Rara Tepasan, Istri Sunan Gunung Jati Yang Mengubah Adat Istiadat Sunda Dalam Keraton Cirebon

- Januari 11, 2018
Rara Tepasan adalah satu-satunya istri Sunan Gunung Jati yang berdarah Jawa, beliau dikisahkan sebagai istri yang paling cerdas dari istri-istri Sunan Gunung Jati lainnya. Beliaulah yang belakangan dikenal sebagai seorang yang berperan besar terhadap tata kelola dan penerapan adat-istiadat di Keraton Cirebon. Melalui tangan beliau sejarah penerapan adat istiadat Jawa di Keraton Kesultanan Cirebon dimulai.

Pada mulanya tata kelola Keraton Cirebon menggunakan adat istiadat Sunda, hal ini amatlah wajar sebab pendiri Kerajaan Cirebon (Cakrabuana) adalah pangeran dari Kerajaan Sunda oleh karena itu tata kelola pemerintahan termasuk didalamnya tata kelola Keraton dikelola dengan mencontoh tata kelola yang berlaku di Kerajaan Sunda. 
Setelah Sunan Gunung Jati memperistri Nyimas Rara Tepasan tata kelola pemerintahan Cirebon khususnya tata kelola Keraton menjadi berubah 90 drajat. Rara Tepasan merupakan orang yang bertanggung jawab dengan hilangnya adat istiadat Sunda dalam Keraton Cirebon sebab beliaulah yang menggantikannya dengan adat istiadat Jawa, beliaulah yang mengubah adat istiadat itu, Rara Tepasan adalah seorang Puteri Jawa, beliau merupakan anak Ki Gede Tepasan dari Majapahit[1].

Setalah menjadi Istri Sunan Gunung Jati, beliau dikisahkan sangat berpengaruh sekali dalam mengatur tata kelola keraton, beliau sedikit demi sedikit menerapkan budaya Jawa dalam tata kelola Keraton Cirebon yang pada kemudianya menghilangkan adat istiadat Sunda yang telah lama diterapkan didalam lingkungan Istana.

Pemberlakuan penetepan adat istiadat Jawa yang dilakukan oleh Rara Tepasan di lingkungan Keraton Cirebon dikabarkan mendapatkan persetujuan langsung dari Sunan Gunung Jati. Sehingga tidak ada satupun orang yang berani mempermasalahkannya.
Baca Juga : Keturunan Sunan Gunung Jati Dari Istr-Istrinya

Kisah Perkawinan Rara Tepasan Dan Sunan Gunung Jati

Kisah perkawinan Sunan Gunung Jati dengan Rara Tepasan yang dikisahkan dalam beberapa Naskah Cirebon[2] terbilang melankonis, sebab diceritakan bahwa, ketika berada di Majapahit, Rara Tepasan melihat cahaya putih yang memancar dari arah barat laut (Maksudnya Bhumi Sunda/Cirebon), sehingga ia ingin sekali melihat dan menemui cahaya itu. Iapun bersumpah jika sumber cahaya tersebut merupakan seorang perempuan akan dijadikan saudaranya, jika laki-laki akan dijadikan suaminya. 

Kehendak Rara Tepasan kemudian disampaikan kepada ayahnya Ki Gede Tepasan. Rupanya Ki Gede Tepasan kemudian mengabulkan dan mengantarkan anaknya ke sumber cahaya tersebut, dan benar saja, setelah didekati ternyata sumber cahaya tersebut adalah Sunan Gunung Jati yang pada waktu itu menjadi Raja Cirebon. 

Rara Tepasan dikirim ke Cirebon dengan diiringi seratus pengawal dan membawa harta kekayaan yang banyak, harta serta seratus pengawal tersebut kemudian tidak kembali ke Tepasan, semuanya kemudian tinggal di Cirebon menemani sang puteri. Sementara Rara Tepasan diserahkan oleh ayahnya ke Sunan Gung Jati untuk dijadikan istrinya.

Rara Tepasan merupakan istri ke empat Sunan Gunung Jati, dari perkawinan ini keduanya dianugerahi dua orang anak, yaitu (1) Ratu Ayu Wanguran, kelak dinikahi oleh Sultan Demak II (Pangeran Sabrang Lor), beliau juga kemudian dinikahi oleh Tubagus Pasai (Fatahilah) setelah Sultan Demak II tersebut wafat dalam Ekspedisi penyerangan Portuigis di Malaka (2) Pangeran Pasarean.


Kesimpulan

Memahami kisah yang dituturkan oleh Naskah Cirebon yang bernilai babad itu, penulis menduga bahwa Rara Tepasan ini merupakan alat diplomasi Majapahit untuk menjalin persahabatan dengan Kerajan Cirebon atau juga bisa dimaknai sebagai upaya dari salah satu bangsawan Majapahit untuk berlindung ke Cirebon, sebab pada waktu itu Negerinya dalam kondisi yang kurang setabil akibat terjadi banyak pemberontakan dan sedang menghadapi ketegangan dengan Demak. 

Cirebon digambarkan pada masa itu sebagai negara yang pamornya sedang nanjak di Sunda, sehingga cocok dijadikan tempat perlindungan maupun untuk menjalin kekerabatan, Keadaan Pamor Cirebon yang sedang naik daun itu dilukiskan oleh Rara Tepasan sebagai cahaya putih yang menerangi arah barat laut. 

Jika disetujui keruntuhan Majapahit disebabkan oleh Serangan Raja Demak ke II (Pangeran Sabrang Lor/Pati Unus), maka peristiwa perkawinan Sunan Gunung Jati dengan Rara Tepasan diperkirakan terjadi kurang lebih 25 tahun sebelum itu, sebab istri Raja Demak ke II merupakan anak dari Rara Tepasan (Ratu Ayu Wanguran).  

Catatan Kaki
[1] Dalam Naskah Kuningan beliau dikatakan cucu dari Sri Majapahit Angrerah
[2] Lihat Naskah Mertasinga Pupuh XXII.02 XXII.27)
 

Start typing and press Enter to search