Sejarah Kerajaan Banten, Masa Pendirian, Kejayaan dan Keruntuhannya

- Desember 28, 2017
Banten menjelma menjadi sebuah Kerajaan Islam yang Berdaulat di Pasundan terjadi pada tahun 1552 Masehi, Banten sebelum tahun ini merupakan Keadipatan/Kerajaan bawahan kerajaan lain, yaitu bawahan Kerajaan Pakuan Pajajaran (sebelum 1525) dan Demak (Setelah 1525 sampai 1552), penguasa Banten pada waktu itu disebut Pucukumun

Sebagai sebuah Kerajaan yang kini hanya menyisakan reruntuhan dan peninggalan-peninggalannya saja, tentunya Kerajaan ini sudah menjadi masa lalu, dan dari masa lalu Kerajaan Banten yang terpenting adalah masa ketika Banten didirikan, ketika Banten dalam masa Kejayaan dan ketika Banten pada masa Keruntuhannya. Oleh karena itu dalam artikel ini penulis akan menyuguhkan ketiga masa-masa penting itu.
1. Pendirian Kerajaan Banten
Kisah pendirian Banten menjadi sebuah Kerajaan Islam kira-kira dimulai pada tahun 1500, atau 52 tahun sebelum Kerajaan ini didirikan. Kisah pendirian Banten dimulai dari gerakan dakwah Raja Cirebon (Syarif Hidayatullah) untuk mengislamkan rakyat Banten, beliau terjun ke pelosok-pelosok desa di Banten untuk menyebarkan Islam disana, sementara Pemerintahan Kesultanan Cirebon diserahkan kepada uwaknya Pangeran Cakrabuana. 

Dalam menjalankan misinya itu, Syarif Hidaytullah merekrut 90 orang tim dakwah yang semuanya merupakan murid-muridnya, Sembilan puluh murid-murid Syarif Hidayatullahitulah itulah yang kemudian menjadi penerus dakwah Syarif Hidayatullah di Banten. Setelah beberapa lama dakwah di Banten rupanya Pucuk Umun Banten merasa tertarik dengan Syarif Hidayatullah, baik tertarik karena ahlaq maupun tertarik karena status Syarif Hidayatullah yang sebagai Raja Cirebon, Pucuk Umun kemudian memutuskan untuk menjalin hubungan kekeluargaan dengan Syarif Hidayatullah, beliaupun kemudian menikahkan adiknya yang bernama Nyaimas Kawunganten dengan Syarif Hidayatullah, dari perkawinan ini kemudian melahirkan dua anak, yaitu Ratu Ayu Winoan dan Pangeran Sabakingkin atau yang mempunyai nama lain  Maulana Hasanudin[1].

Setelah Maulana Hasanudin tumbuh menjadi seorang pemuda, beliaupun kemudian meneruskan misi ayahnya untuk mensyiarkan agama Islam di Banten. Sementara ayahnya pada waktu itu telah kembali memerintah di Cirebon. 

Pada Tahun 1522 Kerajaan Katolik Portugis mengadakan Perjanjian dengan Kerajaan Sunda, dalam perjanjian ini disepakati mengenai rencana pembuatan Benteng Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa, perjanjian ini juga berimbas pada orang-orang Islam di wilayah Kerajaan Sunda, dakwah Islam yang dahulnya bebas dilaksanakan kini dibatasi dan diawasi dengan ketat oleh Kerajaan Pajajaran. 

Banten yang pada waktu itu sebagai bahwan Kerajaan Pakuan Pajajaran tentunya kemudian mengikuti perintah atasannya untuk melakukan kegiatan pembatasan pada misi-misi dakwah Islam di Pasundan dengan tujuan membendung kekuatan-kekuatan orang Islam yang mengacam keberadaan Portugis di Malaka. 

Mendapati perjanjian Portugis-Sunda yang merugikan orang-orang Islam tersebut, kemudian Demak dan Cirebon mengadakan rencana invasi ke daerah-daerah pesisir barat Pajajaran yang memiliki pelabuhan, khusunya Banten dan Sunda kelapa. Misi dari invasi ini adalah mengagalkan Portugis untuk melemahkan Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. 

Pada tahun 1525 Pasukan Cirebon dan Demak menginvasi Banten dengan dibantu oleh Maulana Hasanudin, dalam invasi ini Banten berhasil dikuasai, setelah menaklukan Banten selanjutnya pasukan Gabungan Demak dengan Cirebon menginvasi Sunda Kelapa pada tahun 1527. Invasi ini juga berhasil. 

Keberhasilan Cirebon dan Demak merebut Banten pada tahun 1522 ini, kemudian ditindak lanjuti dengan mendirikan pemerintahan baru di Banten, atas usulan Raja Cirebon, akhirnya Banten kemudian dijadikan sebagai Negara Islam berdaulat dengan Raja Pertamanya Pangeran Sabakingkin atau Maulana Hasanudin. 

