Raja Kertajaya, Firaun Dari Kerajaan Kediri

- Januari 31, 2018
Firaun dalam masa Musa As mengaku sebagai Tuhan, begitupun dengan Raja Kertajaya, beliau dikisahkan mengaku sebagai Tuhan. Rakyat dan tak terkecuali Para Brahmana dipaksa menyembahya, bagi yang tak menurut akan dibunuhnya. 

Jika Firaun tidak punya kesaktian apa-apa maka tidak demikian dengan Raja Kertajaya beliau mampu duduk di atas tombak tajam yang berdiri. Begitulah salah satu gambaran kesaktiannya. Tapi akibat dari kekejamanya itu, diakhir hayatnya Raja Kertajaya mangkat dengan tragis.
Raja Kertajaya dalam sejarah dikisahkan sebagai Raja Ke tujuh Kerajaan Kediri. Beliau bertahta dari tahun 1185 sampai 1222, beliau bergelar Sri Maharaja Kertajaya. Eksistesi keberadaan Raja Kertajaya tercatat dalam prasasti Galunggung, prasasti Kamulan, prasasti Palah, dan prasasti Wates Kulon. 

Kisah Raja Kertajaya yang mengaku tuhan serta sanggup berbuat kejam bagi siapa saja yang tidak menyembahnya dikisahkaan dalam nasakh Pararaton. Perbuatan Raja Kertajaya yang mengaku tuhan itu kemudian di tentang oleh kaum pemuka agama. Para Brahmana menolak ketuhanan Kertajaya, meskipun ia dikisahkan mempertontonkan kesaktiannya didepan para Brahmana. 

Penolakan para Brahmana terhadap pengakuan Raja Kertajaya ternyata berakibat buruk bagi para Brahmana, mereka disiksa dengan kejam, bagi yang mengakui ketuhannya akan dibebaskan dari hukuman, sementara bagai yang tetap tidak mengakuinya akan disiksa sampai mati. 

Mendapati kelakuan Rajanya yang sudah keluar batas kewajaran, para Brahmana kemudian memilih menyigkir dari Kota Raja Kediri, sambil mendakwahkan kesesatan Rajanya kepada seluruh Rakyat Kerajaan yang ditemuinya.

Berbarengan dengan zaman itu, di Tumapel tersiar kabar bahwa Tunggul Ametung seorang Akuwu Tumapel, Adipati bawahan Kerajaan Kediri yang setia terhadap Raja Kertawijaya dibunuh oleh Prajuritnya yang bernama Ken Arok. 

Ken Arok kemudian secara sepihak memproklamirkan diri sebagai penguasa Tumapel yang baru, menggantikan Tunggul Ametung. Mendapati itu, para Brahmana yang sebelumnya terpencar-pencar menghindari kejaran Kerajaan Kediri berbondong-bondong meminta perlindungan kepada Ken Arok. 

Ken Arok dengan kecerdasannya memanfaatkan suasana. Ia mencari simpati rakyat melalui para Brahmana, ia berjanji kepada para Brahmana bahwa dirinya akan melakukan pemberontakan terhadap Kediri. Ia juga berjanji akan menaklukan Raja Kertajaya. 

Merasa butuh dengan Ken Arok kemudian para Brahmana menganugrahi gelar kesatria pada Kenarok dengan Gelar Bhatara Guru. Mulai setelah itu Ken Arok ditetapkan oleh para Brahmana sebagai perwujudan atau titisan Dewa. 

Gelar Bhatara Guru tersebut diyakini sebagai upaya pemberian kepercayaan kepada Ken Arok, karena pada waktu itu Raja Kertawijaya sesumbar bahwa dirinya hanya bisa dikalahkan oleh Dewa Siwa, dan sebagaimana diketahui bahwa Bhatara Guru merupakan nama lain dari Siwa. Oleh karena itulah para Brahmana memberikan gelar Bhatara Guru kepada Ken Arok.

Setelah Para Brahmana memberikan dukungan penuh terhadap Ken Arok, diangkatlah kemudian Ken Arok menjadi Raja Tumapel yang merdeka dari Kerajaan Kediri. Sementara para Brahmana selanjutnya mempengaruhi rakyat agar memberontak bersama-sama Ken Arok melawan Kediri. Rakyat kemudian berbondong-bondong membantu Ken Arok untuk mengalahkan Kediri.

Melihat Tumapel membangkang, maka Raja Kertajaya mengirimkan pasukanya untuk menyerang Tumapel. Tumapel digempur habis-habisan oleh Kediri. Namun karena Tumapel didukung para Brahmana dan Rakyat, maka serangan demi serangan Kediri dapat di tumpas.

Selalu mendapat kemenangan dari setiap pertempuran, Tumapel yang didukung rakyat kemudian bergantian menyerang balik Kediri. Kediri kemudian dapat dikalahkan. Ibu Kota Kerajaan dikisahkan dapat direbut. Dan dalam pertempuran terakhir yang mematikan dikisahkan Raja Kertajaya terbunuh.

Setelah Kediri dapat ditaklukan maka secara otomatis seluruh bekas wilayah Kerajaan Kediri masuk kepada kekuasaan Tumapel. Ken Arok kemudian mengubah nama kerajaannya dengan nama Singasari. 

Setelah itu kedudukan Kediri yang semula menjadi pusat Kerajaan berganti menjadi Keadipatian bawahan Singasari, meskipun demikian, Ken Arok mengangkat anak Raja Kertawijaya yaitu Jayasbaha sebagai penguasa Kediri selanjutnya.

Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, yang bernama Sastrajaya. Kemudian tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya yang bernama Jayakatwang, Kelak Jaya Katwang ini kemudian melakukan pemberontakan terhadap Singasari dan dalam pemberontakan itu Jaya Katwang dapat menaklukan Singasari, dan untuk selanjutnya beliau membangkitkan lagi Kerajaan Kediri.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search