Pembantaian Cibingbin Kuningan 1948

- Februari 09, 2018
Pada jam 05.30 menjelang magrib tahun 1948, sebanyak 266 rakyat di wilayah Cibingbin Kuningan yang tak menyadari kedatangan Belanda dibantai, 200 rumah penduduk hangus terbakar, sambil memekikan Takbir para pejuang kemerdekaan yang kebetulan berada di desa tu memberikan perlawanan semampunya meski kemudian Syahid diterjang peluru Belanda. Dalang peristiwa pembantaian tersebut adalah penghinat bernama Atmo seorang guru Sekolah Rakyat antek Belanda[1].
Ilustrasi Pembantaian Belanda. Img From Google
Kekejaman dan pembantaian yang dilakukan Belanda ini adalah tregedi terburuk yang pernah terjadi di wilayah Kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan Jawa Barat, dan bahkan masih menjadi memory kelam bagi orang-orang yang berhasil hidup pada waktu terjadinya peristiwa pembantian itu.

Baca Juga: 
Latar belakang dari peristiwa pembantian itu bermula dari hasil Perjanjian Renville 1947 antara Pemerintah RI dan Belanda, dimana dalam perjanjian itu, diputuskan bahwa Belanda tidak mengakui Jawa Barat sebagai wilayah Republik Indonesia, sehingga pejabat dan tentara Indonesia yang berada di Jawa Barat harus hengkang dari Jawa barat dalam tempo waktu yang ditentukan.

Meskipun perjanjian tersebut merugikan, Pemerintah RI kemudian menginstruksikan tentara Indonesia yang ada di Jawa Barat beserta pejabat-pejabat pemerintah RI untuk hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dimulailah kemudian hijrah besar-besaran tentara Indonesia divisi Siliwangi ke Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Jika tentara resmi Republik, hijrah ke Jawa Tengah maka tidak demikian dengan pejuang-pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam kelompok milisi-milisi bersenjata. Mereka tetap tinggal di desanya masing-masing, digunung-gunung sambil terus memantau keadaan desanya. Begitupun dengan milisi Sabilillah dibawah pimpinan Surya Dengkul. 

Surya Dengkul membangun markasnya di Cibingbin, ia mendirikan pemerintahan darurat disana, fikirnya Cibingbin itu Desa terpencil, tak mungkin Belanda akan ke Cibingbin. Dalam menjalankan pemerintahan darurat di Cibingbin, Surya Dengkul dengan mantap mebuat aturan-aturan rumah tangga pemerintahan, dari siapa pemimpinnya sampai pada peraturan soal pajak dan kas desa. 

Melalui peraturan ini rakyat diwajibkan mengumpulkan sebagai kecil hartanya untuk pemasukan kas desa yang bertujuan sebgai akomodasi penggerak pemerintahan Desa. Gerakan pengumpulan uang rakyat oleh Pejuang dari Milisi Sabillah ini rupanya tidak disukai oleh Atmo, seorang berpendidikan yang waktu itu berprofesi sebagai guru Sekolah Rakyat. 

Ia beranggapan pengumpulan uang tersebut adalah menyengsarakan rakyat, bahkan ia berfikiran bahwa pendirian pemerintahan darurat yang dilakukan oleh milisi Sabilillah itu tidak berdasar, karena baginya yang berhak menentukan pemerintahan itu adalah pemerintah yang sah yaitu Belanda. 

Merasa tak berani menghadapi pejuang Sabilillah, Atmo kemudian keluar dari pedalaman desa Cibingbin menuju Markas tentara Belanda di Malahayu Brebes. Ia menginfokan kepada tentara Belanda bahwa di wilayah Cibingbin terdapat segerombolan milisi Sabilillah yang membuat pemerintahan darurat. 

Mendapat laporan dari Atmo tersebut, Belanda mengirimkan 2 kompi untuk melakukan penyergapan. Peristiwa tersebut terjadi pada 16 Februari 1948. Dalam upaya penyergapan itu, pasukan Belanda memberangkatkan dua kompi yang terdiri dari satu kompi serdadu Belanda dan KNIL (Tentara Belanda yang anggtanya orang Pribumi) menuju Desa Cibingbin dengan petunjuk jalan bernama Walis dan Sarmin. Penunjuk Jalan tersebut dikabarkan memahami seluk beluk wilayah Cibingbin.

Kedua kompi pasukan Belanda itu tiba di Cibingbin kira-kira pukul 05.30 dengan menggunakan rute jalan Malahayu Brebes - Kampung Tenjomaya Desa Citenjo - Kampung Pasawahan-Desa Cibeureum - Kampung Cisampih Desa Cimara - Desa Ciangir - Kampung Cikamuning Desa Cipondok.

Mereka langsung mengepung Desa Cibingbin dan Desa Cipondok. Untuk menggali Innformasi yang pertama-tama maju dalah KNIL, karena memang KNIL ini adalah Pribumi yang menjadi tentara Belanda. Kepada penduduk, mereka mereka berbohong dengan mengatakan bahwa mereka adalah pasukan TRI (Tentara Republik Indonesia) yang ketinggalan hijrah ke Jawa Tengah/Yogyakarta sehingga rakyat Kecamatan Cibingbin tidak merasa curiga. 

Baru setelah serdadu Belanda kulit putih muncul dan kemudian melakuan penyerbuan dengan cara menembaki setiap penduduk yang ditemui, dan membakar rumah penduduk rakyat sadar bahwa mereka adalah musuh, sehingga suasana menjadi sangat kacau balau. Banyak penduduk yang tidak sempat meloloskan diri dan menjadi korban pembantaian penembakan oleh serdadu Belanda.

Setelah merasa sukses dalam melakukan penyergapan dan pembantaian terhadap pemerintahan darurat yang didirikan milisi Sabilillah di wilayah Cibingbin itu, Belanda dengan entengnya meninggalkan tempat kejadian, mayat-mayat para Syuhada bergelimpangan, sementara langit Cibingbin pekat dengan kepulan asap. 

Korban meninggal dan termasuk dua orang yang hilang, kemudian dapat di identifikasi penduduk yang selamat, mereka diketahui berasal dari berbagai wilayah yang berdekatan dengan Cibingbin (Kini masuk desa-desa dalam Kecamatan Cibingbin) mereka berasal beberapa desa, yaitu :Desa Cipondok 175 orang, Cibingbin 75 orang, Citenjo 7 orang, Sindangjawa 2 orang, Dukuhbadag 2 orang, Cibeureum 2 orang, Ciangir 2 orang, dan desa Cimara 1 orang

Dalam keadaan darurat, mereka dikuburkan secara biasa di pemakaman umum 195 orang, dikubur bersama-sama dalam satu lobang 60 orang dan dikuburkan di pekarangan rumah 9 orang. Pendataan korban yang teridentifikasi namanya sebanyak 190 orang, sedangkan sisanya 76 orang tidak diketahui namanya. 

Catatan Kaki 
[1] Intisari  Artikel di atas bersumber dari buku Perjuangan Rakyat Kuningan Masa Revolusi Kemerdekaan. Karya Dewan Harian Cabang 45. Kab Kuningan.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search