Seni Gulat Sampyong, Lambang Ketangguhan Lelaki Sunda

- Agustus 19, 2018
Setiap bangsa tentu memiliki cara tersendiri untuk menguji ketangguhan para lelakinya dalam bertarung, seperti dalam budaya Romawi ada  gladiator, dalam budaya Jepang ada Sumo, dalam budaya barat abad pertengahan ada tinju, dalam budaya Mongol ada gulat, begitupun juga pada sebagian masyarakat Sunda, memiliki cara tersendiri dalam menguji ketangguhan laki-lakinya, salah satunya yaitu dengan cara gulat Sampyong. Kata Sampyong sendiri dipercayai berasal dari kata “Sam” yang berarti “Tiga” dan “Pyong” yang berarti “Pukulan”
Berbeda dengan tinju atau gulat yang menggunakan tangan kosong, maka Sampyong merupakan seni gulat dengan menggunakan senjata pukul berbentuk tongkat yang panjangnya kira-kira 1 sampai 1,2 meter, senjata pukul tersebut terbuat dari rotan tua yang ukurannya sama dengan besarnya tangan seorang remaja.

Sampyong dimainkan hanya dengan dua orang, peserta bisa siapa saja, tidak dibatasi yang penting laki-laki yang sudah dewasa, gelaran gulat ini biasanya digelar dilapangan desa atau semacamnya, biasanya didakan pada acara unjungan buyut (ulang tahun pendirian desa).

Dalam gulat sampyong ada aturan baku yang harus di turuti, yaitu tidak boleh memukul selain betis sampai ujung kaki, dalam kata lain petarung tidak boleh memukul bagian paha, sampai ujung kepala, Selain itu dalam seni gulat ini juga petarung hanya boleh mengayunkan pukulannya selama 3 kali pukulan saja, sementara lawannya sebisa mungkin menghindar sebelum menerima giliran untuk memukul, jika melanggar maka dikeluarkan dari arena dan dianggap kalah.

Dalam gulat sampyong ini memang terbilang mendebarkan, sebab biasanyanya lawan yang kakinya terkena sabetan rotan akan terkapar bahkan sulit untuk mampu bangkit dan bisa jalan lagi. Bahkan efek dari gulat Sampyong ini biasa fatal, bisa cacat karena patah tulang, atau yang paling rendah-rendahnya bengkak-begkak.

Seni Gulat Sampyong kini masih dapat dijumapai di daerah Indramayu dan Majalengka, pada tahun 1997-1998 an, pertunjukan ini masih marak dilaksanakan, hanya saja memang pada waktu itu rupanya kesenian Gulat Sampyong ini menyebabkan maraknya  kerusuhan di desa-desa yang disebabkan oleh pihak-pihak yang kalah tidak menerima kelahan, sehingga menimbulkan perang antar pemuda dan kerusuhan antar desa, sehingga pada tahun 1999 Pemerintah melarang pagelaran gulat Sampyong.

Kini, gulat Sampyong hanya menjadi semacam pertunjukan seni saja, pagelaran Gulat Sampyong hanya ditampilkan sebagai candaan saja, tidak benar-benar digelar sebagaimana lazimnya, tujuannya hanya melestraikan budaya saja.Kalau pun digelar dengan sungguh-sungguh pagelaran gulat ini harus seijin dan pengawasan aparat kepolisian atau tentara.

Tidak ada kejelasan mulai kapan Sampyong itu ada, akan tetapi, menurut kisah orang tua terdahulu, bahwa seni Gulat Sampyong itu adalah gelaran pertarungan untuk menjaring calon tetara kerjaaan Sunda, jadi siapa yang jago dalam gulat sampyong nya, maka ia kemudian akan direkrut menjadi tentara kerajaan, atau minimal-minimalnya centeng desa.

Kaki atau yang dalam bahasa sunda disebut “Suku” merupakan lambang kekuatan orang Sunda, semakin kaki seoerang kuat menapaki beban, maka semakin kuat pula pamor laki-laki itu, maka tidak mengherankan jika orang-orang Sunda yang masih menjaga tradisi, seperti Suku Baduy di Banten hingga kini masih mengandalkan kakinya untuk melakukan segala kegiatan, mereka tidak mau bermanja-manja menaiki kendaraan baik kuda, ataupun kendaraan moderen sejenisnya, bagi mereka mengandalkan kakinya sendiri adalah bukti bahawa mereka tangguh.

Selanjutnya jika benar bahwa orang-orang Baduy merupakan sisa-sisa tentara Kerajaan Sunda yang lebih memilih mengungsi ke hutan selepas kehancuran kerajaannya, maka sepertinya ada korelasi dengan tradisi Sampyong, sebab dalam tradisi gulat ini yang dicari adalah orang-orang yang kuat kakinya, untuk kemudian direkrut menjadi tentara kerajaan. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search