2 Alasan Cirebon Layak Disebut Pewaris Seni Arsitektur Majapahit

- April 06, 2017
Meskipun Cirebon berada di Bekas Wilayah Pajajaran yang tentunya bukan bawahan Majapahit, akan tetapi ternyata pengaruh Majapahit di Cirebon sangat besar dan bahkan masih terlihat hingga hari ini, khusunya dalam bidang arsitektur atau seni/bentuk/pembuatan bangunan.


Bentuk arsitektur Majapahit sendiri bisa dilacak dari peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit yang sekarang masih terawat, bentuk peninggalan tersebut penulis bagi kedalam dua kelompok, yaitu peninggalan naskah yang menceritakan model arsitektur Ibukota kerajaan itu serta bentuk bangunan peninggalan kerajaan yang masih wujud hingga hari ini. 
Arsitektur Majapahit-Cirebon

Naskah (Negara Kertagama)

Keraton Majapahit dikelilingi tembok bata merah yang tinggi dan tebal. Di dekatnya terdapat pos tempat para punggawa berjaga. Gerbang utama menuju keraton (kompleks istana) terletak di sisi utara tembok, berupa gapura agung dengan pintu besar terbuat dari besi berukir. 

Di depan gapura utara terdapat bangunan panjang tempat rapat tahunan para pejabat negara, sebuah pasar, serta sebuah persimpangan jalan yang disucikan. Masuk ke dalam kompleks melalui gapura utara terdapat lapangan yang dikelilingi bangunan suci keagamaan. Pada sisi barat lapangan ini terdapat pendopo yang dikelilingi kanal dan kolam tempat orang mandi. 

Pada ujung selatan lapangan ini terdapat jajaran rumah yang dibangun di atas teras-teras berundak, rumah-rumah ini adalah tempat tinggal para abdi dalem keraton. Sebuah gerbang lain menuju ke lapangan ketiga yang dipenuhi bangunan dan balairung agung. 

Bangunan ini adalah ruang tunggu bagi para tamu yang akan menghadap raja. Kompleks istana tempat tinggal raja terletak di sisi timur lapangan ini, berupa beberapa paviliun atau pendopo yang dibangun di atas landasan bata berukir, dengan tiang kayu besar yang diukir sangat halus dan atap yang dihiasi ornamen dari tanah liat. 


Di luar istana terdapat kompleks tempat tinggal pendeta Shiwa, bhiksu Buddha, anggota keluarga kerajaan, serta pejabat dan ningrat (bangsawan). Lebih jauh lagi ke luar, dipisahkan oleh lapangan yang luas, terdapat banyak kompleks bangunan kerajaan lainnya, termasuk salah satunya kediaman Mahapatih Gajah Mada.

Dari kabar yang disampaikan Prapanca, maka diketahui gambaran bentuk arsitektur bangunan di Mjapahit adalah:
  1. Tedapat Pintu Gerbang
  2. Tembok yang mengelilingi Kota Raja yang terbuat dari bata merah tebal, tinggi
  3. Alun-alun Kota
  4. Kanal Kota (kalen)
  5. Di Komplek Istana terdapat pendopo untuk tamu sebelum bertemu raja
  6. Ukiran pendopo indah, atap terbuat dari daun atau tanah
Peninggalan Arsitekur Majapahit 
Peninggalan dibekas reruntuhan Ibukota Majapahit yang masih dilihat hingga kini:
1. Gapura. 2 Pemandian dan 3. Danau Buatan Jaman Majapahit (Trowulan)
Setelah sekalian pembaca mendapatkan informasi seputar bentuk  aritektur Majapahit sebgaimana di atas, tentunya selanjutnya barulah penulis buktikan jika Cirebon memang benar-benar pewaris aritektur Majapahit, demikian bukti alasan yang dijanjikan:


Alasan ke I
Alasan pertama yang mendukung bahwa Cirebon adalah pewaris Arsitekur Majapahit adalah, karena disebutkan dalam sejarah/babad Cirebon bahwa dalam upaya melakukan pembangunan di Cirebon, Cirebon mempekerjakan tukang-tukang bangunan atau arsitek-arsitek bangunan dari Majapahit sebanyak 500 orang yang diketuai oleh Raden Sepat.


Raden Sepat sendiri dikatakan sebagai Panglima Perang Kerajaan Majapahit sekaligus juga ahli bangunan (Arsitekur) yang dahulu pernah melakukan penyerbuan ke Demak berserta ratusan atau bahkan ribuan tentara namun serbuan tersebut gagal karena serbuan tersebut dipatahkan oleh Demak. Namun demikian ternyata  setelah Raden Sepat beserta pengikutnya menjadi tawanan Demak untuk kemudian memutuskan memeluk Islam dan mengabdi ke Demak.  

Dari Demak kemudian para Arsitekur tersebut dikirim ke Cirebon untuk melakukan pembangunan Masjid sang Cipta Rasa (Masjid Agung Kesultanan Cirebon) dan diteruskan dengan pembangunan dan pemugaran Istana kesultanan Cirebon.


500 orang Majapahit ahli bangunan tersebut kemudian mewariskan ilmunya ke masyarakat Cirebon. 



Alasan Ke II
Alasan ke dua adalah ternyata jika memahami tata-letak bangunan dalam istana kesultanan Cirebon secara seksama ternyata baik dari jenis model arstektur, bahan yang digunakan dalam pembangunan ternyata identik dengan kondisi Ibukota/ Istana Kerajaan Majapahit yang telah disebutkan oleh prapanca dalam kitab Negarakertagama, yaitu adanya gapura, tembok tebal bata merah, kanal, pendopo tunggu tamu, ukiran dan tiang pendopo dan istana raja, semuanya identik dengan peninggalan bangunan yang ada di Istana kesultanan Cirebon. 

Maka dengan demikian dapat dipastikan Raden Sepat dalam membangun Masjid dan Istana kasultanan Cirebon mengikuti gaya arsitektur Majapahit. 


Demikian bukti-buktinya:

1. Gapura. 2.Tembok Istana 3. Pendopo Tunggu Tamu Raja 4. Kanal (kasepuhan dan Sunyaragi)
Selain bukti-bukti yang telah dipaparkan di atas sebenarnya masih banyak peningalan-peninggalan di Cirebon yang berarsitekturkan Model Majapahit.

Seperti Makam-makam para pembesar Cirebon (Buyut Trusmi, Buyut Megu, Plangon, Buyut Tambi Indramayu) Belum lagi Masjid-masjid lama, seperti Masjid Panjunan, Masjid Sang Cipta Rasa, Masjid Jagabaya dll, semuanya menggunakan gaya arsitektur ala Majapahit.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search