Biografi, Rupa dan Watak Sultan Agung menurut Sumber Lokal dan Asing

- Oktober 22, 2018
Sultan Agung Hanyokrokusumo adalah salah satu dari raja Mataram yang berkuasa setelah masa pemerintahan Panembahan Senopati (1584-1601) dan Panembahan Hanyakrawati atau juga disebut Panembahan Krapyak (1601-1613). Nama kanak-kanknya adalah  Raden Mas Jetmiko yang berarti "sopan dan rendah hati’’, kemudian ia diberi nama Pangeran Rangsang yang berarti "bergairah’’.

Ia merupakan putra pertama dari Prabu Hadi Hanyakrawati dan Ratu Mas Adi Dyah Banawati putri dari Pangeran Benowo yakni Prabu Wijaya. Ayahnya adalah seorang raja kedua kerajaan Mataram. Ia dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 14 November 1593M dan wafat pada tahun 1645M di Yogyakarta. 2 Versi lain mengatakan bahwa Sultan Agung dilahirkan pada tahun 1591M di Kotagede, Yogyakarta.

Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri yakni Ratu Kulon dan Ratu Wetan. Adapun yang disebut Ratu Kulon adalah putri dari Sultan Cirebon yang melahirkan Raden Mas Syahwawrat atau "Pangeran Alit". Sedangkan yang disebut Ratu Wetan adalah putri dari Pangeran Adipati Hupasanta, seorang Adipati dari Batang yang melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I).

Sultan Agung terkenal sebagai raja Mataram yang tangkas, cerdas, dan taat dalam menjalankan agama Islam. Oleh sebab itu, pada masa pemerintahannya, kerajaan Islam Mataram mencapai puncak kejayaannya dan menjadi kerajaan terbesar di pulau Jawa pada saat itu.
Ilustrasi Gambar: Filem Sultan Agung Karya Hanung
Menurut kesaksian salah seorang saudagar dari Eropa yakni Balthasar van Eyndhoven, ia menyatakan bahwa Sultan Agung adalah seorang Sultan yang tidak bisa dianggap remeh.

Wajahnya kejam, layaknya kaisar dengan dewan penasehatnya yang memerintah dengan keras, seperti memerintah sebuah negara besar. Pada tahun 1614, Balthasar bersama Van Surck pergi ke mataram untuk mengucapkan selamat atas pengangkatan raja sebagai pemangku pemerintahan.

Pada saat itu ia mengira bahwa usia raja sekitar 23 tahun, oleh sebab itu Sultan diperkirakan lahir pada tahun 1591. Sultan Agung dikenal sebagai raja yang kuat, bijaksana, cakap, dan cerdik dalam menjalankan roda pemerintahan hingga kehidupan perekonomian masyarakat Mataram berkembang sangat pesat karena didukung oleh hasil bumi Mataram yang melimpah ruah.

Wilayah kekuasaan Mataram juga bertambah luas setelah masa pemerintahan Sultan Agung, oleh sebab itu ia dikenal sebagai raja Mataram yang terkenal dengan ekspansi wilayahnya.

Mengenai keadaan fisik Sultan, Dokter H. de Haen menyatakan bahwa Pangeran Ingalaga ini adalah seorang yang berada pada puncak kehidupannya, berusia kurang lebih 20 atau 30 tahun dan berbadan bagus.

Kulitnya sedikit hitam daripada orang Jawa pada umumnya, hidungnya kecil dan tidak pesek, mulut datar dan agak lebar, kasar dalam berbahasa, lamban jika berbicara, berwajah tenang dan bulat, serta kelihatan cerdas. Akan tetapi, jika ia memandang orang di sekelilingnya seperti singa. Dalam hal ini, De Haen mengira bahwa Sultan Agung lahir sekitar tahun 1592-1594 karena ia menulis ini pada tahun 1622.

Adapun mengenai penampilan Sultan, pakaian yang dikenakannya juga cukup menarik perhatian. Pakaian yang dikenakannya tidak jauh berbeda dengan pakaian orang Jawa pada umumnya yang terbuat dari kain dalam negeri berbatik putih biru.

