Naskah Wangsakerta II (Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa)

- April 07, 2017
NASKAH WANGSAKERTA II
(Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa)

Alih Aksara PPBJ
 
Diantara karya-karya pangeran Wangsakerta beserta timnya, dikenal sebuah kitab yang diberi judul Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa Naskkah ini sekarang tersimpan di Musium Sribaduga Bandung. Naskah tersebut kemudian dikenal dengan (PPBJ) yang tidak lain merupakan kependekan dari naskah tersebut.

Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa menuturkan peristiwa sejarah masa lampau tentang raja dan kerajaan yang terletak di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Uraiannya banyak tertumpu pada karya mahakawi (pujangga besar) Mpu Khanakamuni dari Majapahit, beliau menjabat sbagai dharmadhyaksa (pejabat tinggi keagamaan) urusan agama Buddha. Selain itu kitab ini mencontoh beberapa karya pujangga besar yang telah menggubah kisah kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Selain itu dilengkapi pula uraian tentang kerajaan Mataram, Banten, raja-raja daerah Parahyangan, serta para penguasa daerah lainnya.

Penyusun kitab ini terdiri dari 12 orang, yaitu tujuh orang menteri (jaksa pepitu) kerajaan Carbon, seorang pujangga dari Banten, Sunda, Arab, dan seorang lagi. Mereka semua dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta.Kitab ini mulai dikerjakan pada tahun Saka sruti-sirna-ewahing-bhumi (1604 Saka = 1682 Masehi), ditulis di keraton Carbon oleh Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Carbon Tohpati bergelar Abdul Kamil Mohammad Nasarudin.

Secara keseluruhan isi teks naskah Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadipa ini dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu:
  1. Bagian manggala atau pendahuluan yang di antaranya berisi pernyataan kepengarangan dan pertanggungjawaban dari Pangeran Wangsakerta selaku ketua kelompok penyusun.
  2. Uraian tentang jaman purba dan orang-orang pendatang baru di bumi Jawadwipa dan Nusantara.
  3. Uraian mengenai Kerajaan Salakanagara.
  4. Uraian mengenai Kerajaan Tarumanagara.
  5. Kolofon (Penutup).
Untuk dapat memahamkan pembaca, penulis sengaja hanya menyuguhkan ringkasan dari Naskah tersebut, hal ini dilakukan penulis agar tidak terlalu panjang lebar dalam menguraikan isi naskah tersebut.

Demikian ringkasannya:

Teks naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa memulai uraiannya dengan keadaan di Pulau Jawa sejak sudah adanya pemukiman manusia. Dikemukakan pula tentang kesuburan tanah dan kemakmuran di Pulau Jawa, disusul uraian mengenai kedatangan orang-orang dari luar Nusantara yang kemudian menyebar dan menetap di Pulau Jawa dan wilayah lain di Nusantara. Dengan rinci bagan awal teks naskah ini menguraikan lima jaman di Pulau Jawa. 

Jaman Purba yang pertama, disebut Jaman Satwapurusa. Jaman ini dihuni oleh manusia yang berjalan seperti kera. Mereka berdiam di atas pohon, belum berpakaian dan belum berperasaan seperti manusia sekarang. Kulit mereka berwarna hitam dan berbulu. Mereka hidup antara 1.000.000 – 500.000 tahun sebelum permulaan tarikh Saka. Mahluk ini punah tanpa sisa. Di wilayah lain di Pulau Jawa hidup pula sejenis satwapurusa yang lain, tetapi tingkah lakunya seperti manusia. Kulitnya berwarna hitam kemerah-merahan, tabiatnya baik, tetapi selalu membawa senjata yang terbuat dari batu dan tulang. Mereka ini lebih cerdas daripada satwapurusa yang berjalan seperti kera. Mereka hidup antara 750.000 – 250.000 tahun sebelum tarikh Saka.

