Tragedi Kuncir, Duel Yang Berujung Pada Kenestapaan Etnis Cina Di Cirebon

- Maret 25, 2018
Pada masa dinasti Qing berkuasa di Cina, yaitu dari mulai tahun 1644 sampai dengan 1911 Masehi, pemerintah kerajaan itu mewajibkan rakyatnya mengikuti gaya rambut Taucang. Yaitu mencukur semua rambut di setengah bagian kepala dan menyisakan yang di belakang untuk dikuncir.
Ilustrasi Kuncir Cina-Taucang
Orang-orang Cina yang berimigrasi ke Jawa pun pada masa dinasti Qing berkuasa masih mempertahankan gaya rambut tersebut sebagai ciri khas kebangsaan mereka, begitupun dengan orang-orang Cina yang bermigrasi ke Cirebon. 

Bagi orang-orang Cina yang tidak mengikuti gaya rambut Taucang konsekuensinya fatal, bisa dihukum penggal oleh Kerajaan. Sebab itulah orang-orang Cina yang bermigrasi ke Jawa pada masa itu menggap rambut Kuncirnya itu merupakan mahkota yang sangat berharga, sebab tanpa rambut Kuncir mereka tidak akan dapat menginjakan kakinya lagi di Negara leluhurnya.

Pada Abad ke 19 akhir di Wilayah Cirebon (Indramayu-Cirebon), pernah terjadi tragedi memilukan, dimana terjadi pemotongan paksa kuncir orang-orang Cina oleh Pribumi. Kisah bermula dari duel antara Baba King San Vs Raden Sanusi. Dalam duel itu rupanya Baba King San dapat dikalahkan oleh Raden Sanusi. Akan tetapi rupanya baba King San tidak dapat menerima kekalahan dengan legowo. 

Baba Kingsan kemudian meminta bantuan Baba King Wan dan orang-orang Cina lainnya untuk menyerbu Kediaman Raden Sanusi. Tampa gentar sedikit pun Raden Sanusi yang kebetulan mempunyai banyak santri itu menyambut serbuan Baba King San.  Konflik berujung gawat setelah pribumi lainnya marah besar selepas serbuan yang dilancarkan etnis Cina ke kediaman Raden Sanusi. 

Pribumi kemudian bergerak tanpa kontrol memburu orang-orang Cina dengan melakukan kekerasan yang berujung pada pemotongan Kuncir-kuncir orang Cina yang ditemui. Malangnya dalam tragedi ini, orang-orang Cina lainnya yang tak tahu menahu duduk persoalan awal pun kena getahnya. Mereka di intimidasi tanpa ampun. Kuncir yang sejatinya sebagai mahkota mereka kemudian dibabad habis oleh Pribumi yang terlanjur marah.

Kisah mengenai tragedi kuncir tersebut dikisahkan pada naskah Sedjarah Kuntjit yang ditemukan di Indramayu, naskah ini pada hari ini dimiliki oleh Ki Marsinih, yang bertempat tinggal di Desa Munduk Jaya Blok Munjul Kec Cikedung Kab Indramayu. Adapun spesifikasi naskah Sedjarah Kuntjit adalah sebagai berikut:
Judul
:
Sedjarah Kuntjit[1]
Jenis
:
Sejarah
Bentuk
:
Puisi
Bahasa
:
Jawa
Aksara
:
Pegon
Warna Tinta
:
Biru Muda
Alas Naskah
:
Kertas Bergaris
Sampul
:
Kertas Sampul Buku Tulis
Ukuran Naskah/Blok Teks
:
20.5 x 16.5 cm/ 17 x15 cm
Jumlah Halaman
:
36 Halaman
Jumlah Baris Per Halaman
:
12 baris
Jarak Antar Baris
:
1.3 cm
Penulis
:
Ki Abdullah/Jaka Sari
Tahun Penulisan
:
Kamis 1 Mulud 1918 (?)

Daftar Bacaan.
[1]. Info naskah di dapat dari. Christomy dan Nurhata. 2016. Katalog Naskah Indramayu. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
 

Start typing and press Enter to search