Pemberontakan Nyi Gedeng Dempul Pada Kesultanan Cirebon

- November 26, 2018
Nyi Gedeng Dempul
Selepas wafatnya Sunan Gunung Jati, serta beralihnya tahta kerajaan pada Panembahan Ratu rupanya pemberontakan demi pemberontakan terjadi di Cirebon, Jika dahulu ketika Panembahan Ratu baru dilantik , Kuningan yang memberontak , maka setelah itu muncul lagi pemberontakan yang lebih dahsyat, yaitu pemberontakan orang-orang Panjunan yang dipimpin oleh Nyi Gedeng Dempul.

Baca Juga: Kisah Pemberontakan Kuningan Ke Cirebon

Pemberontakan Nyi Gedeng Dempul Pada Panembahan Ratu, Raja Cirebon ke dua itu dikisahkan merepotkan barisan tentara Cirebon, bahkan Patih Rudamada merasa kewalahan sebab para pemberontak ini seperti tidak habis-habis, mereka jumlahnya sangat banyak.

Nyi Gedeng Dempul merupakan tokoh yang dituakan di Panjunan, dahulu sebelum ada Kesultanan Cirebon, Panjunan telah lebih dahulu ada di wilayah Cirebon, salah satu peninggalan yang dapat dilihat dari peradaban Panjunan adalah Masjid Merah Panjunan, masjid itu dikisahkan lebih tua umurnya dari Masjid Agung Kesultanan Cirebon.

Baca Juga: Peninggalan Kerajaan Cirebon Yang Masih Terawat

Waktu Sunan Gunug Jati masih hidup, orang-orang Panjunan mengakui kealiman Sunan Gunug Jati, sehingga meskipun mereka lebih tua, akan tetapi mereka bersedia untuk tunduk dan dibawah Sunan Gunung Jati.

Pada masa Sunan Gunug Jati memerintah maupun setelah kewafatannya, banyak orang-orang Panjunan yang diangkat menjadi orang-orang penting di Istana, salah satunya adalah Patih Rudumada, beliau merupakan Patih kelahiran Panjunan.

Jika waktu diperintah Sunan Gunug Jati, Nyi Ageng Dempul sudi menyembah, maka tidak demikian ketika Cirebon diperintah Panembahan Ratu, sebab Nyi Ageng Dempul merasa lebih alim dari Panembahan Ratu. Ia pun kemudian melancarkan pemberontakan yang tujuannya merampas tahta kerajaan dari Panembahan Ratu.

Panembahan Ratu yang mempunyai nama asli Pangeran Agung adalah cicit dari Sunan Gunung Jati, beliau merupakan anak dari Pangeran Dipati Carbon I bin Pangeran Pasarean, saat dilantik menjadi Sultan Cirebon umurnya baru 12 tahun, sebab itulah banyak wilayah-wilayah di Cirebon yang ingin memerdekakan diri mengingat Sultan mereka dianggap sama sekali tidak berwibawa.

Baca Juga: Biografi Panembahan Ratu, Sultan Cirebon ke II.

Gerakan pemberontakan yang dilancarkan oleh Nyi Gedeng Dempul dimulai dari pengumpulan dan pelatihan kepada calon pemberontak, pelatihan pasukan pemberontak itu dipusatkan di hutan Bakung, mereka dididik ilmu-ilmu peperangan dan silat sebagai upaya merebut Cirebon.

Upaya Nyi Gedeng Dempul dalam melatih dan mengumpulakan orang-orang yang bersedia melakukan pemberontakan itu rupanya tercium oleh pihak Kesultanan, tanpa menunggu lama, Patih Rudumada kemudian bertolak ke Hutan Bakung untuk melakukan penyergapan, akan tetapi sesampainya disana rupanya para Pemberontak telah menyingkir ke Junti, Patih kemudian mengejar pemberontak itu ke Junti, namun sesampainya di Junti rupanya pemberontak itu kembali menyingkir ke Kandanghaur.

Tanpa pikir Panjang, pasukan Patih Rudumada terus melakukan pengejaran ke Kandanghaur, tapi lagi-lagi pasukan Pemberontak itu rupanya telah menyingkir ke suatu daerah yang disebut Pesisir Ujung Tanah, sang Patih kali ini bergerak cepat dan langsung menuju ke Pesisir Ujung Tanah, benar saja sesamapainya ditempat itu mereka menjumpai Pasukan Nyi Gedeng Dempul.

Perang besar antara kedua pasukan kemudian meletus, tentara Cirebon berhasil membuat kocar-kacir Pasukan Nyi Gedeng Dempul, mereka banyak yang mati, akan tetapi pasukan mereka banyak sekali sehingga seperti tidak habis-habis.