Kemudian jaman purba kedua yang disebut Jaman Yaksapurusa. Jaman ini dihuni oleh manusia seperti yaksa atau raksasa. Tabiatnya buas, tubuhnya tinggi dan besar, kulitnya berwarnahitam dan berbulu. Manusia yaksa ini hidup antara 500.000 – 300.000 tahun sebelum tarikh Saka. Sesudah manusia yaksa ini lenyap, muncul manusia yaksa jenis yang lain yang asalusulnya tidak diketahui dengan jelas. Manusia yaksa jenis ini badannya lebih kecil, sedangkan kulitnya tidak hitam dan tidak banyak bulu. Manusia yaksa ini lebih cerdas dari manusia yaksa sebelumnya. Mereka hidup antara 300.000 – 50.000 tahun sebelum tarikh Saka.

Selanjutnya jaman purba ketiga yang disebut Jaman Wāmanapurusa. Manusia jaman ini berbadan kecil. Senjata mereka terbuat dari batu, buatannya belum sempurna. Mereka hidup di Pulau Jawa pada 50.000 – 25.000 tahun sebelum tarikh Saka. Oleh sang mahakawi jaman purba ini disebut pula jaman purba madya. Setelah itu muncul jaman purba keempat yang disebut Jaman purwapurusa. Jaman purwapurusa ini terbagi dua, yaitu jaman purwapurusa pertama, antara 25.000 – 10.000 tahun sebelum tarikh Saka. Manusia jaman ini membuat berbagai perkakas dan senjata dari batu, kayu, tulang, dan lainnya. Jaman purwapurusa kedua, antara 10.000 – 1.000 tahun sebelum tarikh Saka. Purwapurusa jaman ini membuat perkakas dan senjata yang sudah bagus buatannya. Setelah itu jaman purba kelima yang disebut jaman orang-orang pendatang baru dari daerah sebelah timur Bharatanagari. Oleh para mahakawi jaman ini disebut jaman purba terakhir. Jaman purba terakhir ini terbagi dalam lima bagian, yaitu (1) yang pertama antara 10.000 – 5.000 tahun sebelum tarikh Saka; (2) yang kedua antara 5.000 – 3.000 tahun sebelum tarikh Saka; (3) yang ketiga antara 3.000- 1.500 tahun sebelum tarikh Saka; (4) yang keempat antara 1.500 – 300 tahun sebelum tarkh Saka; (5) yang kelima antara 300 sampai awal tarikh Saka.

Selanjutnya diuraikan mengenai pendatang-pendatang baru dari Singhanagari, Salihwahananagari, dan Bhumi Ghaudi, dari Bharatawarsa (India). Mereka datang di Pulau Jawa pada awal tarikh Saka. Mereka datang dengan memakai perahu. Mulamula tiba di Jawa Timur, kemudian ke Jawa Barat. Mereka dating dengan tujuan berdagang dan menjual jasa dengan penduduk setempat. Mereka membawa barang dagangan berupa pakaian, berbagai perhiasan, emas, perak, permata, obat-obatan, dan berbagai barang lainnya. Barang-barang yang dibelinya di sin adalah rempah-rempah, hasil bumi, dan lai-lain. Di antara pendatang kemudian banyak yang bermukim di sini danmemperistri penduduk setempat, serta tidak kembali ke negeri asalnya. Mereka hidup akrab dan bersaudara. Para pendatang dari Bharatanagari ini juga mengajarkan agama mereka kepada penduduk setempat. Mereka memuja dewa trimurti di samping dewa-dewa lain. Penduduk setempat asalnya para pendatang juga, sejak dahulu mereka mengadakan pemujaan kepada nenek moyang. Tidak lama antaranya banyak pula penduduk yang memeluk agama baru, dan banyak pula para pendatang yang menikah dengan anak penghulu setempat. Para pendatang itu banyak yang berasal dari wangsa Salankayana dan wangsa Pallawa di bumi Bharatanagari. Mereka datang menaiki beberapa puluh perahu yang dipimpin oleh Sang Dewawarman dari wangsa Pallawa. Sang Dewawarman sudah bersahabat dengan penduduk daerah pesisir Jawa Barat, Nusa Apuy, dan Pulau Sumatra bagian selatan. Sang Dewawarman bersahabat pula dengan penghulu penduduk setempat, akhirnya bermukim di sini dan lamakelamaan menjadi raja kecil di daerah pesisir bagian barat dari bumi Jawa Barat. Sang Dewawarman kemudian beristrikan anak penghulu penduduk wilayah desa itu. Sang penghulu kemudian menganugerahkan pemerintahan wilayah desa kepada menantunya.

