Kiai Haji Sholeh Darat, Maha Guru 3 Pahlawan Nasional Indonesia

- April 21, 2018
Meskipun murid-muridnya kini dikagumi banyak orang, bahkan diangkat menjadi Pahlawan Indonesia seperti KH. Hasyim As’ari pendiri NU, KH Ahmad Dahlan Pendiri Muhamadiyah dan RA Kartini pahlawan emansipasi perempuan Indonesaia, tapi rupanya nama Kiai Soleh Darat tidak setenar murid-muridnya. Biarpun demikian jasa Kiai Sholeh Darat sungguh luar biasa untuk kemajuan agama bangsa dan negaranya.
Kiai Haji Sholeh Darat mempunyai nama aseli  Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani, Beliau lahir di Kedung Cemlung, Jepara Jawa Tengah pada tahun 1820 M, dan wafat di Semarang pada 18 Desember 1903 M. Dijuluki Kiyai Shaleh Darat karena beliau mendirikan Pesantren di Daratan Pesisir Kota Semarang. 

Sebelum menjadi maha guru bagi para santri-santrinya, Kiai Haji Shaleh Darat berguru kepada banyak ulama, pada mulanya ia berguru kepada Bapaknya sendiri Kiai Haji Umar yang merupakan ulama sekaligus mantan pejuang Islam yang pernah bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Selanjutnya beliau juga berguru kepada Kyai Haji Syahid, ulama besar di Waturoyo, Pati, Jawa Tengah, Kyai Haji Muhammad Saleh Asnawi Kudus, Kyai Haji Ishaq Damaran, Kyai Haji Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni (Mufti Semarang), Kyai Haji Ahmad Bafaqih Ba’alawi, dan Kyai Haji Abdul Ghani Bima.

Setelah Kiai Sholeh muda puas berguru kepada ulama-ulama di Pulau Jawa, beliaupun kemudian berangkat ke Mekah untuk menunaikan Ibadah Haji sembari menuntut ilmu di Mekah, disana beliau berguru kepada Syekh Muhammad Al-Muqri, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah Al-Makki, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nahrowi, Sayyid Muhammad Saleh bin Sayyid Abdur Rahman Az-Zawawi, Syekh Zahid, Syekh Umar Asy-Syami, Syekh Yusuf Al-Mishri dan Syekh JamAl-(Mufti Madzhab Hanafi).

Selain berguru kepada beberapa ulama di Mekah, beliau juga kemudan selema beberapa tahun diizinkan mengajar disana, sebelum akhirnya beliau pulang kembali Ke Jawa untuk menyebarkan ilmu agama yang beliau dapat kepada masayarakat Jawa. 

Sekepulangannya dari Mekah, Kiai Shaleh Darat kemudian membangun Pesantren di Semarang, karena ilmuanya yang luas serta bijak dalam menjelaskan persoalan-persoalan agama, Kiai Shaleh Drat kemudian menjadi popular, banyak orang tua yang menitipkan anaknya untuk di didik oleh Sang Kiai. Dan diantara murid-muridnya itu adalah KH. Hasyim As’ari yang kelak menjadi Pendiri NU, KH.Ahmad Dahlan yang kelak menjadi pendiri Muhamadiyah. 

Selain mengajar di Pesantren Kiai Soleh Darat juga tak menolak jika diminta mengajarkan Islam untuk para pembesar, dan diantara Pembesar yang memohon untuk diajarkan agama adalah keluarga besar Bupati Jepara. Disinilah RA Kartini belajar Agama Islam. 


Melalui bimbingan KH Sholeh Darat, RA Kartini kemudian dikisahkan amat begitu mengagumi penjelasan demi penjelasan tentang Isi alquran yang dipaparkan oleh Kiai Soleh Darat. Bahkan Surat RA Kartini yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” terinspirasi dari penjelasan Kiai Shaleh Darat ketika menjelasakan suatu ayat dalam al-Quran yang berbunyi “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya” (Q.S. al-Baqoroh: 257).


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search