Mengenal Seni Pertunjukan Sandiwara Asal Indramayu

- Agustus 19, 2018
Seni Pertunjukan bukanlah suatu hal yang baru di Indonesia. Seiring perkembangan zaman, seni pertunjukan di Indonesia semakin berkembang pula, baik itu seni pertunjukan tradisional maupun seni pertunjukan modern. Dan diantara seni tradisonal yang masih bertahan hingga kini khususnya di Indramayu adalah seni pertunjukan Sandiwara.

Sandiwara adalah istilah yang diciptakan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunegara VII. Istilah sandiwara berasal dari kata sandi yang berarti rahasia dan wara yang berarti pengajaran[1]. Jika disimpulkan bisa berarti pengajaran yang disampaikan secara rahasia atau pesan yang tersirat.

Sandiwara sendiri merupakan jenis karya seni dua dimensi yaitu sebuah karya seni yang dapat dipandang sebagai karya sastra (naskah atau teks) dan seni pertunjukan. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

Pada kenyataannya, sandiwara sebagai seni pertunjukanm dimana dalam pertunjukannya menampilkan lakon drama dan tembang lagu- membutuhkan naskah lakon yang merupakan seni sastra. Sebaliknya, seni sastra sandiwara dapat diimplementasikan melalui sandiwara sebagai seni pertunjukan. Kendati demikian, tidak semua jenis sandiwara menggunakan naskah sebagai kendali cerita dalam pementasannya, karena ada beberapa grup sandiwara yang melakukan pertunjukan dengan cara improvisasi setelah mendapat pengarahan dari sutradaranya, seperti grup-grup sandiwara asal Indramayu.

Sepanjang akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, memang telah berkembang sandiwara berbentuk Stambul, Ludruk dan Kethoprak, berlanjut dengan kemunculan Orion dan Darnadella yang kesemuanya berfungsi sebagai media hiburan. Namun, eksistensinya kalah setelah masuknya dunia perfilman ke Indonesia. Kedatangan Jepang telah mengembalikan eksistensi dunia persandiwaraan[2].

Sandiwara pada masa Jepang memiliki perbedaan dalam hal fungsi dan ideologi dengan masa sebelumnya. Jika pada masa colonial Belanda sandiwara sebagai media hiburan yang membawakan tema-tema hiburan seperti dongeng-dongeng atau cerita lokal Indonesia, maka pada masa Jepang adalah sebagai mediasi propaganda yang sudah pasti membawakan tema-tema propaganda.

Berlanjut pada masa setelah kemerdekaan, sandiwara masih dijadikan media propaganda dan legitimasi partai politik. Contohnya, partai PNI yang menggunakan sandiwara untuk kampanye. Fenomena ini terjadi sampai pada masa yang dikenal sebagai peristiwa tragedi nasional 1965.

Beragam kesenian yang berkembang sampai saat itu dibubarkan dan beberapa diantaranya membubarkan diri –seperti kelompok sandiwara di Indramayu-. Namun, semangat para seniman tidaklah luntur setelah pembubaran masal itu. Beberapa seniman mencoba meniti kembali dan menghidupkan sandiwara. Akhir tahun 1960-an merupakan masa kebangkitan kembali kesenian sandiwara. Menghadirkan kembali wajah persandiwaraan dengan image dan kesan yang baru.

Fenomena budaya ini juga terjadi di wilayah kabupaten Indramayu. Berdasarkan administratif, wilayah Indramayu termasuk wilayah Jawa Barat dengan etnis Sunda. Meski demikian, Indramayu bukanlah wilayah yang semua masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-harinya. Masyarakat Indramayu hampir secara keseluruhan menggunakan bahasa Jawa.