Pada tahun 52 Saka (= 130 Masehi) Sang Dewawarman dinobatkan menjadi raja. Kerajaannya diberi nama Salakanagara, ibukotanya diberi nama Rajatapura. Ia bergelar Sang Prabhu Dharmalokapala Dewawarma Haji Raksagapurasagara, dan menjadi raja sampai dengan tahun 90 Saka (= 168 Masehi). Kemudian ia digantikan oleh anaknya yang bergelar Sang Prabhu Dhigwijayakasa Dewawarmanputra, yang menjadi Dewawarman II. Ia menjadi raja Salakanagara pada tahun 90 – 117 Saka (168 –195 Masehi).

Dewawarman II beristrikan seorang putri dari keluarga Maharaja Singhalanagari. Dari pernikahannya ini lahir di antaranya seorang yuwaraja. Ia menggantikan ayahnya menjadi raja di Salakanagara pada tahun 117 Saka (= 195 Masehi), dengan gelar Prabhu Singhanagara Bhimayasawirya dan menjadi Dewawarman III. Ia menjadi raja sampai dengan tahun 160 Saka (= 238 Masehi). Pada masa pemerintahannya Salakanagara diserang perompak, namun dapat dibinasakan olehnya.

Dewawarman III kemudian digantikan oleh menantunya ialah Sang Prabhu Dharmastyanagara yang menjadi Dewawarman IV. Ia memerintah pada tahun 160 – 174 Saka (= 238-252 Masehi). Dewawarman IV digantikan oleh anak perempuannya , yaitu Rani Mahisasuramardini Warmandewi. Ia memerintah bersama suaminya, Sang Prabhu Amatyasarwajala Dharmasatyajaya Warunadewa. Sang Rani memerintah pada tahun 174 – 211 Saka (= 252-289 Masehi), tetapi suaminya hanya memerintah selama 24 tahun, karena gugur di tengah laut ketika berperang melawan perompak.

Kemudian yang menjadi raja di Salakanagara adalah putranya, Sang Prabhu Ghanayanadewa Linggabhumi yang menjadi Dewawarman VI. Ia memerintah pada tahun 211 – 230 Saka (= 289-308 Masehi). Ia menikah denga putri dari Bharatanagari. Dari perkawinannya itu lahir beberapa orang anak, di antaranya yang tertua ialah Sang Prabhu Bhimadigwijaya Satyaganapati yang menjadi Dewawarman VII. Ia memerintah pada tahun 230 – 262 Saka (= 308 – 340 Masehi). Dewawarman VII gugur pada tahun 262 Saka karena serangan balatentara yang dipimpin oleh seorang panglima bernama Khrodamaruta, yang masih bersaudara dengan Sang Prabhu. Kemudian Sang Khrodamaruta menjadi raja di Salakanagara. Ia tidak disukai oleh penduduk dan keluarga keraton. Ia tidak lama menjadi raja, hanya tiga bulan, karena ketika ia berburu di tengah hutan, ia tertimpa batu dari puncak gunung. Sang Prabhu Khrodamaruta tewas.

Kemudian permaisuri Dewawarman VII, Sang Rani Spatikarnawa Warmandewi menjadi raja Salakanagara. Ia memerintah selama tujuh tahun sampai dengan tahun 270 Saka (= 348 Msehi). Pada tahun 270 Saka itu, Sang Rani menikah dengan Sang Prabhu Dharmawirya Dewawarman Salakabhuwana. Sang Rani dan suaminya adalah saudara sepupu satu kakek. Selanjutnya Sang Prabhu Dharmawirya menjadi raja Salakanagara, menjadi Dewawarman VIII. Ia memerintah tahun 270 – 285 Saka (= 348- 363 Masehi).

Selanjutnya teks naskah ini menguraikan pula keadaan politik di Bharatanagari danpeperangan antara wangsa Maurya dengan wangsa Pallawa dan Salankayana. Akhirnya kerajaan wangsa Pallawa dan Salankayana dikalahkan oleh kerajaan wangsa Maurya. Banyak penduduk dan keluarga raja dari kerajaan mengungsi menyeberangi lautan. Salah satu kelompok wangsa Pallawa yang mengungsi ke Pulau Jawa dipimpin oleh seorang yang kemudian menjadi Dewawarman VIII, yaitu Sang Prabhu Dharmawirya Dewawarman Salakabhuwana.

