Datuk Pardun, Murid Syekh Siti Jenar Menuntut Balas Pada Cirebon

- April 28, 2017
Setelah dalam artikel sebelumnya dijelaskan mengenai dihukum matinya Syekh Siti Jenar di Cirebon, kemudian dalam artikel kali ini akan dibahas menganai salah satu Murid Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang) yang tidak terima dengan peristiwa Eksekusi mati syekh Siti Jenar oleh Pemerintah Cirebon.

Peristiwa pembalasan dendam murid Syekh Siti Jenar ini, dapat anda jumpai dalam Naskah Mertasinga pada Pupuh. LXIV.03-12. Demikian ringkasanya;

Murid Syekh Siti Jenar itu bernama Datuk Pardun dari Negara Banakeling. Datuk Pardun datang Ke Cirebon untuk membalas kematian gurunya, namun demikian pada waktu itu Cirebon sudah tidak lagi diperintah oleh Sunan Gunungjati melainkan diperintah oleh Panembahan Ratu, mengingat pada waktu itu Sunan Gunungjati sudah wafat.

Suatu ketika Panembahan Ratu bermaksud akan mengunjungi Astana (makam/kuburan) untuk beriziarah dengan dikawal oleh jurit-jurit kerajaan. 
Dan dikisahkan ketika Iring-iringan Sultan sudah sampai di Waringin Jembrak Datuk Pardun Menghalangi ditengah Jalan dengan bertolak Pinggang. Ketika para jurit Cirebon menyuruhnya minggir, Datuk Pardun malah menyerang, terjadilah keributan kemudian. 

Sementara itu Panembahan Ratu kemudian mempertanyakan mengenai keributan yang terjadi didepannya itu kepada pengawalnya, pengawalnya menjawab “Ada deseorang yang menghalangi iring-iringan Raja dijalan dengan membuat keributan".

Datuk pardun tidak mempan senjata tajam, tubuhnya kaku seperti besi, Panembahan Ratu kemudian segera menyerahkan Kerisnya yang berwerangka emas kepada Lurahnya.

Ki Lurah kemudian berhasil membunuh Datuk Pardun dengan sebilah keris tersebut. Tapi aneh biarpun datuk Pardun sudah mati, Datuk Pardun tetap berdiri mematung bagai besi ditengah jalan. 

Kemudian Panembahan Ratu memerintahkan Kiyai Lebe Yusuf untuk menguburkannya dipinggir jalan.

Setelah dikuburkan ternyata Datuk Pardun bangkit dari kuburnya dan kemudian kembali berdiri ditengah-tengah jalan, kejadian tersebut berulang selama tiga kali setelah Datuk Pardun dikuburkan untuk yang ke dua dan ketiga dipinggir jalan. 

Kiyai Lebe Yusuf kemudian menyusul tuannya untuk melaporkan tingkah laku mayat tersebut,  kemudian berkata Panembahan Ratu “Kuburkan saja mayat itu ditengah jalan”. Maka mayat tersebutpun kemudian dikuburkan sesuai dengan petunjuk Panembahan Ratu.

Demikianlah ringkasan cerita mengenai peristiwa pembalasan dendam Datuk Pardun dalam naskah tesebut.
(Naskah Mertasinga Pupuh. LXIV.03-12)
 

Start typing and press Enter to search