Pasukan Cirebon yang lebih terlatih mampu mengendalikan peperangan, namun tak sanggup untuk segera mematahkan para pemberontak, meskipun demikian pemberontak dalam perang ini kalah telak, merekapun lari tanpa arah, bersembunyi digunung-gunug dan hutan menghindari kejaran tentara Cirebon.

Dalam peperangan itu, Nyi Gedeng Dempul selamat, dan kembali menyusun kekuatannya. Nyi Gedeng Dempul membuat huru-hara, mereka merampoki penduduk dan para musafir yang ditemuinya, sehingga rakyat menjadi tidak tentram.

Hasil rampokan Nyi Gedeng Dempul ini kemudian dapat digunakan lagi untuk membiyayai pemberontakan, mereka menyusun ulang kekuatan tempurnya dengan matang, harapanya agar mampu menghantam tentara Cirebon.

Patih Rudumada yang sudah muak dengan kelakuan para Pemberontak terus melakukan pengejaran pada Grombolan pemberontak, namun meskipun setiap kali perang selalu menang akan tetapi pasukan Pemberontak itu sepertinya tidak habis-habis, bahkan sulit sekali untuk menangkap Nyi Gedeng Dempul. Sang Patih pun merasa putus asa dan melaporkanya kepada Panembahan Ratu.

Waktu itu, di Cirebon sudah tidak ada lagi Wali, tidak ada penasehat kerajaan, hanya saja waktu itu Cirebon kedatangan seorang Wali Wanita bernama Nyi Gedeng Pancuran, beliaulah yang kemudian memberi nasehat kepada Panembahan Ratu mengenai bagaimana caranya menghadapi pemberontakan Nyi Gedeng Dempul.

Baca Juga: Nyi Gedeng Pancuran, Waliullah Wanita Puteri Sunan Ampel

Nyi Gedeng Pancuran memberi nasehat agar  Cirebon tidak usah memburu para Pemberontak, biarkan pemberontak itu menyerbu Cirebon, barulah ketika mereka menyerbu dengan kekuatan penuh habisi dan tangkap seakar-akarnya, begitulah nasehatnya.

Nasehat dari Waliyullah wanita putri Sunan Ampel itu kemudian dituruti oleh Panembahan Ratu, Cirebon dibuat sunyi, sehingga Nyi Gedeng Dempul menganggap Cirebon sudah tidak sanggup menghadapinya.

Dengan kekuatan penuh, Nyi Gedeng Dempul kemudian melakukan serangan besar-besaran ke Cirebon, melibatkan seluruh pemberontak, serangan ini dipimpin sendiri olehnya. Ketika ribuan pemberontak memasuki batas gerbang kota Cirebon, yaitu diwilayah yang disebut Karanggetas, Pasukan Nyi Gedeng Dempul dihalau oleh pasukan Cirebon, mereka dikepung dari segala penjuru.

Perang besarpun kemudian meletus di Karanggetas. Para Pemberontak ahirnya dapat dilumpukan, mereka dibuat tak berkuitik, bahkan mereka merasa kesaktian mereka hilang ketika memasuki Karanggetas, inilah sebabnya wilayah itu disebut Karaggetas, sebab konon, bila seseorang berniat buruk pada Cirebon, maka sesakti apapun dia manakala memasuki Karanggetas maka seketika kesaktiannya getas/tumpul, sebab itulah wilayah itu dinamakan Karanggetas.

Nyi Gedeng Dempul bersama sisa-sisa pasukannya yang masih hidup kemudian di seret ke Istana, mereka diadili, sebagaiannya dipenjara, akan tetapi ketika dalam pengadilan rupanya Nyi Gedeng Dempul bertaubat dan berjanji tidak akan memberontak lagi, ia pun mengakui Panembahan Ratu sebagai Sultan yang patut disembah dan dijungjung.

Karena merasa iba, dan pertimbangan persaudaraan dengan orang-orang Panjunan, Panembahan Ratu kemudian dikisahkan mengampuni Nyi Gedeng Dempul, ia pun kemudian dikembalikan lagi ke Panjunan sebagai orang terhormat.

Begitulah kisah mengenai pemberontakan Nyi Gedeng Dempul yang menghebohkan Cirebon, kisah mengenai pemberontakan ini dapat ditemui dalam naskah Mertasinga pupuh LXVIII.07-LXIX.08. Tapi kelak, di abad 18 ketika Cirebon sudah terpecah menjadi beberapa Kerajaan, keturunan dari Nyi Gedeng Dempul ini adalagi yang melakukan pemberontakan, ia bernama Buyut Urang.

Baca Juga: Pemberontakan Buyut Urang Di Cirebon 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search