Dicjeritakan pula bahwa pada tahun 270 Saka (= 348 Masehi), ada seorang Maharesi dari Salankayana disertai para jpengikutnya, penduduk dan balatentara, datang mengungsi ke jNusantara dan sampailah di Jawa Barat. Ia bersama pengikutnya berjumlah beberapa ratus orang. Kedatangannya disambut oleh penduduk pribumidengan senang hati, karena Sang Maharesi adalah seorang dang accarya (guru) dan seorang mahapurusa (orang penting). Selanjutnya, mereka semuanya bermukim di tepi sungai dan membuat desa. Karena ia disetujui oleh para penghulu dari desa-desa di sekitarnya, kemudian ia mendirikan sebuah kerajaan di situ dan diberi nama Tarumanagara. Desa yang didirikan Sang Maharesi itu kemudian menjadi sebuah kota yang besar dan diberi nama Jayasinghapura. Sang Maharesi kemudian terkenal dengan nama Sang Jayasinghawarman Ghurudharmapurusa dan Rajadhirajaghuru, yaitu raja Tarumanagara dan guru agama. Ia kemudian menikah dengan putrid Dewawarman VIII, yaitu Sang Parameswari Iswari Tunggalprethiwi Warmandewi atau Dewi Minawati namanya.

Selanjutnya diceritakan pula anak Dewawarman yang lainnya yang menjadi putra mahkota. Setelah Sang Dewarman mangkat, putra mahkota menggantikannya menjadi raja. Tetapi desa-desa wilayahnya ada di bawah perintah kerajaan Tarumanagara. Ada pula anak Dewawarman yang lainnya lagi, seorang laki-laki yang bermukim di Bakulapura. Ia terkenal dengan nama Aswawarman. Ia menikah dengan anak sang penghulu penduduk Bakulapura, yaitu Sang Kudungga namanya.

Masa pemerintahan Sang Maharesi Rajadhirajaghuru lamanya 24 tahun, dari tahun 280 Saka (= 358 Masehi) sampai dengan tahun 304 Saka (= 382 Masehi). Ia mangkat pada usia 60 tahun. Ia terkenal sebagai Sang Lumah ri Ghomati. Selanjutnya ia digantikan oleh putranya yang terkenal dengan nama Rajaresi Dharmayawarmanghuru. Selain menjadi raja, ia juga menjadi kepala seluruh dang accaryagama (guru agama). Ia menjadi raja pada tahun 304 – 317 Saka (= 382-395 Masehi). Ia dikenal pula sebagai Sang Lumah ing Candrabhaga, karena candinya ada di tepi Sungai Candrabhaga.

Setelah itu Rajarsi digantikan oleh putranya, yaitu Sang Purnawarman namanya. Ia menjadi raja mulai tahun 317 Saka (= 395 Masehi) sampai tahun 356 Saka (= 434 Masehi). Purnawarman dijuluki Harimau dari Tarumanagara, karena selama pemerintahannya banyak menaklukkan raja-raja di sekitar Jawa Barat. Tarumanagara menjadi kerajaan yang sangat berkuasa di Pulau Jawa. Setiap tahun raja-raja yang telah berhasil ditaklukkan datang menghadap ke ibukota, mereka semua menyampaikan penghormatan dan pujian kepada Purnawarman. Begitu juga pejabat tinggi kerajaan beserta istri-istrinya, pejabat tinggi urusan keagamaan, duta-duta dari negara sahabat, serta balatentara semua memuji Purnawarman dengan permaisurinya
yang bagaikan Bhatara Wisnu dan Dewi Laksmi. Upacara penghormatan kepada Purnawarman tersebut terjadi setiap tahun pada tanggal 11 paruh terang bulan Caitra. Selanjutnya pada tanggal 13-15 paruh terang bulan Caitra, diadakan pesta perjamuan bagi seluruh tamu yang hadir dalam upacara tersebut.

