Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ratu Kaliyamat, Rinha De Jepara Senhora Poderosa Erika

Ratu Kalinyamat merupakan penguasa wanita Kerajaan Jepara yang perkasa, dibahwah kepemimpinanya Jepara mencapai puncak Kejayaannya. Pada masa beliau juga Jepara tercatat pernah mengirimkan sebanyak  300 Kapal perang dan 15.000 tentara untuk  merebut Malaka dari Portugis. Atas keperkasaan Ratu Kalinyamat inilah kemudian Potrugis menjulukinya dengan julukan Rinha De Jepara Senhora Poderosa Erika[1] yang bermaksud Ratu Jepara Yang Kaya Lagi Perkasa. 
Ratu Kalinyamat merupakan pueteri Sultan Trenggono Sultan Demak Ke III, nama aslinya adalah Ratna Kencana, dinamakan Ratu Kalinyamat dikarenakan sepeninggal suaminya beliau menggantikan posisinya menjadi Ratu (Raja) di Jepara yang waktu itu beribukota di Kalinyamat. Jadi Kalinyamat sendiri bermaksud Ibukota Kerajaan Jepara.

Suami Ratu Kalinyamat adalah Pangeran Hadrin, yang merupakan Raja atau Penguasa Jepara, Suaminya dibunuh oleh  Arya Penangsang karena membela keluarga Sultan Trenggono. Ratu Kalinyamat hidup pada masa Demak sedang digoncang perebutan tahta. Biarpun demikian Justru dibawah kepemimpinannya Jepara pada nyatanya mampu mengungguli kekuatan Demak Jipang yang waktu itu di pimpin oleh Arya Penangsang. 

Secara resmi, Ratu Kalinyamat dilantik menjadi Ratu di Jepara setelah kematian Arya Penangsang, Arya Penangsang dapat di bunuh oleh Pasukan Gabungan Jepara dan Pajang pada tahun 1549. Semenjak dilantik menjadi Ratu Jepara, Ratu Kalinyamat dengan sekuat tenaga dan fikirnanya membangun Jepara dengan sungguh-sungguh. Beliaupun juga banyak menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan diluar pulau Jawa. Maka jaman pemerintahannya inilah Jepara menjadi negeri yang kuat dan makmur. 

Keperkasaan Jepara dibawah kepimimpinan Ratu Kalinyamat didasarkan dari berita Portugis yang melaporkan bahwa ada hubungan antara Ambon dan Jepara. Pemimpin pemimpin “Persekutuan Hitu” di Ambon ternyata beberapa kali meminta bantuan Jepara melawan Portugis dan juga melawan suku yang lain yang masih seketurunan, yaitu orang orang Hative[2]

Keperkasaan dan Kekayaan Jepara di bawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat juga tergambar dari usahanya menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1550 yang kemudian diulanginya pada tahun 1574.

Menurut De Couro[3] pada tahun 1550 Raja Johor menulis sepucuk surat pada Ratu Kalinyamat, mengajak ratu Jepara itu melakukan perang suci melawan orang orang Portugis di Malaka. Dalam surat itu Raja Johor juga menyatakan, di Malaka telah terjadi kekurangan bahan pangan.

Ratu Kalinyamat menjawab seruan itu dengan mengirim sebuah armada yang kuat. Dalam serangan tersebut telah muncul 200 buah kapal besar dari negeri negeri Islam yang telah bersekutu menyerang Malaka, 40 buah diantaranya berasal dari Jepara, memuat 4 sampai 5 ribu orang prajurit. Armada itu dikepalai oleh seorang Jawa yang disebut dengan julukan "Sang Adipati".

Ratu Kalinyamat diperkirakan memerintah hingga 1579. Penggantinya adalah Pangeran Jepara. Sejarah Banten menyebutkan bahwa putra mahkota Jepara yang bernama Pangeran Aria atau Pangeran Jepara adalah putra angkat Ratu Kalinyamat, ia sejatinya merupakan putra Raja Banten Sultan Hasanuddin.

Ratu Kalinyamat diperkirakan memimpin Jepara selama 30 tahun dimulai dari tahun 1549-1579, selama memerintah beliau memilih menjadi janda, sebab ia lebih suka dalam masa pemerintahannya digunakan untuk mensejahterakan rakyat dan mendakwahkan Islam di wilayah pantai Utara pulau Jawa.

Pasca kewafatan Ratu Kalinyamat, kejayaan Jepara berangsur-angsur menurun hingga akhirnya pada tahun 1593 Mataram menyerbu Jepara dan tahun 1599 babad sengkala memberitahukan bedahe Jepara yang bermaksud runtuhnya Jepara sebagai sebuah kerajaan Merdeka.


Daftar Pustaka

[1] Panitia Hari Jadi Jepara, Sejarah Dan Hari Jadi Jepara, (Jepara: 1988), hlm. 18.
[2] DR. H.J. Dee Graff, Awal Kebangkitan Mataram, (Jakarta: Grafiti Press, 1985) hlm.130
[3] Hartoyo Amin Budiman, Komplek Makam Ratu Kali Nyamat,(Jateng: Proyek Pengembangan Musium Jateng, 1982),hlm. 26