Latar Belakang Terbunuhnya Imam Syafii

- Agustus 24, 2018
Riwayat kehidupan Imam Syafii ini terbilang unik, selain dituduh oleh muridnya sendiri Ahmad bin Hambal (Imam Hambali) sebagai seorang yang pemikirannya terpengaruh dan lebih condong terhadap Madhab Syiah, beliau juga ternyata wafat karena dibunuh, beliau dikroyok oleh murud-murid Syekh Fityan seorang Fuqoha yang gemar mengungkit-ngungkit masalah Khilafiyah dalam agama[1].

Imam Syafii wafat pada malam Jum’at 28 Rajab Tahun 204 H pada usia 54 tahun tidak lama setelah peristiwa pengroyokan. Begitulah akhir hayat dari Imam Agung yang madhabnya kelak di ikuti oleh mayoritas umat muslim di asia tenggara. Kini Imam Syafii makamnya dapat di temui di Basyebah Kairo Mesir.
Makam Imam Syafii. Mesir
Tragedi pengroyokan yang dialami Imam Syafii dilatar belakangi oleh keluarnya Qoul Jadid dalam pemikiran-pemikirannya, beliau merevisi sebagaian pemikiran-pemikiran lamanya setelah beliau melalnglang buana mencari ilmu dan diskusi keagamaan bersama beberapa ulama  Mesir, sebelumnya memang dalam pemikiran lamanya yang disebut Qoul Qodim itu beliau berhaluan Madhab Maliki.

Pemikiran-pemikiran Imam Syafii dalam Qoul Jadid itu membuat sebagaian orang menjadi buruk sangka, bahkan muridnya sendiri Imam Hambali beranggapan bahwa gurunya sudah dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Madhab  Syiah. Selain ditinggalkan oleh sebagian kecil muridnya, rupanya keluarnya  Qoul Jadid juga membuat marah seorang  Fuqoha fanatik bernama Fityan.

Fityan ini dikisahkan sebagai murid seperguruan dari Imam Syafii, ia murid Imam Malik, akan tetapi wataknya dikisahkan suka mengungkit-ngungkit masalah Khilafiyah, seperti masalah Qunut dan tidak Qunut dalam shalat subuh, maslah Bid’ah dalam agama dan pembagiannya dan lain sebagainya.

Tidak lama setelah Imam Syafii mengeluarkan Qoul Jadid dalam pemikiran-pemikirannya, Imam Syafii ditantang untuk berdebat mengenai suatu masalah oleh Fityan. Dalam perdebatan itu dikisahkan nampak sekali kebodohan Fityan, sebab ia tidak bisa memberikan tanggapan terhadap pendapat yang diajukan Imam Syafii. Kekalahan itu ternyata ditanggapi oleh Fityan dengan amarah dan dendam[2].
Setelah peristiwa perdebatan itu, Fityan dikisahkan mengejek Imam Syafii dalam tiap-tiap pengajiannya dengan tuduhan yang sangat menyakitkan, sehingga mempengaruhi murid-muridnya untuk membenci Imam Syafii. Namun semua itu ditanggapi oleh Imam Syafii dengan perasaan tenang.

Berjalannya waktu, ejekan dan sikap permusuhan Fityan dan murid-muridnya ternyata membangkitkan amarah pengikut Imam Syafii sendiri, mereka tidak terima gurunya dituduh yang macam-macam, para murid Imam Syafii ini kemudian melaporkan penghinaan yang dilakukan oleh Fityan kepada Gubernur Mesir.

Fityan kemudian diseret ke pengadilan, dipengadilan ia diadili dengan tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik, dalam pengadilan itu ternyata Fityan dipustuskan bersalah, ia pun kemudian mendapatkan hukuman cambuk. Setelah peristiwa putusnya hukuman itu sejenak pengikut Imam Syafii merasa puas, akan tetapi rupanya tidak demikian dengan pengikut Fityan, benci dan amarah mereka semakin berapi-api terhadap Imam Syafii, mereka merencanakan menyakiti Imam Syafii yang dianggap telah mempermalukan gurunya.

Dan benar saja, ketika Imam Syafii tinggal sendirian, sekelompok orang yang tak lain pengikut Fityan datang dan langsung melakukan penganiyayaan, mereka memukuli Imam Syafii yang sudah sepuh dan sakit-sakitan itu dengan membabi buta, Imam Syafii terjatuh dan langsung pingsan. Imam Syafii kemudian ditemukan oleh murid-muridnya dalam keadaan luka dan berdarah-darah. Manakala Imam Syafii hendak dibawa berobat beliau berbisik kepada murid-muridnya bahwa akhir hayatnya sudah dekat, sehingga tidak lama dari peristiwa pengeroyokan itu Imam Syafii menghembuskan nafas terakhirnya.

Baca Juga : Biografi dan Riwayat Hidup Imam Syafii

Catatan Kaki
[1] Nachrowi, Asrifin. 2005. Lima Imam Agung. Surabaya: Jawara Hlm 66
[2] Ibid. 67


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search