Setelah Purnawarman menjadi raja menggantikan jayahnya, ia memindahkan ibukotanya ke sebelah luar. Lalu dibuatlah prasasti yang ditandai dengan telapak kaki. Sementara Rajarsi, ayah purnawarman sempat dua tahun tinggal dipertapaan sebelum meninggal. Purnawarman membuat prasasti pada tugu batu, membangun candi bagi Rajarsi di tepi Sunga Candrabhaga dan candi lainnya bagi Rajadhirajaghuru di tepi Sungai Ghomati.

Permaisuri Purnawarman seorang putri dari Swarnabhumi, sedangkan istri-istri lainnya ada yang berasal dari Bakulapura dan Jawa Tengah. Dari permaisuri lahirlah putra mahkota yang bernamaWisnuwarman, adiknya diperstri oleh Sri Jayanasa yang kelak menjadi raja besar di Swarnabhumi. Purnawarman adalah pemimpin anggota wangsanya yang tersebar di Swarnabhumi, Bali, ataupun pulau-pulau lainnya di Nusantara. Ia telah membina hubungan persahabatan yang sederajat dengan Cina, Bharatawarsa, Yawana Bakulapura, Syangka, Palestina, Sibti, Arab Abasied, Barusa, Cambay, kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan sebagainya. Tarumanagara mengirim duta-duta ke negara sahabat itu dan begitu juga sebaliknya.

Dalam kehidupan beragama Purnawarman memuja Wisnu, tetapi rakyatnya ada yang memuja Sangkara (Siwa), Brahma, dan sedikit pemuja Buddha. Sementara penduduk pribumi di pedalaman masih banyak yang memuja (roh) nenek moyang, mereka masih mempertahankan adat istiadat lama dari leluhurnya.

Tiga tahun setelah menjadi raja ia membuat pelabuhan, jjsetiap hari banyak perahu yang datang dari berbagai negara. Pelabuhan itu dibuat mulai tanggal 7 paruh terang bulan jMargasira sampai dengan tanggal 17 paruh gelap bulan Posya.

Dalam masa pemerintahannya Purnawarman berhasil memperkokoh pinggiran sungai, jmemperlebar dan memperdalam beberapa sungai yang terdapat di wilayah Tarumanagara. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh penduduk Tarumanagara dikarenakan rasa bakti kepada raja mereka. Di antara sungai yang dikerjakan adalah Sungai Ghangga yang terdapat di kerajaan Indraprahasta. Kerajaan ini terletak di sebelah Timur Tarumanagara. Sungai Ghangga dianggap suci oleh penduduk Jawa Barat, karena dianggap sama dengan Sungai Ghangga yang terdapat di India, yaitu sungai suci yang airnya dapat membersihkan dosa-dosa. Pekerjaan memperindah Sungai Ghangga di Indraprahasta berlangsung antara tanggal 12 paruh gelap bulan Margasira sampai dengan tanggal 15 paruh terang bulan Posya tahun 254 – 332 tarikh Saka (332 – 410 Masehi).

Setelah pekerjaan itu selesai Purnawarman kemudian mengadakan upacara pemberian hadiah kepada para brahmana berupa 500 ekor sapi, pakaian, 20 ekor kuda, dan seekor gajah. Para pekerja juga mendapat hadiah dan bermacam makanan lezat.

Dua tahun kemudian, Purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk memperkokoh dan memperindah tepian Sungai Cupu di Cupunagara Setelah pekerjaan itu selesai Purnawarman mengadakan upacara pemberian hadiah untuk para brahmana berupa 400 ekor sapi, pakaian, dan makanan. Setelah itu sebagai tanda selesainya pekerjaan tersebut dibuat prasasti-prasasti dengan tanda telapak kaki. Prasasti-prasasti itu diletakkan di tepi Sungai Ghangga dan Sungai Cupu.

Pada tahun 335 Saka (= 413 Msehi) dilakukan pekerjaan untuk memperindah dan memperkokoh tepi Sungai Sarasah (Manukrawa). Karena saat itu Purnawarman sedang sakit, ia mewakilkan kepada mahamantri dan beberapa pembesar kerajaan untuk mengadakan upacara kurban bagi orang suci. Benda-benda yang dihadahkan adalah 400 ekor sapi, 80 ekor kerbau, pakaian brahmana, panji Tarumanagara, 10 ekor kuda dan arca Wisnu. Dampak dari pekerjaan itu membuat petani gembira karena banyak tanah tegalan menjadi subur.

