Naskah Mertasinga, Maksud Dan Kandunganya

- April 29, 2017

Naskah Mertasinga adalah salah satu dari sekian ribu naskah-naskah yang berasal dari Kota Cirebon. Naskah tersebut dinamai Mertasinga oleh penemunya dikarenakan Naskah tersebut pada mulanya di temukan di Desa Mertasinga Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon. 

Naskah Mertasinga, pada mulanya adalah pusaka keluarga M.Argawinata yang merupakan pensiunan asisten wedana Mertasinga dengan istrinya R.Warsini yang mempunyai garis keturunan dengan Kasultanan Kesepuhan Cirebon.

Dan ketika naskah ini sampai pada cucu M.Argawinata yaitu Aman N. Wahyu, kemudian naskah tersebut disebarluaskan beliau dengan cara di alih aksarakan dan diterjamahkan  dari bahasa Cirebon  ke Indonesia. Kemudian naskah tersebut dijadikan sebuah buku yang diberi judul “Sejarah Wali. Syekh Syarif Hidayatulah. Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga)”. 

Naskah Mertasinga terdiri dari 268 halaman, dimana dari halaman 1 sampai dengan 260 berisi tentang kisah masah lampau (sejarah) sedangkan dari mulai 261-268 berisi materi tentang ilmu Thoriqot, namun demikian beberapa halaman dibelakangya sudah hilang tak terbaca. Naskah ini memang unik didalamnya memuat tentang Sejarah Cirebon semenjak Jaman sunan Gungjati Hingga Abad ke 19.

Berikut Ini adalah beberapa kandungan kisah yang terdapat dalam Naskah Mertasinga, yang telah diberi judul oleh penulis buku Sejarah Wali :


Syarif Hidayatullah Kembali Ke Banisrail
  • Syarif Hidayatullah menobatkan adiknya di Banisrail
  • Berjumpa dengan raja Jamhur
  • Syekh Maulana mengunjungi negara Cina
  • Patih Sampo Talang menetap di Palembang
  • Putri Anyon Tin meninggalkan Cina
Syarif Hidayatullah Kembali Ke Gunung Jati
  • Syekh Maulana kembali ke Gunung Jati
  • Kunjungan Pangeran Makdum dan Sunan Kalijaga ke Gunung Jati
  • Syekh Maulana tiba kembali di Gunung Jati                
  • Kedatangan rombongan putri Cina
  • Memperoleh dua putra dari Rara Jati
  • Pangeran Karang Kendal
Pajajaran Sepeninggal Prabu Siliwangi
  • Syekh Maulana memeriksa sisa-sisa kraton Pajajaran 
  • Pertemuan dengan nenek Nyi Sumbang Karancang
  • Pucuk Umun masuk agama Islam
  • Raja Lahut diangkat menjadi Pangeran Jaketra
  • Kisah pembalasan dendam Dewi Mandapa 
  • Syekh Maulana mengunjungi neneknya di Banten, diberi nama Syekh Maulana Akbar    
  • Syekh Maulana menikah dengan Putri Kawunganten
  • Arya Lumajang menjadi raja Pakuan dengan gelar Suhunan Ranggapaku
  • Syekh Maulana Kabir kembali ke Gunung Jati  
  • Kisah Ki Gedeng Junjang
Syarif Hidayatullah Menjemput Ibundanya
  • Syekh Maulana menjemput ibundanya di Banisrail
  • Kunjungan Pangeran Panjunan ke Gunung Jati
Kisah Raden Patah
  • Raden Patah dan Raden Husen belajar di Ampel Denta
  • Sunan Ampel melarang Raden Patah menyerang Majapahit 
  • Raden Patah mendirikan pesantren di Bintara 
Syarif Hidayatullah Dinobatkan Menjadi Sinuhun Gunung Jati
  • Syekh Maulana membawa ibundanya kembali ke Gunung Jati
  • Persinggahan di Cempa
  • Syekh Mustakim mengenai silsilah Wali-wali di Jawa
  • Syekh Maulana tiba kembali di Gunung Sembung
  • Pertemuan Pangeran Panjunan dengan Syekh Maulana
  • Pangeran Panjunan mengasingkan diri ke Wringin Pitu
  • Syekh Maulana memperistri Nyi Rara Tepasan  
  • Penobatan Syekh Maulana menjadi Kanjeng Sinuhun Jati
  • Sinuhun Jati membangun Mesjid Agung Pakungwati
Dst...
    Naskah Mertasinga ditulis dengan penulisan sastra (tembang), naskah ini didalamnya terdiri dari 87 Pupuh dengan 1918 bait dan 14.478 baris yang terdiri dari:
    • Kasmaran/Asmarandana 16 Pupuh
    • Sinom 20 Pupuh
    • Dangdanggula 10 Pupuh
    • Kinanti 13 Pupuh
    • Durma 9 Pupuh
    • Pangkur 15 Pupuh
    • Magatru 1 Pupuh
    • Pacung 3 Pupuh
    Tidak ditemukan nama pengarang dalam Naskah Mertasinga, dan tahun pembuatannya, akan tetapi Naskah tersebut juga menginformasikan bahwa naskah Mertasinga selesai ditulis oleh penulisnya pada Tahun 1359 Hijriah atau 1889. Diduga naskah Mertasinga sebagian isinya merupakan salainan Naskah dari naskah yang lebih tua.Naskah tersebut juga ditulis dengan menggunakan bahasa Cirebon (Jawa Cirebon) dengan menggunakan Huruf Arab Pegon.
     

    Start typing and press Enter to search