Kematian Arya Damar serta Kaitanya dengan Makam 25 Indramayu

- Maret 28, 2017
Legenda Banten menceritakan bahwa di Majapahit terdapat wanita jelmaan raksasa yang dijadikan selir oleh raja Majapahit. Ketika wanita tersebut mengandung, makan daging mentah dan kemudian berubah wujud ke bentuk semula. Karena takut ketahuan wanita tersebut melarikan diri dan melahirkan anak diberi nama Ki Dilah. Setelah dewasa Ki Dilah ke Majapahit dan dapat diterima raja. Ki Dilah diberi nama Arya Damar dan kemudian diangkat sebagai wakil raja di Palembang.

Babad Tanah Jawi menceritakan bahwa Raja Majapahit menghadiahkan kepada Arya Damar salah satu selirnya, seorang putri Cina yang dalam keadaan hamil. Di Palembang putri Cina tersebut melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Raden Patah. Sedangkan dengan Arya Damar juga mempunyai anak laki-laki bernama Raden Husin (Djajadiningrat, 1983: 265 – 266).

Cerita tentang asal-usul Raden Patah menurut Babad Demak juga berkaitan dengan Arya Damar. Diceritakan bahwa Arya Damar adalah anak angkat Brawijaya yang ditugaskan sebagai adipati di Palembang. Arya Damar selain diberi jabatan juga diberi putri Cina untuk diperistri. Putri Cina tersebut adalah salah satu selir Brawijaya. Ketika mendapatkan putri Cina dalam keadaan mengandung anak Brawijaya. Di Palembang putri Cina melahirkan anak diberi nama Raden Patah (Suwaji, 1981: 14 – 38).

Dari berbagai sumber yang ada, dapat ditarik hipotesis Arya Damar juga bernama Arya Dillah, seorang kerabat dekat (anak atau sepupu) Raja Majapahit, yang dipercaya menjadi wakil Majapahit (adipati) di Palembang. Ia juga ayah (angkat) Raden Patah. Baik Sajarah Banten maupun Babad Tanah Jawi tidak menceritakan kematian Arya (Ki) Dilah.

Yang sekarang menjadi pembahasan selanjutnya adalah apa hubungannya dengan situs makam pangeran 25 yang berada di Indramayu?

Jawabnya demikian;

Menurut Babad Dermayu (Dasuki, 1977), momentum penting sejarah Indramayu yaitu tentang kedatangan Wiralodra. Tokoh ini disebutkan sebagai putra ketiga Tumenggung Gagak Singalodra dari daerah Banyuurip, Bagelen, Jawa Tengah. Kedatangan Wiralodra ke Indramayu disertai Ki Tinggil. Wiralodra ketika datang di tepi sungai Cimanuk memilih lokasi untuk membuka hutan di sebelah barat sungai.

Daerah tersebut akhirnya berkembang menjadi perkampungan. Suatu saat Wiralodra kembali ke Bagelen, Ki Tinggil tetap tinggal di Cimanuk. Sepeninggal Wiralodra kemudian datang Endang Darma untuk bermukim di kampung tersebut. Di samping bercocok tanam Endang Darma mengajarkan ilmu kanuragan kepada masyarakat.

Keberadaan Endang Darma di Cimanuk didengar Pangeran Guru di Palembang. Bersama 24 muridnya berangkat ke Cimanuk dengan tujuan untuk menguji kesaktian Endang Darma. Tetapi di Cimanuk keduapuluh empat murid Pangeran Guru beserta Pangeran Guru dapat dikalahkan Endang Darma Hingga tewas dan dimakamkan di Indramayu.

Menangapi peristiwa tersebut Ki Tinggil melaporkannya kepada Wiralodra. Dengan disertai beberapa saudaranya, Wiralodra kemudian kembali ke Cimanuk. Setelah sampai, bertemu dengan Endang Darma, Wiralodra menanyakan perihal peristiwa tentang Pangeran Guru.

Endang Darma mohon maaf kepada Wiralodra sambil menyatakan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dihindari karena Pangeran Guru terus memaksa. Mendengar jawaban tersebut Wiralodra mengajak untuk menguji kesaktian dengan catatan bila Wiralodra kalah dia menjadi pembantu Endang Darma.

Sebaliknya bila Endang Darma kalah, maka ia menjadi istri Wiralodra. Akhirnya Endang Darma dapat dikalahkan. Namun Babad Dermayu tidak memberitakan tentang perkawinan antara Wiralodra dengan Endang Darma. Setelah berhasil mengalahkan Endang Darma.

Wiralodra kemudian mengganti nama Cimanuk dengan Dermayu. Penggantian nama ini merupakan permintaan Endang Darma untuk mengenang namanya yang telah turut andil dalam membangun pemukiman di Cimanuk. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1527.

Mengenai tokoh Endang Darma, Babad Dermayu menerangkan bahwa Endang Darma mempunyai nama lain Ratna Gumilang, Ratu Sakti, dan Mas Ratu Gandasari. Purwaka Caruban Nagari menyebutkan bahwa Mas Ratu Gandasari adalah adik Fadlillah Khan, Putra Maulana Mahdlar Ibrahim bin Malik Ibrahim. Dengan demikian Endang Darma adalah cucu Maulana Malik Ibrahim.