Antara tanggal 8 paruh gelap bulan Phalguna sampai tanggal 13 paruh terang bulan Caitra tahun 261 – 339 Saka (= 339- 417 Masehi), dilaksanakan kegiatan untuk memperkokoh dan memperindah sepanjang tepi Sungai Candrabhaga dan Sungai Ghomati. Pekerjaan dilakukan siang malam dan dilaksanakan oleh beberapa ribu penduduk laki-laki dan perempuan dengan membawa peralatan masng-masing. Upacara peresmian pekerjaan itu dilakukan oleh Purnawarman dan upacara pemberian hadiah berupa 1000 ekor sapi, pakaian dan berbagai makanan lezat. Kemudian dibuat juga prasasti yang dibubuhi telapak kaki, arca perwujudan dirinya, dan telapak kaki gajah Erawata.

Kegiatan memperindah dan memperkokoh tepi sungai berikutnya terjadi pada tahun 341 Saka (= 419 Masehi), kali ini yang dikerjakan adalah Sungai Taruma, sungai terbesar di Kerajaan Tarumanagara. Seperti biasa setelah pekerjaan selesai lalu diadakan upacara peresmian dan pemberian anugerah bagi para brahmana dan mereka yang berjasa.

Purnawarman merupakan raja besar di Tarumanagara, berkat usahanya kerajaan tersebut menjadi besar dan jaya. Ia mulai menjadi raja sejak tanggal 13 patuh terang bulan Caitra tahun 317 tarikh Saka (= 395 Masehi), dan wafat tanggal 5 paruh terang bulan Posya tahun 356 tarikh Saka (= 434 Masehi), pada usia 62 tahun. Ia juga Sang Lumah ing Taruma. Gelar lengkap Purnawarman ialah Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswaradigwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati. Ia bagaikan Bhatara Wisnu yang menjelma ke bumi, ia tampak seperti Indra yang siap menyerang musuhnya. Ia dianggap sang Purandara (penghancur musuh-musuh Indra).

Dalam pertempuran-pertempuran di lautan untuk membasmi para perompak , pasukan Tarumanagara yang dipimpin oleh Purnawarman selalu memperoleh kemenangan. Para perompak tak ada yang dibiarkan hidup, semuanya dihukum mati. Peperangan melawan perompak itu terjadi antara tahun 321– 325 tarikh Saka (= 399-403 Masehi). Setelah para perompak dikalahkan perairan Laut Jawa menjadi aman dan para penduduk dan para pedagang menjadi senang.

Selain itu Sri Maharaja Purnawarman disebutkan pula telah membuat dan menyusun berbagai kitab, di antaranya Nitipustaka Rajya Tarumanagara, Nitipustaka ning Aksohini, Nitipustaka Yuddhawarnana, Nitipustaka Desantara i Bhumi Jawa Kulwan, Pustaka Warmanwamsatilaka, dan banyak lagi yang lainnya.

Tersebutlah kepala penduduk Bakulapura di wilayah Tanjungnagara, bernama Kudungga. Dia anak dari Attwangga, dan Attwangga abak Mitrongga Lughubhumi. Mereka sebenarnya keturunan orang-orang India, nenek moyangnya ialah Pusyamitra dari keluarga Sungga di Magadha. Wangsa ni telah dikalahkan oleh orang-orang Kusana, akhirnya wangsa Sungga tercera berai dan mengungsi ke beberapa negara. Di antara para pengungsi dari wangsa Sungga tersebut ada yang berlayar dari negeri asalnya dan sampai di Nusantara, di wilayah Tangjungnagara. Kelak mereka mendirikan kerajaan yang bernama Bakulapura.

