Sejarah Pendirian Cirebon

- Maret 31, 2017
Sebelum lahirnya Cirebon sebagai kota seperti saat ini, Cirebon adalah sebuah pedukuhan yang berkembang menjadi negeri kemudian menjadi sebuah kerajaan. Kerajaan Cirebon yang saat ini merupakan bagian dari wilayah administratif Provinsi Jawa Barat terletak diujung timur Pantai Utara Jawa Barat dan berbatasan dengan wilayah administratif Provinsi Jawa Tengah.

Batas wilayahnya adalah sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Brebes, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kuningan, sebelah barat dengan Kabupaten Majalengka, dan sebelah utara dengan Kabupaten Indramayu.

Sebutan Negeri Caruban atau Cerbon itu adalah menurut nama ibukotanya, ialah Caruban yang berasal dari istilah “Sarumban” berarti pusat tempat percampuran penduduk.

Hal ini karena Letak Cirebon yang merupakan kota pelabuhan yang sejak abad XV M sudah ramai sebagai jalur perdagangan internasional. Kebanyakan para pedagang biasanya berlabuh untuk kemudian menunggu musim berlayar kembali hingga membentuk koloni dan lama-kelamaan membaur dengan pribumi.

Sebelum berdirinya kekuasaan politik Islam dibawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati, wilayah Cirebon dapat dikelompokkan atas dua daerah yaitu daerah pesisir disebut dengan nama Cirebon Larang dan daerah pedalaman yang disebut Cirebon Girang.

Cirebon Larang adalah sebuah daerah bernama Dukuh Pesambangan dan Cirebon Girang adalah Lemah Wungkuk.

Dari Cirebon Larang Larang/Dukuh Pesambangan inilah perdagangan melalui jalur laut berlangsung dan menjadi jalur masuknya Islam di Cirebon.

Cirebon Larang mempunyai pelabuhan yang sudah ramai dan mempunyai mercusuar untuk memberi petunjuk tanda berlabuh kepada perahu-perahu layar yang singgah dipelabuhan yang disebut Muara Jati (sekarang disebut Alas Konda)


Kebanyakan pedagang ini adalah pedagang Islam yang singgah dan menetap di Cirebon. Pedagang-pedagang yang menetap membangun daerah komunitas Islam di sekitar pelabuhan Muara Jati.

Pada tahun 1302 AJ (Anno Jawa)/1389 M, dipantai Pulau Jawa yang sekarang disebut Cirebon, ada tiga daerah otonom bawahan kerajaan Pajajaran yang diketuai oleh Mangkubumi yaitu Singapura, Pesambangan, dan Japura.

Setiap daerah memiliki pemimpin sendiri, Singapura/Mertasinga dikepalai oleh Mangkubumi Singapura, Pesambangan dikepalai Ki Ageng Jumajan Jati, dan Japura dikepalai Ki Ageng Japura. Dari ketiga daerah otonom ini, salah satunya adalah Dukuh Pesambangan yang dalam perkembangannya berubah menjadi Cirebon.

Cirebon pada awalnya adalah sebuah daerah yang bernama Tegal Alang-Alang yang kemudian disebut Lemah Wungkuk dan setelah dibangun oleh Pangeran Walangsungsang diubah namanya menjadi Caruban.

Cirebon pada awalnya adalah sebuah daerah yang bernama Tegal Alang-Alang yang kemudian disebut Lemah Wungkuk dan setelah dibangun oleh Pangeran Walangsungsang diubah namanya menjadi Caruban.

Nama Caruban sendiri terbentuk karena diwilayah Cirebon dihuni oleh beragam masyarakat. Sebutan lain Cirebon adalah Caruban Larang. Pada perkembangannya Caruban berubah menjadi Cirebon karena kebiasaan masyarakatnya sebagai nelayan yang membuat terasi udang dan petis, masakan berbahan dasar air rebusan udang (cai rebon).

Menurut Kitab Purwaka Caruban Nagari, Cirebon dulunya bernama Dukuh Caruban. Dukuh Caruban adalah dukuh yang dibangun oleh putra mahkota Pajajaran, Pangeran Cakrabuana/Raden Walangsungsang yang dibantu oleh adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Indang Geulis. Pangeran Cakrabuana membuka pedukuhan atas perintah gurunya, Syekh Nurul Jati/Syekh Datuk Kahfi.