Sedangkan mengenai Pangeran Guru, Babad Dermayu menerangkan bahwa, dia adalah orang Jawa yang bermukim di Palembang. Pangeran Guru mempunyai nama lain Arya Dilah, putra Wikramawardhana, raja Majapahit yang ditugaskan sebagai gubernur di Palembang.

Berlandasakan pemaparan sebelumnya baik yang termaktub dalam sejarah banten maupun babad tanah Jawi jelas dikatakan bahwa Arya Damar mempunyai nama lain sebagai Arya dilah atau Ki Dillah. Baik dalam sejarah Banten maupun babad tanah jawi tidak dijelaskan bagaimana Arya Damar meninggal hanya Babad Dermayu yang menceritakan kematian Pangeran Guru (Arya Dilah) karena perang melawan Endang Darma.

Makam Pangeran 25 Dalam Aspek Arkeologis

Situs Makam Pangeran 25  (Selawe) terdapat di Desa Dermayu Blok tengah, selain Makam 25 di desa Dermayu tersebut terdapat masjid Pusaka Dermayu yang dhulu merupakan masjid Awal atau masjid Pemerintahan Indramayu, sebelum pusat pemerintahan Indramayu di alihkan pada masa Hindia Belanda, Sekitar abad 18.


 Komplek Makam 25 Indramayu
Masjid Pusaka Dermayu Dibangun abad ke 15. Telah Dipugar
Komplek makam Pangeran Selawe di Indramayu yang terlihat sekarang sudah mengalami beberapa kalipemugaran. Tinggalan arkeologis yang tersisa hanya nisan kubur 23. Kubur ini bernisan ganda. Nisan bagian dalam puncaknya runcing berhias lingkaran. Nisan bagian luar berbentuk dasar empat persegi panjang. Keadaan nisan pernah patah, sekarang sudah disambung dengan bahan semen. Pada bagian puncak berbentuk kurawal. Hiasan sulur sangat dominan. Pada bagian atas terdapat hiasan pola geometris bermotif matahari dengan ujung sinar berjumlah delapan.
I dari Nisan Makam 25 Indramayu
Lambang Surya Majapahit Dalam Nisan
Di Indonesia, nisan kubur ditampilkan dalam berbagai bentuk dan ragam hias yang berbeda-beda. Bentuk nisan tersebut biasanya merupakan lanjutan dari masa-masa sebelumnya seperti bentuk phallus, meru, lingga dengan pola hias beraneka ragam (Nurhakim, 1990: 78). Bentuk-bentuk nisan makam masa Islam di Indonesia, menurut Hasan M. Ambary (1984) berdasarkan pusat persebarannya dapat dibagi dalam empat tipe yaitu Aceh, Demak-Troloyo, Bugis-Makasar, dan lokal.

Nisan tipe Aceh didasarkan pada nisan makam Malik-as-Shaleh yang merupakan makam paling tua di daerah tersebut. Nisan tipe ini tidak hanya terdapat di Aceh tetapi tersebar hingga di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Semenanjung Malaya, Lampung, serta Banten dan Jakarta. Nisan tipe Demak-Troloyo didasarkan pada bentuk nisan Raden Patah di Demak dan beberapa makam kuna di Troloyo.

Bentuk nisan tipe Demak-Troloyo tersebar di Pantai Utara Jawa dan daerah pedalaman, Palembang, Banjarmasin dan Lombok. Nisan tipe Bugis-Makasar didasarkan pada makam raja-raja Goa dan Bone di Tamalate, Soppeng, dan Watang Lamuru. Nisan tipe demikian di luar Sulawesi Selatan dapat dijumpai di Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, dan Bima. Tipe nisan lokal merupakan bentuk nisan yang hanya terdapat di daerah tertentu. Sebagai contoh misalnya nisan yang terdapat di Ternate-Tidore, Jeneponto, dan Barus.

Berlandaskan pembagian di atas, daerah Indramayu termasuk dalam persebaran nisan tipe Demak-Troloyo. Nisan tipe Demak-Troloyo berdasarkan bentuk dan ragam hiasnya dapat dibagi dalam tiga subtipe (Nurhakim, 1990: 80 – 81).
  1. Subtipe 1, berbentuk dasar segi empat pipih, kepala nisan berundak berbentuk mahkota. Hiasan yang digunakan berupa hiasan tumpal pada bagian badan dan kaki nisan.
  2. Subtipe 2, berbentuk dasar bulat, kepala nisan lengkung menyatu dengan badan nisan makin ke bawah makin kecil. Hiasan yang digunakan berupa pelipit pada bagian kaki nisan.
  3. Subtipe 3, berbentuk dasar pipih, kepala nisan berbentuk seperti kurawal menyerupai lengkung-lengkung kala-makara. Hiasan yang digunakan berupa hiasan pilin dan flora pada bagian badan nisan, sedangkan pada bagian bawah nisan terdapat hiasan tumpal yang digayakan. 