Telah durakan terdahulu bahwa putri Sang Kudungga menikah dengan Aswawarman, anak Prabhu Dharmawirya Dewawarman Salakanagara. Aswawarman semula anak angkat Sang Kudungga, lagi pula mereka masih saudara sepupu. Ibu Sang Kudungga adalah kakak Rani Spatikarnawa, ibunya Aswawarman. Setelah Sang Kudungga mangkat, Aswawarman dinobatkan menjadi raja di Bakulapura. Dari perkawinan Aswawarman dengan putri sang Kudungga lahirlah tiga orang anak, salah satunya ialah Mulawarman. Dalam masa pemerintahan Aswawarman itulah Bakulapura menjadi negara besar, rakyat hidup dengan sejahtera dan tenteram. Akhirnya Aswawarman dianggap sebagai pendiri wangsa raja-raja Bakulapura. Setelah Aswawarman mangkat, kedudukannya digantikan oleh Mulawarman. Bakulapura semakin menjadi negara besar dan disegani, raja-raja di sekitarnya tunduk di bawah kekuasaannya. Dengan Tarumanagara dibina hubungan baik, mereka saling mengirim dutanya masing-masing.

Kisah beralih mengenai Kerajaan tarumanagara sepeninggal Purnawarman. Saat itu yang menjadi raja ialah Wisnuwarman sang putra mahkota dan mulai memerintah pada tahun 356 Saka (= 434 Masehi). Sifatnya sama dengan ayahnya, ia seorang raja yang teguh pada kewajibannya dan mahir berperang. Tiga hari setelah penobatannya, ia mengadakan pesta besar yang dihadiri oleh para raja bawahan dan duta-duta negara sahabat, juga para pejabat negara lainnya baik berpangkat tinggi maupun rendah.

Pada tahun 357 Saka (= 435 Masehi) Wisnuwarman jmengirim duta-dutanya ke berbagai negeri, yaitu Cina, Bharatanagari, Campanagari, Bakulapura, Dharmanagari, dan lain-lain.Tugas Mereka adalah untuk memberi kabar kepada rajaraja sahabat bahwa Tarumanagara saat itu telah berganti raja, yaitu Wisnuwarman dan persahabatan yang telah dibina akan terus dilanjutkan. Setelah tiga tahun masa pemerintahannya terjadi gempa bumi dan gerhana bulan, hal itu merupakan pertanda buruk. Wisnuwarman lalu mengadakan upacara mandi di Sungai Ghangga. Wisnuwarman juga diganggu oleh mimpimimpi buruk, ia menjadi risau hatinya. Lalu dipanggillah sang brahmana dan pendeta istana untuk diminta nasihatnya.

Selanjutnya dengan diiringi para brahmana dan orang-orang suci, Wisnuwarman menuju Kerajaan Indraprahasta. Ia disambut oleh rajanya yang bernama Wiryabanyu. Kembali Wsnuwarman mengadakan upacara mandi di Sungai Ghangga dengan disertai para brahmana, orang-orang suci, dan para pembesar kerajaan. Kemudian dilanjutkan dengan upacara pemujaan arca Wisnu dan Sangkhara ayng disimpan di pertapaan.

Pada suatu malam saat Wisnuwarman dan permaisurinya sedang tidur di keraton, masuklah seseorang yang akan membunuh sang raja. Tetapi orang itu gagal membunuhnya, karean keris yang digenggamnya terlepas dan jatuh. Raja terbangun begitu pula permaisurinya, dan penjahat itu berhasil ditangkap pengawal. Orang itu gagal melaksanakan niatnya karena ia melihat tubuh permaisuri yang tidur tanpa sehelai kain pun yang dipakainya, agaknya penjahat itu tidak kuat menahan nafsu birahinya sehingga tubuhnya berkeringat gemetaran dan kerisnya terlepas. Permaisuri Wisnuwarman memang wanita yang luar biasa cantiknya, ia adik Raja Bakulapura, siapa yang melihatnya akan terpikat dan lupa diri.

Pada tahun 359 Saka (= 437 Masehi), Raja Wisnuwarman duduk di paseban yang dihadiri pula oleh beberapa raja tetangga dan para pejabat kerajaan. Ia sedang menanyai si pembunuh yang gagal membunuh dirinya. Semula si pembunuh tidak berani mengatakan siapa yang sebenarnya dalang peristiwa itu. Tetapi kemudian mengaku bahwa sebenarnya ia sekedar melaksanakan tugas yang diberikan oleh Mandalamantri Cakrawarman. Cakrawarman sebenarnya paman Wisnuwarman, ialah adik Purnawarman. Cakrawarman ingin menjadi Raja Tarumanagara, tetapi tidak berani mengadakan perebuatan kekuasaan secara langsung, lalu disuruhlah seseorang untuk membunuh Wisnuwarman.