Pada tanggal 1 Sura tahun 1358 AJ/1445 M Pangeran Cakrabuana membuka lahan di daerah Tegal Alang-Alang Pedukuhan yang dibuka oleh Pangeran Walangsungsang dikenal dengan nama Lemah Wungkuk. Pedukuhan ini sebenarnya telah dihuni oleh seorang nelayan bernama Ki Gedheng Alang-Alang/Ki Danusela yang kemudian menjadi Kuwu Cerbon pertama.

Lama-kelamaan dukuh ini berkembang dan ramai dikunjungi para pedagang dan berubah nama menjadi Caruban. Syekh Datuk Kahfi juga memberi julukan pada Pangeran Cakrabuana dengan nama Ki Somadullah. Ki Somadullah ini kemudian menggantikan Kuwu Cerbon pertama, Ki Gedeng Alang-Alang sebagai Kuwu Cerbon kedua dan membangun Keraton Pakungwati dengan gelar Sri Mangana.

Perkembangan Cirebon sebenarnya melalui tahap yang panjang hingga memasuki era Islam. Sejak awal masehi, mulai berkembang perdagangan internasional. Perdagangan internasional yang terjadi diberbagai belahan dunia berdampak pula bagi daratan Nusantara. Pengaruh Hindu-Budha lebih dahulu masuk dan memengaruhi masyarakat Nusantara.
Baca Juga : Kerajaan Cirebon, Masa Pendirian, Kejayaan dan Kemundurannya
Termasuk di Cirebon, di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh pengaruh Budha-Hindu sangat melekat pada kehidupan masyarakatnya. Pada tahun 1475-1482 M, kedudukan wilayah Cirebon berada di bawah kekuasaan Prabu Anggalarang (Tohaan) di Galuh.

Prabu Anggalarang adalah ayah dari Prabu Siliwangi yang kemudian menjadi Raja Pajajaran. Ketika Prabu Siliwangi berkuasa, daerah Cirebon mulai ramai didatangi para pedagang dari luar Nusantara. Sekitar abad ke XV M, Pelabuhan Cirebon sudah banyak didatangi pedagang muslim.

Seperti yang dikatakan Tome Pires bahwa Kerajaan Sunda Pajajaran melarang pedagang muslim terlalu banyak masuk Pembatasan terhadap masuknya pedagang muslim ke Cirebon tidak terlalu berjalan lancar, karena pada tahun 1531 sudah banyak orang-orang muslim yang bertempat tinggal di Cirebon.

Hingga pada abad ke XV Cirebon berubah menjadi sebuah Kerajaan Islam yang berdaulat di Nusantara. Menurut sumber dari manuskrip Babad Cirebon, Purwaka Caruban Nagari, dan Negara Kertabhumi pendiri Kerajaan Cirebon adalah Sunan Gunung Jati, seorang tokoh Islam yang dikenal menjadi salah satu anggota dari Walisongo. 

Daftar Bacaan

  1. Ekajati, Masyarakat Jawa Barat dari Masa Pra-Sejarah Sampai Masa Penyebaran Islam. (Jakarta: Gramedia, 1975)
  2. G. F. Pijper, Penelitian Tentang Agama Islam di Indonesia 1930-1950. (Jakarta: UI Press, 1992)
  3. N. J. Krom, Zaman Hindu. terj. Arif Effendi, (Jakarta: Pembangunan, 1954)
  4. Uka Tjandrasasmita, Sepintas Mengenai Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa. (Bandung: Proyek Pelita Pembinaan Kepurbakalaan, 1979)
  5. Proyek Penulisan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Sejarah Daerah Jawa Barat. (Jakarta: Depdikbud, 1978)
  6. Zaenal Masduqi, Cirebon Dari Kota Tradisonal Ke Kota Kolonial. (Cirebon: Nurjati Press, 2011)
  7. Susanto Zuhdi, Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra (Kumpulan Makalah Diskusi Ilmiah). (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997)
  8. P. S. Sulendraningrat, Sejarah Cirebon. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978)
  9. Aria Carbon, Purwaka Caruban Nagari, terj. P. S. Sulendraningrat, (Jakarta: Bhratara, 1972)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search