Dengan demikian nisan yang terdapat pada kubur 23 komplek makam Pangeran Selawe merupakan nisan subtipe 3. Hal menarik lainnya yang terdapat pada nisan tersebut adalah adanya motif hiasan matahari. Mengenai motif hias ini pernah dibahas Suwedi Montana (1985).

Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa motif hias tersebut sering dijumpai pada beberapa kepurbakalaan yang berhubungan dengan tokoh penyebar Islam abad XV – XVIII.

Nisan tertua yang menggunakan motif hias matahari dijumpai di kelompok makam tujuh, Troloyo, Trowulan. Angka tahun tertua yang terdapat pada nisan kelompok makam tujuh adalah 1298 Saka dan yang termuda tahun 1397 Saka. Selanjutnya para arkeolog menamakan motif hias tersebut Matahari Majapahit atau Surya Majapahit.

Makna motif hias tersebut adalah semacam pengakuan atas regalia Majapahit, mengingat tokoh-tokoh sentral yang berhubungan dengan motif hias tersebut berada dalam satu kurun waktu masa akhir Majapahit. Selain itu juga merupakan lambang supranatural, kesaktian atau merupakan magico religious dari tokoh sentral atau pun para kerabatnya.

Kesimpulan

Persoalan mengenai Pangeran Guru sebagai tokoh sentral Pangeran Selawe dalam kaitannya dengan Palembang dan Majapahit ternyata memerlukan pencermatan. Menurut kepercayaan lokal, Pangeran Guru adalah Arya Dilah, atau Arya Damar yang merupakan kerabat anak raja Majapahit. Persoalannya sekarang raja Majapahit siapa yang dimaksud. Menurut Babad Dermayu adalah Wikramawardhana.

Berdasarkan beberapa sumber sejarah Wikramawardhana merupakan pengganti Hayam Wuruk yang memerintah pada tahun 1389 hingga 1400. Sedangkan menurut Babad Demak raja dimaksud adalah Brawijaya yang memerintah pada tahun 1468 hingga 1478 (Sumadio, 1990: 440 – 450).

Bila angka tahun ini dikaitkan dengan peristiwa terbunuhnya Pangeran Guru oleh Endang Darma yang menurut Babad Dermayu terjadi pada tahun 1527 maka raja Majapahit yang dimaksud kemungkinan besar adalah Brawijaya. Seandainya Pangeran Guru atau Arya Dilah lahir ketika Brawijaya bertahta, maka pada saat terjadi peristiwa peperangan dengan Endang Darma berumur antara 49 hingga 59 tahun.

Tahun peristiwa tersebut berada pada kurun waktu awal masa Islam di mana Majapahit mulai mengalami masa kemunduran. Beberapa situs yang ada di Indramayu banyak yang menunjukkan berasal dari masa awal Islam misalnya makam Syekh Datuk Khapi di Pabean Ilir, situs Paoman, dan situs Stana Bojong Dermayu. Mencermati situasi seperti ini, wajar bila Tome Pires menerangkan bahwa di Indramayu sudah banyak masyarakat muslim tetapi syahbandarnya masih kafir. Karena pengaruh penguasa sebelum Islam masih belum lepas dari penguasa sebelumnya.

Mengenai keberadaan komplek makam Pangeran Selawe juga terdapat persoalan. Babad Dermayu menyebutkan bahwa Pangeran Guru beserta pengikutnya yang berjumlah 24 semuanya mati terbunuh oleh Endang Darma. Namun pada komplek makam Pangeran Selawe, kubur nomor 2 dipercaya sebagai makam Endang Darma. Mengenai hal ini mungkin sudah menjadi suatu khasanah tersendiri bagi Indramayu.

Di situs Pabean Ilir terdapat makam Syekh Datuk Khapi. Sementara itu di Stana Bojong Dermayu, desa Bojongsari juga terdapat makam Syekh datuk Khapi. Selain itu di Desa Paoman dapat dijumpai makam para walisanga. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komplek makam Pangeran Selawe sebenarnya bukan makam dalam arti kuburan tetapi merupakan makam dalam arti petilasan.

Dengan demikian kekalahan Pangeran Guru beserta pengikutnya bukan berarti kematian secara fisik. Dalam sumber yang lain pun tidak diceritakan di mana Pangeran Guru atau Arya Dilah atau Arya Damar meninggal.

Persoalan antara Indramayu dengan Palembang semakin terang. Pangeran Guru yang juga bernama Arya Dilah atau Arya Damar adalah putra raja Brawijaya, juga merupakan wakil raja Majapahit di Palembang. Kaitannya dengan Indramayu berkenaan dengan masalah politik ketika itu, yaitu tidak berkenan bila Indramayu berkembang sebagai kekuatan politik yang menjadi saingan Majapahit pada masa awal Islam.

Keterkaitan ini ditunjukkan pada satu-satunya nisan yang terdapat di komplek makam Pangeran Selawe yang menunjukkan adanya motif hias Surya Majapahit. Motif ini merupakan lambang regalia Majaphit. Dengan demikian antara Babad Dermayu dengan bukti arkeologis yang terdapat di komplek makam tersebut terdapat kesesuaian.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search