Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Desa Tugu Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu

Tugu sebagai sebuah pemerintahan desa didirikan pada tahun 1908 Masehi. Dengan Kepala Desa atau Kuwu Pertamanya bernama Bpk Kaminah. Kuwu Kaminah dipilih langsung oleh masyarakat secara demokratis dengan sistem bungbung peristiwa ini terjadi tepat dua tahun setelah Pemerintah Penjajah Belanda mengeluarkan Indlandsche Gemeente Ordonanntie (IGO) Staatsblad. 1906 No.83 yaitu suatu peraturan mengenai Pemanfaatan Tanah Rawa dengan sistem “Lanja”.  

Dengan demikian kuat dugaan pendirian pemerintahan Desa di Tugu sebagai upaya Belanda dalam mengatur administrasi pertanahan sehingga tanah-tanah rawa yang sebelumnya tidak dimanfaatkan tersebut kemudian dapat dijadikan pemasukan bagi Belanda, sehingga perlu bagi Belanda untuk membentuk pemerintahan desa di Tugu yang pada waktu itu wilayahnya banyak sekali terdapat rawa-rawa yang belum di kelola dengan baik. 
Balai Desa Tugu
Meskipun pemerintahan desa Tugu baru didirikan pada tahun 1908, akan tetapi wilayah Tugu sebelumnya telah lama diperintah oleh para Ki Gede (Panggedhe/Orang Yang dituakan). 

Para Ki Gede yang tercatat dalam sejarah desa Tugu sebanyak 12 Ki Gede, dari kedua belas Ki Gede tersebut diketahui memerintah Tugu dibawah kekuasaan Demak/Cirebon, Mataram/ Dermayu (Indramayu). 

Tercatat pada tahun  1530-1582 Padukuhan Tugu didirikan oleh Raden Hadi seorang yang berasal dari Kaliwungu utusan Kesultanan Demak. Pada masa ini, Tugu dibawah pemerintahan Kesultanan Cirebon. 

Selanjutnya pada tahun 1582-1608 tugu dikepalai oleh Ki Maneng merupakan Parajurit Kesultanan Mataram yang berasal dari Bagelan. Pada waktu ini Tugu dibawah kekuasaan Kesultanan Mataram yang waktu itu membangun Keadipatian Indramayu menggantikan Cimanuk.

Untuk lebih jelasnya penulis menyuguhkan daftar Ki Gede dan Kuwu yang pernah memerintah Tugu, adapun rinciannya sebagai berikut:
No
Nama
Jabatan
Tahun
Ket/Situs
1
Raden Hadi
Ki Gede
1530
Makam Bojong
2
Ki Maneng
Ki Gede
1582
Buyut Kambang
3
Ki Bunaim
Ki Gede
1608
Buyut Gruda
4
Ki Maidem
Ki Gede
1640
Buyut Maidem
5
Keri
Ki Gede
1696
Buyut Klinter
6
Arsiyem
Ki Gede
1720
Makam Cilik
7
Surya
Ki Gede
1750
Makam Kuang
8
Aris Bin Maidem
Ki Gede
1784
Makam Kesambi
9
Suma Setiah
Ki Gede
1825
Makam Kuang
10
Dul Gani Maidem
Ki Gede
1847
Makam Kesambi
11
Sayam
Ki Gede
1881
Makam Kiradenan
12
Masinah
Ki Gede
1892
Makam Kiradenan
13
Kanimah
Kuwu
1908
Makam Kesambi
14
Dipen
Kuwu
1914

15
Rasban
Kuwu
1914
Buyut Sarna
16
Angwar
Kuwu
1931

17
Sanda
Kuwu
1934
Sumur Bata
18
Soka
Kuwu
1942

19
Soma
Kuwu
1945

20
Suwandi
Kuwu
1962
Buyut Kidin
21
Ermanto
Kuwu
1978

22
Rudin
Kuwu
2007

23
Ermanto
Kuwu
2014-

Adapun kejadian penting yang pernah terjadi pada masa Para Ki Gede dan Kuwu yang memerintah Tugu adalah sebagai berikut:
  1. Pada 1530-1582 didirikan  Praja Kuwu Tugu oleh Raden Hadi kekuasaanya dibawah Kesultanan Cirebon & Demak, beliau merupakan utusan dari Kaliwungu Kesultanan Demak
  2. Ki Maneng 1582-1608 Prajurit dari Bagelen (Kesultanan Mataram)  Menjadi Kigede Tugu
  3. KI Bunaim 1608-1640 Prajurit dari Bagelen Menjadi Kigede Tugu
  4. KI Maidem 1640-1696 Prajurit dari Bagelen Menjadi Kigede Tugu
  5. KERI 1696-1720 Kelompok pendatang dari Cirebon – Dermayu, Gujarat datang ke Alas Penjalin Menjadi Kigede Tugu
  6. Pada 1784-1825 Perluasan lahan pertanian dibantu dengan Nyai Demang Patimah & Pangeran Surya Negara dari Mertasinga
  7. 1825-1847 Pengangkatan Ki Mustal sebagai Bekel Pecantilan Cipta Laksana/Longok, sebagai pamong yang mengurus “lumbung” di sebelah barat Alas Penjalin
  8. Pada 1847-1881 terjadi Pengangkatan Ki Kadem sebagai Bekel Pecantilan Pring Gading, sebagai pamong yang mengurus lumbung di sebelah selatan Alas Penjalin
  9. Pada1881-1892 Pembuatan kanal baru untuk pesawahan “Kali Rangin/Kali Anyar”
  10. Pada 1908-1914 terjadi Pemilihan Kuwu pertama
  11. Pada 1914-1931 Organisasi Pergerakan Nasional mulai masuk ke Tugu Warga Tugu Sistem Kerja Rodhi untuk pembangunan jalur rel kereta api – stasiun Gadingan. Zaman paceklik banyak warga Tugu yang bertransmigrasi ke wilayah Indramayu Barat dan  Subang
  12. Pada  1934-1942 pembuatan sumur bor minyak di sebelah barat Alas Penjalin
  13. Pada 1942-1945 terjadi Pemberontakan terhadap tentara Dai Nippon
  14. Pada1945-1962 terbakarnya Lumbung Padi di Baledesa/Lebu, Pembakaran Masjid, Sekolah Rakyat oleh DII/TII-TII/NII
Pada hari ini, Tugu terpecah menjadi tiga Pemerintahan desa yaitu Desa Tugu, Tugu Kidul dan Tugu lor. Sementara itu berkenaan dengan pengertian dari nama "Tugu" sendiri belum diketahui maksudnya, mengingat dalam Sejarah resmi desa Tugu sendiri tidak disebutkan mengapa desa tersebut dinamakan demikian. Biarpun demikian penulis menduga Tugu diambil dari kata bahasa Jawa yang maksudnya "Patok atau Tanda yang terbuat dari batu bata atau semacamnya".