pucukumun.

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search