Pangeran Brata Kelana, Putera Sunan Gunung Jati Yang Wafat Tragis

- Desember 22, 2017
Pangeran Brata Kelana adalah adik dari Pangeran Jaya Kelana, jika kakaknya terkenal akan kenakalannya, maka tidak demikian dengan sang adik, Pangeran Brata Kelana dikenal sebagai Pangeran yang membanggakan Negara, beliau pada mulanya direncanakan mejadi pewaris tahta kerajaan Cirebon, namun sayang sebelum dinobatkan ternyata beliau wafat dengan tragis. 

Pangeran Brata Kelana merupakan Putera Sunan Gunung Jati dari Istinya Nyimas Rarajati, karena prestasinya yang gemilang beliau kemudian dinikahkan dengan Ratu Nyawa anak Sultan Demak Ke III Pangeran Trenggana. Brata Kelana mempunyai nama lain Pangeran Gung Anom, sementara setelah kewafatanya yang tragis itu beliau kemudian digelari dengan nama Pangeran Seda Ing Lautan[1]
Seda Ing Lautan bermaksud meninggal di lautan (Seda=Meninggal/.  Ing Lautan=di Laut), dinamakan demikian karena Pangeran Bratakelana meninggal terbunuh ditengah-tengah lautan. Menurut Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, beliau diceritakan wafat dengan Tragis, kisah tragedi kewafatan beliau dimulai ketika beliau mengadakan perjalanan laut, ada kemungkinan perjalanan dari Demak menuju Cirebon, atau sebaliknya. 

Waktu itu beliau berada di wilayah pantai Gebang, di Gebang beliau dihadang oleh kapal perompak, Terjadi pertarungan sengit antara Gerombolan Perompak dengan Pangeran Brata Kelana beserta pengawalnya, akan tetapi karena jumlah Perompak yang begitu banyak, akhirnya Pangeran Bratakelan terbunuh. Kemudian mayatnya dibuang dilautan sementara harta kekayaan dalam kapal dirampok perompak, mayat Pangeran Brata Kelana kemudian diceritakan ditemukan terdampar di pesisir pantai mundu, dan kemudian dimakamkan di daerah itu juga. 

Dalam peristiwa tragis itu, dikisahkan ada beberapa Prajurit yang selamat dari maut, kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut ke Sultan Cirebon yang tak lain merupakan ayah dari Pangeran Brata Kelana. 

Mendapati anaknya terbuh tragis, Sunan Gung Jati amat murka, beliau kemudian memerintahkan Prajurit lautnya yang dipimpin Ki Gede Bungko untuk melakukan penumpasan Perompak di Wilayah Cirebon. Ekspedisi militer pencarian Perompak itu kemudian berhasil menemukan perompak-perompak kejam itu, Ki Gede Bungko kemudian dapat menumpasnya sampai tak bersisa.

Ratu Nyawa anak Sultan Demak III setelah peristiwa itu hidupnya begitu merana, saban hari beliau mengingat-ingat suaminya, beliau diceritakan dalam kesedian mendalam. Oleh sebab itulah Sunan Gunung Jati dan Ayah Ratu Nyawa (P.Trenggana) merasa iba, dan pada kemudiannya Sunan Gunung Jati memerintahkan putera yang lainnya yaitu Pangeran Pasarean dari Istrinya yang bernama Nyimas Rara Tepasan untuk menikahi Ratu Nyawa Janda kakanya[2]


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search