Beberapa bulan kemudian ditangkap lagi empat orang perusuh yang mencoba membunuh raja saat berburu d hutan, orang-orang tersebut dijatuhi hukuman gantung. Cakrawarman dan para pengikutnya yaitu Dhewaraja (panglima perang), Hastabahu (kepala pasukan pengawal) , Laksamana Laut Sang Kudasindu, juru keraton sang Bayutala, dan lain-lain segera melarikan diri lalu bersembunyi di dalam hutan. Mereka bergerak ke timur sampai di tepi Sungai Taruma. Ketika mereka sampai di Kerajaan Cupu, Raja Satyaguna segera mengusir Cakrawarman dan kawan-kawan, karena Kerajaan Cupu tetap setia kepada Maharaja Purnawarman.

Akhirnya Cakrawarman dan pengikutnya terlunta-lunta dan bersembunyi dalam hutan di wilayah selatan Kerajaan Indraprahasta. Wisnuwarman lalu memerintahkan seluruh raja di Jawa Barat untuk membinasakan Cakrawarman. Berhubung Cakrawarman bersembunyi di wilayah Kerajaan Indraprahasta, maka Raja Indraprahasta dan balatentaranya yang berkewajiban untuk membinasakan para pemberontak itu. Cakrawarman sendiri telah memiliki tentara cukup yang diperolehnya di wilayah-wilayah yang berada di bawah pengaruhnya. Setelah pasukan Indraprahasta berhasil mengepung tentara pemberontak, terjadilah pertempuran yang cukup seru. Pasukan Indraprahasta dipimpin oleh para senapatinya, antara lain Ragabelawa dan Bonggolbhumi. Sementara para pemberontak dipimpin oleh panglimanya yaitu Dewaraja, Kudasindu, Hastabahu, dan Bayutala.

Akhirnya balatentara Cakrawarman dapat dikalahkan, banyak yang tewas, sementara yang tersisa ditawan dan dibawa ke ibukota. Semua panglima dan balatentara yang telah berhasil itu kemudian diberi hadiah, begitu juga Raja Indraprahasta sang Wiryabanyu dianugerahi barang-barang berharga oleh Wisnuwarman. Selain itu Wisnuwarman kemudian memperistri putri Raja Indraprahasta yang bernama Dewi Suklawati. Sang Dewi akhirnya menjadi permaisuri Wsnuwarman karena permaisuri yang dahulu meninggal. Mereka mempunyai beberapaorang anak, salah seorang anaknya bernama Indrawarman yang kelak menjadi Raja Tarumanagara menggantikan ayahandanya.

Demikianlah, kisah Kerajaan Tarumanagara dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa berakhir sampai di sini. Selanjutnya pada bagian penutup, dikemukakan sejumlah rujukan yang dipergunakan dalam penyusunan teks naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa yaitu:
  1. Pustaka Nagara Nusantara;
  2. Pararatwan Sundawamsatilaka;
  3. Serat Ghaluh i Bhumi Sagandhu;
  4. Pustaka Tarumarajyaparwawarnana;
  5. Pustaka mengenai Warmanwamsatilaka i Bhumi Dwipantara;
  6. Pustaka Serat Raja-raja Jawadwipa;
  7. Serat Purnawarmanah Mahaprabhawo Raja i Tarumanagara;
  8. Pustaka Sang Resi Ghuru.
Selanjutnya pada bagian penutup ini dikemukakan pula ikhtisar pembabakan jaman yang tercakup dalam naskah Pustaka jPararatwan i Bhumi Jawadwipa. Akhirnya bagian ini ditutup dengan pertanggalan saat selesainya penulisan dan penyusunan naskah ini, yaitu tanggal 9 paruh terang bulan Magha dalam tahun Saka pandawa suddha rasaning bhumi (1605 Saka = 1683 Masehi).

Baca Juga NASKAH WANGSAKERTA (Pustaka Rājya-Rājyai Bhumi Nusāntara)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search