Riwayat Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur

- Oktober 21, 2018
Sultan Hasanuddin adalah salah satu Sultan Kerajaan Gowa-Tallo yang dijuluki Ayam Jantang dari timur oleh Belanda, sebab memang Sultan ini merupakan Sultan yang terbilang jago dalam melawan Belanda, dibawah kepemimpinannya martabat orang-orang Makasar melambung tinggi, namun demikian, dibawah pemerintahannya juga Kerajaan Gowa kemudian dapat ditaklukan Belanda dan sekutunya.

Biografi dan Masa Kanak-Kanak

Sultan Hasanuddin lahir pada tanggal 12 Januari 1631, beliau merupakan Raja Gowa ke 16. Ayahnya adalah Sultan Muhammad Said Raja Gowa ke 15. Semasa kecil Sultan Hasanuddin diberi nama I Malambasi oleh orang tuanya. Waktu itu, Ayahnya belum menjadi Raja Gowa, Baru setelah I Mallambasi berumur delapan tahun, Ayahnya diangkat menjadi Raja Gowa. I Mallambasi belajar Al-Qur’an pada umur 8 tahun. Setelah mulai mengaji, namanya diganti menjadi Muhammad Bakir.

Muhammad Bakir mempunyai otak yang cerdas, kemauan yang keras dan pantang menyerah. Pada waktu itu pendidikan untuk anak-anak raja dan bangsawan dipisahkan dari rakyat biasa, Walaupun mendapat pendidikan yang terpisah Muhammad Bakir tetap bergaul bersama teman-temannya yang berasal dari golongan rakyat biasa, Bahkan Muhammad Bakir sangat marah jika ada anak bangsawan yang sombong terhadap rakyat. Di samping pendidikan agama, pengetahuan umum juga diberikan kepada Muhammad Bakir. (Kutoyo, 2010: 15-21)

Masa Remaja hingga Pengangkatannya Sebagai Sultan Gowa

Pada umur 15 tahun Muhammad bakir tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa. Badannya kuat, perawakannya tinggi besar, suaranya lantang, jalannya gagah seperti panglima perang. Muhammad Bakir mempunyai wibawa yang besar dan juga rasa kemanusiaan yang luhur. Setelah berumur 20 tahun, Muhammad Bakir diikutkan oleh ayahnya dalam soal-soal negara. Sultan Muhammad Said telah menetapkan bahwa Muhammad Bakir kelak akan memangku jabatan Raja. Saat Muhammad Bakir berusia 22 tahun.

Sultan Muhammad Said wafat, Muhammad Bakir lalu naik tahta sebagai Raja Gowa ke 16, jika mengikuti adat kebiasaan, Muhammad Bakir tidak berhak menduduki tahta karena lahir sebelum ayahnya menjadi Raja. Walaupun begitu, putra mahkota yakni Daeng Matawang bersedia menyerahkan tahta kepada Muhammad Bakir, beserta permaisuri dan keluarga bangsawan menyetujui pengangkatan Muhammad Bakir sebagai Raja Gowa ke 16 dengan gelar Sultan Hasanuddin. (Kutoyo, 2010, : 15-21)

Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin terletak di ujung selatan Pulau Sulawesi, Kerajaan Gowa dan ibukotanya yang terkenal yakni Sumbaopu terletak di pantai Selat Makassar, selat yang memisahkan Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan. Kerajaan Gowa menjadi penghubung antara Pulau Jawa, Pulau Kalimantan bahkan Pulau Sumatera dan semenanjung Malaka di sebelah barat dengan Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara di sebelah timur. (Sagimun, 1985: 1-2)

Setelah Sultan Hasanuddin menduduki tahta Kerajaan Gowa, keadaan tidak seperti yang diharapkan oleh para pembesar VOC di Batavia (Jakarta), maka hubungan antara Kerajaan Gowa dan VOC kemudian memburuk.

Ketegangan yang sering disertai pertempuran yang seru antara Kerajaan Gowa dengan VOC sesungguhnya sudah berlangsung jauh sebelum Sultan Hasanuddin menduduki tahta Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa selalu menolak bahkan menentang dengan keras hak monopoli yang hendak dijalankan oleh VOC terutama di Indonesia bagian timur.