Dalam kehidupan sehari-harinya seperti halnya masyarakat Cirebon. Hal ini dikarenakan letak geografis wilayah Cirebon dan Indramayu sebagian merupakan wilayahnya pesisir pantai utara yang strategis sebagai sentral perdagangan. Masuknya Islam pada abad ke-15 sampai ke-16, diantaranya lewat syiar Islam Sunan Gunung Jati yang menggunakan bahasa Jawa semakin mempertegas pengaruh Jawa secara kebudayaan di wilayah tersebut. Oleh karenanya, Cirebon dan Indramayu memiliki dua bahasa ibu, yakni bahasa Sunda dan Jawa.

Kabupaten Indramayu juga merupakan salah satu wilayah yang memiliki banyak komunitas kesenian seperti sandiwara, tarling, organ tunggal, singa dangdut, sintren, wayang (wayang kulit, wayang cepak, dan wayang golek), barokan, topeng, jidur, dombret dan genjring umbul. Sandiwara di Indramayu merupakan salah satu kesenian yang masih dilestarikan masyarakatnya sampai saat ini. Perkembangan zaman dan persaingan yang semakin kuat tidak menyurutkan semangat para seniman sandiwara untuk terus melanjutkan kiprahnya di belantika dunia perteateran Indonesia.

Kesulitan dan hambatan memang selalu terjadi dalam jalannya perputaran hidup. Kehidupan persandiwaraan pun tak luput dari berbagai rintangan dan tantangan. Sampai saat ini masih terhitung cukup banyak sandiwara yang bertahan di Indramayu seperti grup sandiwara Darma Saputra, Indra Putra, Lingga Buana, Aneka Tunggal, Bina Remaja Indah, Dwi Warna, Sang Putra Darma, Galu Ajeng, Candra Sari dan lain sebagainya.

Cerita yang ditampilkan biasanya berasal dari babad, legenda dan sejarah. Para pemain atau bisa dikatakan artis panggung berasal dari tempat tinggal yang berbeda. Sistem perekrutan artis baru dilakukan langsung oleh pemimpin, dan untuk perekrutan artis yang sebelumnya sudah berpengalaman maka sistemnya sama seperti dalam perekrutan para pemain bola, misalnya yaitu dengan membeli pemain dari grup A untuk pindah ke grup B. Adapun pola pementasannya dibagi dalam tujuh sampai delapan babak yang dimulai dari tetalu [3] sampai babak penutup.
Pertunjukan Sandiwara Asal Indramayu
Sebagaimana bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat Indramayu, sandiwara-sandiwara asal Indramayu juga menggunakan bahasa Jawa Dermayon. Meski sebagian besar masyarakat Jawa Barat menggunakan bahasa Sunda, tapi persoalan bahasa ini nampaknya bukan suatu hambatan karena pada kenyataannya sandiwara-sandiwara asal Indramayu ini tidak kehilangan peminatnya baik masyarakat setempat atau luar kabupaten Indramayu.

Sejak awal kemunculannya, yaitu tahun 1950-an, sandiwara asal Indramayu baru mencapai puncak kejayaannya pada dekade akhir abad ke-20. Pada tahun 1970-an, kesenian sandiwara mulai merambat ke luar kabupaten seperti ke Majalengka, Cirebon, Brebes, dan sebagainya. Namun memasuki tahun 2000-an, sandiwara ini mulai terpinggirkan dan kurang diminati masyarakat. Perubahan selera ini bisa dikaitkan dengan perubahan zaman yang semakin maju serta kemunculan grup-grup kesenian seperti merebaknya grup Organ Tunggal di Indramayu.

Catatan Kaki
[1] R. B. Slametmuljana. Bimbingan Seni-Sastra. (Djakarta: J. B. Walters, 1951), hlm. 173.
[2] Edi Sedyawati, dkk.,Sejarah Kebudayaan Indonesia: Seni Pertunjukan dan Seni Media. (Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2009), hlm. 117
[3] Tetalu/Taluan, Istilah bebunyian musik gamelan sandiwara dll yang dimainkan sebelum pertunjukan inti


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search