Pemberontakan Buyut Urang Di Cirebon

- Desember 30, 2017
Buyut Urang adalah salah satu pahlawan asal Cirebon yang dijuluki perusuh, perampok oleh penjajah Belanda. Dinamakan Buyut urang karena beliau selalu menggunakan kata "Urang" ketika berbicara dengan lawan bicaranya. Kata "Urang"  dalam bahasa Sunda bermaksud "Aku". 

Dalam bahasa Sunda ada beberapa kata ganti tunggal yang memiliki arti "Aku" seperti kata  "Aing, dan Abdi" akan tetapi Buyut Urang ini memilih menggunakan kata "Urang" ketika berbicara, bahkan ketika berbicara menggunakan bahasa Jawa pun beliau selalu menggunakan kata "Urang". Sebab itulah orang Cirebon menamainya dengan nama Buyut Urang. Tidak ada kejelasan mengenai siapa nama aslinya. 
Buyut Urang
Menurut Naskah Mertasinga[1], Buyut Urang merupakan Keturunan Nyi Gedeng Dempul  yang juga dijuluki sebagai seorang penghianat karena dahulunya Nyi Gedeng Dempul ini pernah memberontak ke Kesultanan Cirebon.

Baca Juga: Pemberontakan Nyi Gedeng Dempul Pada Kesultanan Cirebon

Hampir seluruh Naskah Cirebon berbicara jelek mengenai Buyut Urang, hal ini wajar karena pada waktu itu Buyut Urang melakukan pemberontakan kepada pemerintah Cirebon yang sudah dikendalikan Belanda, dengan demikian tulisan-tulisan seputar beliaupun cenderung mendeskriditkan beliau. 

Buyut Urang merupakan bagian dari pejuang-pejuang yang memberontak kepada Pemerintah lokal di Wilayah Kerajaan Cirebon, pemberontakan ini dilakukan bersama-sama atau sejaman dengan dengan pemberontakan Bagus Rangin. 

Masih menurut Naskah Mertasinga, diceritakan bahwa pada mulanya markas Buyut Urang berada di Hutan Bakung (Kapetakan), beliau memberontak disertai temanya yang bernama Buyut Supethak, perjuangan beliau didukung oleh orang-orang Kandanghaur, Junti, Ciasem, Singareja, Karawang, Tarani, Jepura, Unggi, Ponthang dan Dermayu. 

Baca Juga:
Menghadapi upaya pemberontakan yang dilakukan Buyut Urang, pemerintah Cirebon kemudian menyusun kekuatan untuk melakukan penumpasan terhadap Buyut Urang.  

Pasukan penumpasan itu dipimpin oleh Patih Seminingrat. Bersama pasukannya Patih Seminingrat kemudian menyerbu markas Buyut Urang di hutan Bakung, dalam penyerbuan ini seluruh pasukan Buyut Urang diceritakan mengalami kekalahan telak, hingga sebagaian dari mereka tercerai berai dan melairan diri, biarpun demikian Buyut Urang masih dapat meloloskan diri. 

Dalam babad Indramayu, juga ternyata menggambarkan mengenai tokoh Buyut Urang ini, bahkan dalam Babad Indramayu dikisahkan mengenai kewafatan dari Buyut Urang. 

Dikisahkan bahwa Buyut Urang bersama pengikutnya melakukan serangan ke Indramayu, dalam penyerangan tersebut, ternyata mereka dihadang oleh para jawara Cina di Celeng. Perang antara pasukan Buyut Urang dan para Jawara Cina di Celeng ternyata batal, mengingat salah satu dari orang Cina tersebut merupakan teman akrab Buyut Urang. 

Merasa temannya, Jawara Cina tersebut mengingatkan Buyut Urang agar jangan melakukan serangan ke Indramayu, mengingat Indramayu sekarang telah dijaga tentara Belanda, namun rupanya nasihat temannya itu tidak digubris Buyut Urang. 

Benar saja, ketika melakukan penyerangan ke Indramayu, bala tentara pasukan Buyut Urang kemudian ditumpas oleh gabungan tentara Indramayu dan Belanda, dalam peperangan ini Buyut Urang gugur. Dan kemudian beliau dimakamkan di Desa Pemayahan Indramayu.

Referensi
[1] Lihat Naskah Mertsinga Pupuh LXXVI.01- LXXVI.11


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search