Kerajaan Gowa berpendirian: “Tuhan Yang Maha kuasa telah menciptakan bumi dan lautan. Bumi telah dibagikan di antara manusia, begitu pula lautan telah diberikan untuk umum. Tidak pernah terdengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi seseorang. Jika Belanda melarang hal itu, maka berarti Belanda seolah-oleh mengambil nasi dari mulut orang lain”. Demikianlah pendirian dari Sultan Alaudin maupun sultan Muhammad Said bahkan juga Sultan Hasanuddin yang selalu berpendirian bahwa tuhan menciptakan bumi dan lautan untuk digunakan bersama oleh semua umat manusia. Bukan hanya untuk VOC atau orang-orang Belanda. Itulah sebabnya mengapa Kerajaan Gowa dengan keras menentang usaha monopoli VOC. Sebaliknya VOC berusaha dengan keras pula menghancurkan dan menyingkirkan Kerajaan Gowa. (Sagimun, 1985: 71)

Pemberontakan Arung Palaka

Arung Palaka merupakan keturunan Kerajaan Bone, yakni kerajaan yang berhasil ditundukkan oleh Kerajaan Gowa. Andaya (seperti dikutip Hamid, 2013) pada umur sebelas tahun, Arung Palakka mengikuti orang tuanya sebagai tawanan ke Gowa. Arung Palaka diperlakukan sebagai anak dalam keluarga Karaeng Patingaloang. Dibesarkan menurut tata cara seorang putra keraton. Arung Palaka menghabiskan sebagian waktunya di istana Gowa. seiring pergantian waktu, pada masa pembentukan dirinya itu, Arung Palakka menyaksikan tindakan yang tidak berkemanusiaan terhadap keluarga dan bangsanya, terutama ketika mangkubumi Kerajaan Gowa dijabat oleh Karaeng Karunrung yakni putra dari Karaeng Patingaloang. (Patunru at all 1989: 124-125; Andaya 2004:64)

Pada tahun 1660, Karaeng Karunrung mengeluarkan perintah kepada regent Bone, Tobala, untuk membawa 10.000 orang dari Bone untuk menggali parit di sepanjang garis pertahanan di pantai pelabuhan Makassar, dari benteng paling selatan Barombong hingga ke benteng paling utara Ujung Tanah. Para pekerja diseret dari daerahnya di Bone, berjalan melintasi gunung-gunung menuju Makassar. Pekerjaan itu tidak hanya dilakukan oleh rakyat biasa, tetapi juga bangsawan Bone dan Soppeng. Bagi orang Bugis, tindakan itu telah melecahkan harga diri (Andaya, 2004: 65).

Di antara pekerja terdapat Arung Palakka. Dengan bantuan para pemimpin Bugis lainnya, Arung Palakka melakukan perlawanan dan membebaskan rakyatnya dari kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo. Tindakan itu menimbulkan kemarahan besar dari Raja Gowa-Tallo, sehingga dilakukanlah pengejaran. Dalam pengejaran itu, Arung Palakka berhasil meloloskan diri dan berlayar ke Buton. Di sana, dia mendapat perlindungan dari Sultan Buton, sembari memperkuat posisinya dan selanjutnya ke Batavia meminta bantuan Belanda yang saat itu sedang berupaya menguasai perdagangan maritim di kawasan timur Nusantara. Salah satu kekuatan politik yang dihadapinya adalah Kerajaan Gowa-Tallo. Dengan demikian, kedatangan Arung Palakka merupakan kekuatan baru yang dapat mendukung usahanya. (Hamid, 2013:11-12).

Pada tanggal 31 Desember 1666 sampailah armada VOC di bawah pimpinan Laksamana Speelman di Kerajaan Buton. Pada waktu itu Kerajaan Buton sedang dalam keaadaan sangat gawat karena dikurung rapat oleh pasukan-pasukan dan armada Kerajaan Gowa untuk menghukum Sultan Buton yang memberi perlindungan kepada Arung Palaka dan sekutunya. Saat itu pasukan-pasukan Kerajaan Gowa berkekuatan kurang lebih 15000 orang. Sebagian besar terdiri dari orang-orang Makassar, Bugis dan Mandar. (Sagimun, 1985: 162)

