Syekh Magelung Sakti, Pengelana Berambut Gondrong Dari Mesir

- Mei 01, 2018
Syekh Magelung sakti dalam cerita dan tradisi Cirebon disebutkan sebagai seorang laki-laki Mesir yang gondrong sejak lahir. Beliau dikisahkan berkelana dari satu tempat ke tempat lain demi untuk mencari orang yang mampu memotong rambut gondrongnya, ia sendiri dan bahkan guru-gurunya tidak mampu memotong rambutnya. 

Kasus Syekh Magelung sakti ini mirip dengan kasus bocah gimbal di lereng gunung dieng, dimana rambut bocah gimbal tersebut tidak boleh sembarangan memotongnya, sebab jika dipotong dengan tanpa perhitungan yang matang bisa menyebabkan sakit atau bahkan bisa menyebaban kegimbalan rambut bocah yang bersangkutan semakin menjadi-jadi. 
Tidak ada kejelasan mengenai siapa nama asli dari Syekh Magelung Sakti, nama Syekh Magelung sakti sendiri sebenarnya merupakan julukan yang mempunyai maksud seorang Syekh (kiai) yang memiliki rambut panjang  yang digelung. Dan karena rambut tersebut kebal dicukur maka untuk kemudian dikataan sakti. 

Kelainan yang di alami oleh Syekh Magelung Sakti ini pada nyatanya membuat beliau tak nyaman, dari rasa ketidak nyamananya itu beliau kemudian meninggalkan mesir untuk berkelana mencari seseorang yang sanggup memotong rambutnya. Tapi setiap negeri yang ia datangi belum ada satupun yang sanggup memotong rambutnya. 

Kisah pengembaraan Syekh Magelung Sakti kemudian terhenti di Cirebon, sebab ketika beliau menginjakan kaki di Cirebon ternyata Sunan Gunung Jati mampu memotong rambut Gondrongnya, beliaupun kemudian berguru kepada Sunan Gunung Jati.

Setelah menjadi murid Sunan Gunung Jati, Syekh Magelung Sakti dikisahkan banyak membantu kemajuan Kesultanan Cirebon. beliau kemudian diangkat oleh Sultan Cirebon menjadi penguasa di Desa Karang Kendal sebagai hadiah dari jasa-jasanya, dan setelah menjabat sebagai penguasa Karang Kendal, beliau juga kemudian dikenal dengan nama Pangeran Karang Kendal. 

Ada kisah menarik seputar kedatangan Syekh Magelung Sakti. Beliau mendarat di Cirebon, ketika Nyimas Ganda Sari sedang melakukan Sayambara untuk mencari Suami. Dalam Sayambara itu Nyimas Gandasari  menantang para pembesar di wilayah Kesultanan Cirebon untuk bertarung dengannya. Bagi yang mampu mengalahkannya maka imbalannya dijadikan suaminya. 

Dalam Sayambara ini dikisahkan tidak ada satupun para pembesar Cirebon yang mampu mengalahkannya.  Syekh Magelung Kakti yang pada waktu itu kebetulan menyaksikan Sayambara itu kemudian terjun kemdan laga, beliaupun dikisahkan mampu mengalahkan Nyimas Gandasari. 

Karena merasa Syekh Magelung Sakti sebagai tamu yang tak diundang, Nyimas Gandasari menolak untuk dinikahi Syekh Magelung Sakti, meskipun ia mampu mengalahkannya. Dalam masa-masa kisruh inilah kemudian Sunan Gunung Jati yang tak lain merupakan Guru dari Nyimas Gandasari menegahi. Dari pertemuan pertama antara Syeh Magelung Sakti dan Sunan Gunung Jati inilah kemudian peristiwa pemotongan rambut Syekh Magelung sakti itu dilakukan.  Syeh Magelung kagum akan kesaktian Sunan Gunung Jati dan akhirnya memohon untuk diterima menjadi muridnya. 

Syekh Magelung Sakti wafat di Karang Kendal dan dimakamkan disana, makamnya hingga kini dapat dijumpai di Karang Kendal, Sebuah desa yang kini masuk pada wilayah Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search