Batok Kelapa Sakti, Pusaka Peninggalan Pangeran Cakrabuana

- Januari 08, 2018
Pangeran Cakrabuna selaku pendiri Cirebon memiliki beberapa peninggalan yang hingga kini masih dapat dijumpai di Cirebon, salah satunya adalah batok kelapa janggi, atau orang Cirebon pada masa dahulu kala menamai batok kelapa tersebut dengan nama batok kelapa sakti, mengingat khasiat dari batok kelapa itu dianggap sakti.

Batok kelapa Sakti atau Janggi, didapat Pangeran Cakrabuana ketika beliau mengembara di Afrika dan timur tengah, kisah pengembaraan itu dimulai dari lika-liku perjalanan hidup yang panjang.

Cakrabuana yang mempunyai nama asli Raden Walangsungsang merupakan anak tertua Prabu Siliwangi dari Permaisurinya Nyimas Subang Larang. Bersama saudara-sauadaranya ia mengikuti agama ibunya Islam. Bersama saudara perempuanya Rarasantang, ia memilih keluar dari Istana kerajaan Sunda untuk mencari guru agama Islam yang tersebar di tanah Sunda selepas kemangkatan ibunya. 

Kedauanya menjelajahi desa demi desa untuk mencari guru agama Islam yang kala itu masih sedikit. Sampai suatu ketika keduanya menemukan seorang alim bernama Syekh Nurjati di gunung sembung[1]

Keduanya belajar agama dengan ulet dan telaten, sampai-sampai Syekh Nurjati merasa sudah tidak dapat lagi memberikan ilmu-ilmu agama kepada keduanya, mengingat semua ilmu-ilmu agama yang diberikan olehnya telah dikuasi oleh keduanya. 

Mendapati kedua muridnya sudah memahami agama dengan sempurna, beliaupun memerintahkan keduanya untuk menyempurnakan agamanya, yaitu agar supaya keduanya menunaikan ibadah haji di tanah suci. Keduanyapun kemudian mematuhi perintah gurunya. 

Pada sekitar tahun 1430 masehi Cakrabuana berangkat ke tanah suci bersama-sama dengan adiknya Rarasantang. Ditanah suci keduanya menjalankan ibadah haji dengan Khidmat dan penuh dengan ketundukan pada sang cipta segala rasa. Kejadian mengharukan kemudian terjadi, adiknya Nyimas Rarasantang dipinang oleh seorang penguasa Mesir yang bernama Sultan Hud.

Keduanya kemudian menikah, setelah pernikahan itu, keduanya menetap di Mesir, sementara Cakrabuana tidak lama setelah pernikahan adiknya, kemudian meninggalkan Mesir dan pulang menuju Cirebon.

Baca Juga :
Pada saat beliau pulang menuju Cirebon itulah beliau menemukan buah yang mirip Kelapa di pantai Aden[2],  beliau menami buah kelapa itu dengan sebutan kelapa janggi. Batok dari Kelapa Janggi ini dizamannya dianggap sakti, sebab dengan batok kelapa ini Pangeran Cakrabuana yang tak lain merupakan pendiri Cirebon mampu menyembuhkan orang-orang yang keracunan di wilayah kekuasaanya. 

Biasanya orang-orang yang keracunan, diberikan air yang sebelumnya diletakan dalam cekungan batok Kelapa sakti itu, untuk kemudian diminumkan kepada orang-orang yang keracunan. Herannya yang keracunan itu kemudian sembuh. Kini batok dari buah kelapa janggi tersimpan di Musium Keraton Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Atas khasiat penyembuhan yang dilakukan Pangeran Cakrabuana dengan batok kelapa itu, kemudian ramai masyarakat Cirebon memeluk agama Islam dengan suka rela.  
Batok Kelapa Janggi Dalam Musium Keraton Kesultanan Kasepuhan Cirebon
Kelapa Janggi, sebenarnya merupakan buah yang mirip dengan buah kelapa, satu spesies, hanya saja kelapa ini berukuran raksasa, kelapa ini tumbuh di Afrika orang Arfrika menyebutnya Coco de Mer. Buah ini kini hampir punah, namun untungnya buah ini masih tumbuh di daerah Seychelles, sebuah negara kepulauan di lepas laut timur Benua Afrika. habitat aslinya ada di Vallee de Mai, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1983.
Anak Afrika Sedang Berpose didepan Pohon Kelapa Janggi
Coco de Mer merupakan tumbuhan langka yang dilindungi. Buah ini di habitat asalnya digunakan secara terbatas untuk dijadikan obat karena memang berkhasiat, dan salah satunya dapat berkhasiat menyembuhan dari dampak keracunan, tapi biarpun demikian buah ini tidak boleh diambil dari Vallee de Mai kecuali dengan izin karena memang masuk kedalam spesies tanaman yang dilindungi.
Kelapa Janggi Ketika Dibelah
Dalam kaitanya dengan penemuan buah Kelapa Janggi/ coco de mer oleh Cakrabuana ketika melakukan perjalanan Haji, pada nyatanya merupakan sebuah bukti bahwa memang Cakrabuana pernah melanglang buana sampai ke Afrika (Mesir), adapun khabar yang menyatakan mengenai penuman kelapa itu di pantai Aden (Yaman) ada kemungkinan penemuan itu dikarenakan kelapa tersebut hanyut dibawa pantai hingga kemudian mendarat di Aden dan untuk kemudian dipungut oleh Pangeran Cakrabuana.

Sementara mengenai kesaktian kelapa tersebut, memang telah terbukti, karena Kelapa tersebut hingga kini dapat dibuktikan kashasiatnya untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, diantaranya mengurangi efek keracunan atau bahkan menyembuhkannya.

Catatan Kaki
[1] Syekh Nurjati mempunyai nama lain Syekh Dzatul Kahfi, kini nama Syekh Nurjati digunakan sebagai nama Institut Agama Islam Negeri di Cirebon.
[2] Aden merupakan salah satu Kota Pelabuhan di Yaman


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search