Dalam armada Kerajaan Gowa terdapat beribu-ribu orang Bugis yang negerinya ditaklukan oleh Kerajaan Gowa. Saat orang-orang Bugis mendengar bahwa Arung Palaka datang, orang-orang Bugis begitu senang dan menganggap Arung Palaka sebagai pahlawan yang akan membebaskan orang-orang Bugis dari kekuasaan Kerajaan Gowa. Orang-orang Bugis lalu berbalik menyerang Kerajaan Gowa ditambah dengan kegoncangan orang-orang Mandar yang merasa tidak berkewajiban untuk membela panji-panji Kerajaan Gowa. Armada Gowa kacau balau karenanya. Berkat pengaruh Arung Palaka, maka armada Kerajaan Gowa dapat dilumpuhkan dengan mudah. Ini bukan karena kehebatan admiral Speelman dan orang-orang Belanda, kekalahan armada Gowa karena armada dan pasukan-pasukannya tidak terdiri dari satu kesatuan yang kompak. (Sagimun, 1985: 165)

Setelah mengadakan pertempuran-pertempuran yang sengit dan merebut daerah Gowa setapak demi setapak, maka pada tanggal 26 oktober 1667 sampailah pasukan-pasukan Belanda serta sekutu-sekutunya di dektat Benteng Sumbaopu yang menjadi tempat kediaman Sultan Hasanuddin. (Sagimun, 1985:213) Belanda yang memang sangat licik dan pandai memilih serta mempergunakan saat yang sebaik-baiknya menganggap sekarang sudah tibalah saatnya untuk mengadakan perundingan dan membicarakan soal perdamaian.

Pada tanggal 18 November 1667 ditanda-tanganilah sebuah perjanjian di sebuah desa atau tempat di sebelah selatan kota Makassar atau ujung pandang sekarang. Desa ini terletak di dekat barombong yang kini terkenal sebagai tempat pemandian di tepi pantai yang sangat indah. Tempat atau desa dimana perjanjian itu ditanda tangani disebut “Bungaya”’ Oleh karena itu perjanjian ini kemudian terkenal dengan nama het bongaais verdrag yakni perjanjian bungaya oleh orang-orang Belanda. Di dalam perundinganperundingan sebelum perjanjian itu di tandatangani.

Speelman dan orang-orang Belanda sangat terkesan oleh sikap Pahlawan Hasanuddin, terhadap Arung Palaka dan Arung Kaju Sultan Hasanuddin bersikap ramah. Akan tetapi terhadap para petinggi yang berbalik seperti Karaeng Laiya dan Karaeng bangkala Sultan Hasanuddin bersikap Lain. (Sagimun, 1985: 221)

Bangsawan dan pemimpin Gowa tidak setuju diadakan perundingan atau perjanjian perdamaian. Namun sebagai seorang Raja, Sultan Hasanuddin bertanggung jawab tentang nasib rakyat Kerajaan Gowa yang telah semakin menyedihkan, Sultan Hasanuddin harus mempertimbangkan hal tersebut meskipun ingin terus berperang.

Sultan Hasanuddin begitu mengerti parahnya keadaan rakyat Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa betul-betul diserang oleh musuh yang datang dari selatan, timur, utara, dan barat. Kini pasukan VOC semakin hari semakin bertambah jumlahnya sedangkan pasukan Gowa semakin lemah.

Tanah Gowa sendiri sudah sangat parah keadaannya karena tempat tinggal rakyat selalu dijadikan medan pertempuran. Bahkan banyak ladang yang, diinjak-injak atau dihancurkan dengan dibakar oleh pihak Belanda dan sekutu-sekutunya. Melanjutkan peperangan dalam kondisi atau keadaan yang demikian berrti bunuh diri dan kehancuran serta malapetaka bagi rakyat Gowa. Atas hal tersebut Sultan Hasnudin merasa lebih bijaksana untuk mengadakan perdamaian dengan Belanda.

Demikianlah pada tanggal 18 November 1667, di sebuah desa yang dinamakan Bungaya diadakan perundingan. Perundingan inilah yang kemudian menghasilkan sebuah perjanjian yang terkenal di dalam sejarah Indonesia dengan nama “Perjanjian Bungaya” orang-orang Belanda menyebutnya Het bongaais verdrag. Orang-orang Makassar menyebutnya Cappaya ri Bungaya.