Mulai setelah dilantiknya Maulana Hasanudin menjadi Raja Banten itulah merupakan hari kelahiran Kerajaan Banten. Maulana Hasanudian dilantik menjadi Raja Banten pada Tahun 1552 atau 30 Tahun setelah penaklukan Banten oleh Cirebon dan Demak. Banten sebelum tahun ini merupakan bawahan Demak/Cirebon. 

2. Kejayaan Kerajaan Banten
Titik awal kejayaan Kerajaan Banten dimulai ketika Banten berhasil menaklukan Kerajaan Pajajaran pada tahun 1567 oleh Maulana Hasudin, kemudian dilanjutkan dengan penaklukan total kerajaan Pakuan Pajajaran pada tahun 1579 oleh Maulana Yusuf[2], penaklukan Pajajaran oleh Banten kemudian membawa Banten menjadi Kerajaan Adidaya di bagian barat pulau Jawa, masa kejayaan Banten kemudian diteruskan sampai pada pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, pada masa ini Banten mampu menguasai daerah-daerah diluar pulau Jawa.

Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa meletus konflik keluarga, Sultan Ageng berkonfilik dengan anaknya Sultan Haji, peristiwa ini terjadi pada tahun 1680, dalam peristiwa konflik keluarga ini rupanya Belanda memanfaatkan suasana, Belanda mendukung Sultan Haji untuk merebut tahta Kerajaan dari bapaknya, dan benar saja dalam konflik bersenjata itu kemudian Sultan Haji dapat mengalahkan ayahnya, dan mulai setelah itu kemudian Sultan Haji menduduki sebagai Raja Banten. Jaman Sultan Haji merupakan jaman pembuka keruntuhan Kerajaan Banten, sebab pada masa Sultan Haji dan Raja-raja setelahnya Banten banyak dipengaruhi oleh Belanda.

 
3. Keruntuhan Kerajaan Banten
Meskipun setelah Sultan Haji naik tahta, Banten dibawah kendali Belanda, akan tetapi kerajaan Banten masih bertahan hingga menelurkan beberapa Raja setelahnya, namun pada masa Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin yaitu pada tahun 1808 Banten kemudian benar-benar runtuh. 

Titik awal keruntuhan kerjaan Banten dimulai pada tahun 1808 masehi, pada tahun ini Banten terlibat konflik dengan Gubernur Jendral Hindia Belanda yang bernama Herman Wiliam Deandles, konfilik pada mulanya disebabkan oleh penolakan Sultan terhadap perintah semena-mena Herman Willem Daendels.

Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kota kerajaannya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebab bagi Sultan Pemindahan secara paksa Ibukota Banten dari tempat asalnya merupakan penghinaan pada kedaulatan Banten. Bahkan saking marahnya Sultan Banten memproklamirkan perang dengan cara membunuh utusan Deandles.

Mendapati pembangkangan Sultan Banten, Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Dan Ibukota Banten. Perang Banten Vs  Hindia Belanda dibawah Gubernur Deandles pun kemudian meledak, dalam peperangan ini Banten kemudian dapat ditaklukan, sementara Ibukota dan Istana Banten dibombardir, keduanya rata dengan tanah, Deandles hanya menyisakan Masjid Agung Banten.

Setelah kalah dalam peperangan Sultan Banten beserta keluarganya berhasil menyelamatkan diri, akan tetapi kemudian tertangkap dan dipenjarakan di Benteng Speelwijk, dan untuk selanjutnya dibuang ke Batavia. Dan tepat pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten masuk kedalam wilayah Hindia Belanda[3].

Meskipun dari mulai menjabat menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda Deandles mati-matian membangun Infrastruktur untuk mendukung kekuatan militer untuk mempersiapkan kemungkinan serangan dari Inggris akan tetapi tetap saja gagal, sebab pada tahun 1813, ternyata Inggris mampu merebut Wilayah Hindia Belanda. 

Wilayah Hindia Belanda pada masa Penjajahan Inggris ini dikepalai oleh Thomas Stamford Raffles, ia dikenal lebih kejam dari Deandles, tidak lama setelah menguasai Jawa, Raffles memutuskan bahwa Sultan Banten yang waktu itu masih hidup dilucuti gelar kebangsawananya, dan kemudian mengumumkan penghapusan total Kerajaan Banten dari wilayah Hindia Belanda[4]. Peristiwa inilah yang dijadikan titik tolak keruntuhan Kerajaan Banten.
 
Daftar Pustaka
[1] Nina H. Lubis, Banten Dalam Pergumulan Sejarah (Sultan, Ulama,Jawara). Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2003, hlm. 26-27.
[3] Sartono Kartodirdjo, (1966), The peasants' revolt of Banten in 1888: Its conditions, course and sequel. A case study of social movements in Indonesia, Martinus Nijhoff.
[4] R. B. Cribb, A. Kahin, (2004), Historical dictionary of Indonesia, Scarecrow Press


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search