Pangeran Jaya Kelana, Putra Sunan Gunung Jati Ternakal

- Desember 21, 2017
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, yaitu pada artikel yang berjudul Keturunan Sunan Gunung Jati dari Istri-istrinya diketahui bahwa salah satu putra Sunan Gunung Jati dari Nyimas Rarajati adalah Pangeran Jaya Kelana. 

Pangeran Jaya Kelana dikisahkan sebagai pangeran yang nakal, mempunyai hobi bermain musik sambil menari-nari, susah di atur, pangeran ini juga dikisahkan suka bergaul dengan para begundal, dan karena saking nakalnya kemudian pangeran ini dibuang ke pulau terpencil diutara Cirebon. 
Kisah Pangeran Jaya Kelana dikisahkan dalam Naskah Mertasinga dari mulai Pupuh LI. 05 sampai dengan Pupuh LII. 12. Adapun kandungan kisah yang termaktub didalamnya adalah sebagai berikut:

Pangeran Jaya Kelana dikisahkan iri hati kepada anak-anak sudagar kaya di Cirebon, anak-anak sudagar bergelimang harta, pakaiannya bagus-bagus, uangnya banyak, sedangkan Pangeran Jaya Kelana yang anak Sultan Cirebon  justru malah diwajibkan hidup sederhana. Oleh sebab itulah pangeran ini memutuskan menjadi seorang Sudagar, beliau terjun dalam bidang perdagangan di Cirebon, tampa menunggu lama, rupanya pangeran Jaya Kelana kemudian bergelimang harta. 

Namun harta yang dimiliki sang Pangeran ternyata tidak ada apa-apanya dengan saudagar lain yang memiliki kapal dan melakukan kegiatan jual beli  ke seberang pulau, melihat hal tersebut Pangeran Jaya Kelana iri hati, beliau kemudian meniatkan diri agar lebih hebat dari sudagar-saudagar yang berdagang sampai keluar pulau Jawa itu. Beliaupun memutuskan untuk berlayar ke luar jawa untuk berdagang. Tapi malang ditengah lautan kapalanya ternyata dihantam gelombang, beliau terombang-ambing ditas kapalnya, musnahlah seluruh daganganya, meskipun demikian beliau selamat dari maut. 

Mendapati anaknya telah dianggap sudah cinta dunia, Ibunda sang pangeran Nyimas Rara Jati bersedih hati, kemudan beliau memberikan nasihat kepadanya, demikian katanya “Anakku janganlah kamu semborno (Tamak Terhadap Dunia), tidak ushlah kamu berdagang sampai kesebrang pulau, hatimu harus selalu bersyukur” mendapatkan nasihat dari Ibundanya itu Pangeran Jaya Kelana kemudian menurutinya, dan kegiatan perdagangan yang ia geluti selama itu dicampakannya. 

Setelah kegagalannya menjadi seorang Sudagar terkaya, rupanya pangeran Jaya Kelana kini banyak menghabiskan hidup untuk bergaul dengan orang-orang breman[1], hari-harinya dijalani dengan bermain-main, menikamati musik sambil menari-nari dengan memainkan tarian kuda lumping, begitulah kehidupan sang pangeran bersama orang-orang breman. 

Melihat kedaan anaknya yang semakin susah di atur Ibundanya kemudian menjadi sedih hati. Hingga suatu ketika, ketika Pangeran Jaya Kelana bersama teman teman sepergaulanya berpetualang memasuki Gowa Siuk di Kaki Gunung Ciremai, untuk melakukan penjelajahan, rupanya sang Pangeran  menghirup belerang dan seketika pingsan tak sadarkan diri didalam Gowa itu, sang pangeran kemudian dibawa ke Istana, seharian pangeran Jaya Kelana tak sadarkan diri. Setelah sadar kemudian ibundanya menasehati demikian nasihatnya “Anakku mengapa engkau selalu melakukan hal yang macam-macam, ketahuilah anakku, anak cucu wali itu tidak boleh naik gunung Ciremai, jangan menuruti ayahmu..” setelah mendapat nasihat Ibundanya itu, kemudian sang pangeran mencampakan Rebana, serta alat-alat musik lainya beserta Kuda lumping yang ia miliki. 

Setelah dua kali mengalami kejadian buruk akibat tingkah lakunya itu kemudian pangeran Jaya Kelana dikisahkan Insaf, beliau kembali menjadi anak seorang Raja sebagaimana layaknya, hari-hari beliau dihabiskan dengan belajar baik belajar tata sopan santun, Ilmu Agama dan lain sebagainya. 

