Peristiwa Pagarage, Perang Cirebon Vs Banten Yang di Kompori Mataram

- Agustus 05, 2018
Pada tahun 1650 Kesultanan Mataram yang kala itu diperintah oleh Amangkurat I, berbeda ambisi dengan ayahndanya Sultan Agung,  Jika di zaman Sultan Agung  Mataram sangat berambisi menaklukan Batavia dari VOC Belanda, maka tidak demikian dengan Amangkurat I. Ia justru berkawan dengan Belanda dan begitu bernafsu menaklukan Banten.

Baca Juga : Mataram Islam, Keajaan Yang Lahir dari Amuk Gunung Merapi

Percobaan penaklukan Banten oleh Kesultanan Mataram dibawah Amangkurat I dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menekan menantunya Panembahan Girilaya yang kala itu sebagai Raja Cirebon untuk dapat menyeret Banten untuk sesegara mungkin menyembah Mataram.

Sementara disisi lain, Panembahan Girilaya rupanya bekerja setengah hati untuk melakukan penaklukan, sebab Banten merupakan saudara sendiri, sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati. Biarpun demikian,  perang antara Cirebon Vs Banten yang dikompori Mataram tetap meletus. Peristiwa peperangan itu dikenal dalam sejarah Banten dengan nama Pagarage, peristiwa peperangan tersebut berlangsung pada 22 Desember 1650.
Istilah Pagarage sendiri bermaksud suatu peristiwa serbuan Negara Garage terhadap Banten. Istilah Garage sendiri merupakan nama lain dari Kerajaan Cirebon. Serbuan ini sebenarnya serbuan Mataram yang menggunakan bendera Cirebon. Amangkurat I memanfaatkan Kewibawaan Cirebon sebagai orang tuanya Banten dengan harapan Banten mau menuruti kehendak Cirebon untuk takluk dibawah Mataram.

Tapi, prediksi Amangkurat I rupanya meleset, sebab dua utusan Kerajaan Cirebon yang dikirim ke Banten dengan jalan diplomasi ditolak oleh Banten. Sultan Banten dikisahkan tidak mau tunduk dibawah Raja manapun, selain pada Sultan Mekah yang sering mengirimkan surat kepadanya yang berisi pelajaran-pelajaran yang berhikmah.

Penolakan Sultan Banten atas ajakan Cirebon itu membuat murka Amangkurat I, melalui Bendera Cirebon, Mataram menyerang Banten. Tapi serangan yang dilancarkan pada 22 Desember 1650 itu dapat dipatahkan Banten.

Peristiwa Pagarege 22 Desember 1650 itu menurut Wahyu (2010:237), membuat kecewa Banten atas Cirebon, Banten merasa sakit hati pada Cirebon karena lebih memilih kepentingan Mataram ketimbang ikatan keluarga sesama ketrunan Sunan Gunungjati. Sementara di sisi lain Panembahan Girilaya yang setengah hati melakukan upaya penaklukan kredibilitasnya jatuh dimata Amangkurat I. Cirebon dianggap tidak loyal pada Mataram, apalagi ditambah-tambah Cirebon banyak menampung para pelarian dari Mataram. Cirebon dibawah Panembahan Girilaya seperti buah simalakama, disatu sisi dijauhi Banten, disatu sisi lagi dianggap penghianat oleh Amangkurat I.
Masjid Kesultanan Banten
Puncaknya, ketika Amangkurat I berniat menghapuskan Kerajaan Cirebon dengan cara menahan Panembahan Girilaya bersama Putra mahkotanya, yang mana peristiwa itu kemudian menyebabkan terbunuhnya Panembahan Girilaya dan terbuangnnya Putera Mahkota Kerajaan Cirebon, Banten tidak bereaksi selama 16 tahun. Barulah setelah 16 tahun kewafatan Panembahan Girilaya, Banten baru bertindak, mungkin sakit hatinya dikalahkan oleh darah persaudaraan sesama ketrunan Sunan Gunung Jati, tapi yang jelas Banten kemudian berhasil menyelamatkan Putera Mahkota Cirebon, dan untuk kemudian  mengangkatnya menjadi Raja Cirebon yang baru.

Baca juga : Kertawijaya dan Mertawijaya, Calon Raja Cirebon yang disekap Mataram

Peristiwa penyelamatan Putera Mahkota Cirebon dibawah sekapan Mataram itu baru terjadi antara tahun 1677-1678, dimana pada waktu itu Amangkurat I sedang menghadapi pemberontakan dari rakyatnya sendiri. Pemberontakan yang pada kemudiannya menghancurkan Kesultanan Mataram dan menewaskannya dalam pelarian.

Daftar Bacaan
Wahyu, N. Aman. Sejarah Wali.Syarif Hidayatullah. Sunan Gunung Jati. Naskah Mertasinga. 2010. Hlm 237


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search