Lahirnya Syekh Siti Jenar

- Februari 04, 2020
Syekh Siti Jenar kisahnya disebutkan dalam banyak naskah kalsik, termasuk soal kelahirannya. Diantara beberapa naskah yang membahas tentang kelahiran dan sal-usul Syekh Siti Jenar adalah Babad Demak, Babad Tanah Jawi, Serat Walisanga, Naskah Negara Kertabumi, Pustaka Rajya-Rajyi Bumi Nusantara dan lain sebagainya.

Lahirnya Syekh Siti Jenar percis sama dengan kisah kematiannya, yaitu masih kontroversi, antar satu naskah yang dijadikan sumber sejarah saling bertentangan, meskipun demikian para Sejarawan kebanyakan sepakat bahwa Syekh Siti Jenar lahir di Cirebon (Japura). Bahkan masa kecil hingga dewasa dihabiskan di Cirebon.

Syekh Siti Jenar mempunyai nama asli Abdul Jalil, lahir pada Tahun 1426 Masehi, ayahnya bernama Syekh Datuk Shaleh. Pada Tahun 1425 Syekh Datuk Shaleh seorang ualama asal Malaka bersama istrinya datang dan menetap di Cirebon, waktu itu istri Syekh Datuk Shaleh sedang mengandung Abdul Jalil.

Syekh Datuk Shaleh masih saudara dengan Syekh Datuk Kahfi (Syekh Nurjati) keduanya merupakan sepupupu, sama-sama lahir dari jalur ulama Syekh Datuk Ahmad ulama kenamaan asal Malaka. Baik Datuk Shaleh maupun Syekh Datuk Kahfi datang ke Cirebon mempunyai misi yang sama, yaitu mendakwahkan Islam di Giri Amparan Jati atau Gunung Jati.

Tidak seperti saudaranya yang berumur panjang, Syekh Datuk Shaleh wafat mana kala ia baru satu tahun berada d Cirebon, oleh karena itu selepas istrinya melahirkan Abdul Jalil, anak tersebut diasuh oleh sudaranya dan di besarkan di Giri Amparan Jati.

Kecerdasan Siti Jenar telah tampak sejak kecil, oleh karena itu, Siti Jenar akhirnya diasuh oleh Ki Danusela yang tak lain merupakan salah satu murid Syekh Datuk Kahfi. Kisah lain menyatakan bahwa selepas meninggalnya Ki Danusela, Siti Jenar kemudian diasuh oleh Pangeran Cakrabuana (Walangsungsang) yang tak lain merupakan menantu dari Ki Danusela.

Ketika Pangeran Cakrabuana menjadi Penguasa Cirebon dan Siti Jenar sudah tumbuh menjadi seorang Remaja, ia dianugerahi tanah Perdikan (Tanah Bebas Pajak) oleh Pangeran Cakrabuana, tanah tersebut terletak di Tenggara Pusat Pemerintahan Caruban, dikemudian hari tanah perdikan tersebut dikenal dengan nama Padukuhan Lemah Abang, wilayahnya masuk kedalam wilayah Japura.

Baca Juga: Syekh Siti Jenar Menuntut Ilmu Ke Bagdad

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search