Meskipun Pangeran Jaya Kelana hidupnya kini dihabiskan untuk belajar Agama, akan tetapi rupanya ilmu-ilmu yang ia dapat tidak meresap kedalam sanubarinya, pangeran ini tidak peka terhadap kehidupan orang-orang miskin, beliau dikata cenderung tak mau peduli terhadap orang-orang miskin.  

Meskipun demikian Pangeran ini kemudian merasa cukup dalam kemampuan beragama, beliaupun kemudian memutuskan untuk berlayar untuk menunaikan Ibdah Haji. Akan tetapi rupanya bencana ditengah lautan menghalanginya, kapal yang ia tumpangi kembali diterjang gelombang sehingga hancur berantakan, beliau terombang-ambing ditengah lautan sembari bersandar di sisa-sisa kayu Kapal. Beliaupun kemudian berhasil selamat, karena diselamatkan oleh nelayan. 

Mendapati kejadian buruk yang beberapakalinya menimpa anaknya itu, Ibunda Pangeran Jaya Kelana kemudian menasihatinya lagi katanya “Anakku engkau pamit hendak beribadah haji, akan tetapi karena kelakukanmu engka mendapatkan kemalangan, anakku, keturunan aulia di Cirebon itu tidak boleh naik haji sebelum ia mempedulikan dan mencintai orang fakir”. Pangeranpun kemudian terdiam tak berkata-kata. 

Setelalah peristiwa gagalnya Pangeran Jaya Kelana untuk menunaikan Ibdah haji, sang pangeran diceritakan aktif didalam masjid, beliau merasa sudah mahir dalam agama, ia pun kemudian mengajukan diri untuk menjadi Khotib Jumat di Masjid Kesultanan. Tentu saja para pengurus masjid tak dapat menolak permintaan anak Rajanya itu.

Namun yang terjadi justru membuat gempar seluruh Kesultanan Cirebon, Pangeran Jaya Kelana menjadi Khotib dan Imam Jumat tidak sesuai dengan syariat dan tata-cara Shalat Jumat yang telah ditetapkan kesultanan, sang Pangeranpun kemudian dianggap mencoreng Agama, dan dianggap batal menjadi Khotib oleh para ulama dan aulia dikesultanan Cirebon. Waktu kejadian ini Ayah beliau Syarif Hidayatullah tidak mnyaksikan peristiwa, karena beliau sedang melakukan kunjungan kenegaraan di Pajang. 

Para Awlia dan Ulama di Cirebon kemudian marah besar terhadap pangeran, diantaranya Syekh Datul Kahfi, Sunan Makdum, Syekh Hatim, Pangeran Kadarjati, Dan Fakih Abdullah. Para ulama tersebut kemudian mengajukan tuntutan ke Kesultanan agar sang pangeran dihukum[2]

Dibawalah kemudian Pangeran Jaya Kelana dalam pengadilan, namun ketika dibawa kepengadilan tak ada satupun hakim yang berani memutuskan hukuman apa yang tepat untuk dijatuhkan kepada pangeran, Mengingat waktu itu Syarif Hidayatullah sedang tidak ada di Cirebon. Hukuman kemudian ditunda. 

Setelah beberapa lamanya kemudian Syarif Hidayatullah selaku Sultan Cirebon I yang tak lain merupakan ayah dari Pangeran Jaya Kelana datang kembali ke Cirebon, mendapati laporan dari bahwannya soal kelakukan anaknya itu, kemudian Syarif Hidayatullah mengumpulkan seluruh pejabat, dan tamu Negara yang berada di Cirebon untuk menyaksikan penjatuhan hukuman bagi anaknya.

Dalam pengadilan tersebut kemudian Syarif Hidyatullah menjadtuhkan hukuman agar “Pangeran Jaya Kelana ditimbang bobot tubuhnya dengan uang dinar, setelah uang dinar itu menyamai bobot dari Pangeran Jaya Kelana kemudian uang itu dibagikan kepada orang miskin, selain itu pangeran Jaya Kelana juga dijatuhi hukuman buang, beliau dibuang ke sebuah pulau dilaut Utara Cirebon yang jauhnya 40 hari perjalanan kaki” Setelah peristiwa ini, kemudian Syarif Hidayatullah menetapkan agar janganlagi Para Pangeran menjadi Khotib Jumat di Kesultanan Cirebon. 

Catatan Kaki
[1] Breman, bahasa belanda yang bermaksud para begundal (Preman)


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search