Sultan juga menggunakan kopyah dari kain linen yang dipastikan adalah kuluk putih yang sejak masuknya agama Islam dikenakan oleh mereka yang taat atau yang ingin dianggap taat beribadah. ditambah lagi dengan keris di badan bagian depan serta ikat pinggang dari emas. Pada bagian jemarinya dihiasi cincin dengan banyak intan yang gemerlapan. Keris di sini dipakai di depan yang berbeda dengan kebiasan orang-orang Jawa pada umumnya.

Gambaran di atas berbeda dengan keterangan seorang utusan Jan Vos yang juga pernah memperhatikan raja pada tahun 1624. Baju yang dikenakan Sultan adalah sebuah kain batik panjang dari Koromandel dengan pola mosaik, panjang 5,10 m dan lebar 64 cm.

Kerisnya sederhana dipakainya di bagian belakang badan, dan jari-jarinya dihiasi dengan cincin bermata empat atau lima butir intan, badan bagian atas diberi baju dari beledu hitam dihias gambar daun-daun keemasan dalam bentuk bunga yang tersusun. Bahkan juga sempat diberitakan bahwa Sultan memakai terompah dari kayu, seperti sekarang ini yang masih dipakai orang muslim yang saleh. Selama audiensi Sultan merokok pipa yang berlapis perak yang dilarang keras bagi para pembesarnya.

Dari sini dapat diketahui bahwa keterangan mengenai penampilan Sultan Agung memang bermacam- macam. Namun demikian, sedikit banyak bisa dibanyangkan bahwa penampilan raja ke tiga dari kerajaan Mataram ini sangat terlihat ke-Jawaannya.

Begitulah tentang penampilan Sultan. Adapun mengenai sifat-sifatmya yang menarik perhatian adalah sifat ingin tahu, dan bertindak tegas. Sifat keingintahuannya terlihat dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan Sultan kepada De Haen tentang peta dunia. Sultan ingin melihat letak negara Belanda, Inggris, dan Spanyol. Ia juga menanyakan tentang arti-arti sebuah nama termasuk nama para gubernur jenderal pun ingin diketahuinya. Selain pertanyaan yang diajukan hanya untuk menambah pengetahuan, masih ada juga pertanyaan yang berhubungan dengan politik, misalnya tentang jumlah meriam di Banten.

Tentang ketegasannya, sebagaimana yang ditulis De Graff, Jan Vos telah mendengar anekdot tentang sebuah permainan yang biasanya disebut mirobolani, yaitu adu kemiri yang sekarang ini sudah menjadi permainan anak laki-laki. Atas perintah Sultan, beberapa orang diharuskan mengikuti permainan ini.

Ketika empat pembesar dituduh bermain curang, Sultan memerintahkan agar kuda-kuda mereka segera diambil dari rumah mereka masing-masing untuk dipenggal lehernya di hadapan pemiliknya. Kemudian Sultan berkata bahwa jika ia kelak menjumpaui mereka berbuat curang lagi, ia akan memperlakukan sama dengan apa yang sekarang dilakukan terhadap kuda-kudanya.

Begitu kerasnya Sultan dalam bertindak, juga dialami oleh seorang tahanan yang malang, yang tanpa ampun dilemparkan ke buaya- buaya hanya karena ia dituduh melakukan perbuatan sihir. Hal yang sama juga dialami oleh serdadu tahanan, ia dicincang sebanyak enam potong hanya sebagai bukti kemarahannya.

Sumber-sumber domestik juga menyinggung sifat pemarah sultan yang menimbulkan ketakutan, misalnya, setelah mendengar pemberontakan di Sumedang dan Ukur, semua pejabat istana duduk terpaku karena ketakutan, tak seorang pun berani berkutik pada waktu itu, masing-masih merunduk ke bawah. Sultan tidak segan-segan memberikan perintah yang mengerikan kepada para pasukannya yang diberangkatkan, perintah untuk memusnahkan seluruh penduduk, membunuh laki-laki, merampas wanita dan anak-anak, merampok harta benda yang bergerak, serta membakar rumah-rumah. Namun demikian, ia menyadari bahwa pengawasan yang keras lebih baik daripada menimbulkan rasa takut.

Di samping dikenal sebagai seorang yang berwatak keras, Sultan adalah sosok raja yang tidak mudah percaya dengan orang lain, bahkan termasuk keluarganya sendiri. Ia beranggapan bahwa di lingkungannya yang terdekat, juda terdapat seorang penghianat, paling tidak pembohong. Menghadapi kondisi semacam ini, ia hanya dapat bersikap selalu waspada.

Ia juga seorang raja Mataram yang gemar berburu. Begitu senangnya ia dalam berburu, sampai-sampai ia mengalami suatu petualangan yang akibatnya melahirkan suatu kewajiban bagi semua keturunannya. Pada suatu hari, Sultan dengan pengiringnya, wanita dan pria bersenang-senang di taman Keraton. Ia bertemu dengan seekor kijang jantan yang sangat liar. Kijang tersebut menyerang Sultan, tetapi Sultan siap siaga. Ia menggunakan tombak pendek dan akhirnya hewan ini terkena dadanya, sehingga darahnya menyembur keluar. Hewan ini masih sempat maju sampai ia mendekat dengan Sultan dan melukai pahanya. Sultan tidak merasakan apa-apa, sedangkan kijang tersebut mati. Kemudian Sultan berkata bahwa untuk mencegah kecelakaan tidak seorang pun dari keturunannya diperkenankan menggunakan tombak seperti itu lagi yang terbuat dari kayu wregu.

Adapun mengenai ketaatannya pada agama Islam juga menarik untuk dibahas. Ada pendapat bahwa sebelum tahun 1633 Sultan Agung hanya lahiriyah saja memeluk agama Islam dan baru setelah tahun itu lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Pendapat ini dapat dibenarkan dengan diberlakukannya tarikh Islam. Memang dalam cerita lisan, Raja terkenal sebagai seorang muslim yang saleh, bahkan mempunyai kekuatan untuk secara teratur mengikuti shalat Jum’at di Mekah.
Sebagai seorang raja yang taat dalam beragama, ia tekun menjalankan perintah agama dan beribadah. Meskipun demikian, Sultan Agung tetaplah orang Jawa yang leluhurnya telah berabad-abad menjalankan tradisi yakni menghormati arwah para leluhurnya.

Sultan Agung memang teratur pergi ke masjid, hal ini berbeda dengan para penggantinya yang hanya mengirim pejabat istana ke masjid untuk shalat jum’at, tetapi ia sendiri tetap di rumah. Seperti itulah gambaran Sultan tentang ketaatannya pada agama Islam, ada beberapa petunjuk bahwa sejak sebelum berlakunya tarikh Islam, Sultan Agung sungguh-sungguh dalam mentaati peraturan agama Islam.

Bahwa setelah dewasa ia lebih keras dalam hal ini, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang-orang di sekelilingnya. Pada tahun 1630 M para prajurit mataram dapat dikenali dengan ciri khas mereka yang berambut pendek dan memakai kuluk putih. Tidak lama sebelum ia wafat, Sultan juga menyuruh untuk memangkas rambutnya. Hal ini merupakan petunjuk bahwa Sultan agung memang raja mataram yang taat beragama. Van Goens menggambarkan Sultan sebagai tokoh yang mempunyai pengetahuan luas tentang watak seseorang, kearifan yang mendalam, dan sebagai orang yang berhati keras.

Baca Juga: Polemik Penobatan Sultan Agung Menjadi Raja Mataram

Sumber Bacaan:
[1]Aminudin Kasdi, Kepurbakalaan Sunan Giri: Sosok Akulturasi Kebudayaan Indonesia Asli, HindhuBudha dan Islam Abad 15-16 (Surabaya: Unesa University Press, 2005) hlm 26
[2]Arief Gunarso,Sultan Agung Hanyokrokusumo, Ensiklopedia Pahlawan Nasional (Jakarta:
Tanda Baca, 2007), 8.
[3]Bakdi Soemanto, Cerita Rakyat dari Yogyakarta 3 (Yogyakarta: Grasindo, 2003) hlm 3
[4]Graff, Puncak Kekuasaan Mataram, hlm 126
[5]Komandoko, Atlas pahlawan Indonesia, hlm 322.
[6]Purwadi, Sejarah Raja-raja Jawa, hlm 300. 


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search