Jadi  nama yang benar ini ialah perjanjian bungaya. Banyak penulis dan sejarahwan Indonesia yang salah menulisnya karena mengikuti kesalahan orang-orang Belanda, kesalahan-kesalahan yang tersebut di atas bersumber pada kesalahan yang diperbuat oleh orang-orang Belanda yang salah menyebut kata bungya menjadi bongaya.

Kata bungaya berasal dari Bahasa Indonesia asli, yakni bunga. Kata ini mendapat imbuhan ya lalu menjadi bungaya artinya de bloem, the flower. Imbuhan dalam kata Makassar ini sama artinya dengan kata dalam bhasa Indonesia: si, sang atau yang. Bungaya ialah Sang Bunga. Sampai sekarang desa ini masih ada, sekarang Bungaya merupakan sebuah kampung atau desa yang tidak berarti lagi kalau dibandingkan kedudukannya di abad ke-17. (Sagimun, 1985: 214-227)

Perjanjian Bungaya terdiri dari 30 pasal, dan isi-isi pokok dari perjanjian bungaya ini kurang lebih adalah sebagai berikut:
Kerajaan Gowa harus melepaskan haknya atas daerah Kerajaan Bone dan lain-lainnya. • Kerajaan Gowa mengakui hak monopoli perdagangan kompeni di Maluku. • Semua orang asing kecuali Belanda dilarang berdagang di Makassar. Demikianlah Perjanjian Bungaya yang sangat memberatkan Kerajaan Gowa. (Kutoyo, 2010:  38)

Sultan Hasanuddin Selepas Perjanjian Bongaya

Pada akhirnya perang memang kembali berlanjut, perlawanan terhadap VOC dipelopori Karaeng Karunrung yang sudah sejak awal sangat membenci VOC dengan terus mendesak Sultan Hasanuddin meneruskan peperangan dengan Belanda. 12 April 1668 pecahlah untuk kesekian kalinya peperangan antara VOC yang dipimpin Speelman dan Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin.

Bahkan peperangan yang pecah setelah perjanjian Bungaya lebih hebat. Diantara kedua belah pihak jatuh korban yang tidak sedikit jumlahnya. Bahkan Arung Palaka sendiri terluka dalam pertempuran ini. Dalam laporan yang dikirim Speelman ke pemerintah VOC di Batavia, Sultan Hasanuddin menggunakan peluru yang beracun. Luka-luka ringan yang diderita pasukannya bahkan sulit di sembuhkan. Bahkan Speelman yang selalu disanjung-sanjung gagah berani di dalam laporannya itu menyatakan kecemasan dan kejengkelan hatinya. (Sagimun, 1985: 243-246)

Dari sekian banyaknya pasukan-pasukan VOC yang bersama-sama Speelman berangkat dari Batavia pada tanggal 24 November 1667 boleh dikatakan tidak ada lagi yang turut bertempur pada saat-saat pertempuran yang terakhir ini.

Dalam salah satu surat Speelman pada pemimpin VOC di Batavia meminta agar pimpinan VOC di Batavia segera mengirimkan balabantuan yang cukup untuk dapat memberi pukulan terakhir kepada Kerajaan Gowa dan menjamin suatu perdamaian yang mutlak, bahkan dalam suratnya itu Speelman menegaskan agar pimpinan VOC lebih memperhatikan Kerajaan Gowa di Sulawesi selatan sebagai suatu pusat kekuatan di wilayah timur dari pada srilangka dan Malabar, Speelman tahu betul keadaan kedua wilayah itu karena Speelman sebelumnya adalah gubernur di wilayah tersebut.

Setelah mendapat balabantuan dari Batavia dan merasa kuat, VOC bertindak keras. Bulan april 1669 pasukan-pasukan Belanda mengadakan serangan-serangan yang teratur dan bertubi-tubi. Makin lama Belanda makin mendekati Benteng Sumbaopu, Suasana pertempura makin meningkat (Sagimun, 1985:249-251)

24 Juni 1669, benteng utama dan benteng tangguh Kerajaan Gowa itu jatuh ke tangan Blanda. Benteng Sumbaopu jatuh terhormat setelah pahlawanpahlawan Gowa di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan dengan begitu gigih (Sagimun, 1985: 258)

Karena takut kerjaan Gowa bangkit kembali, maka Belanda menghancurkan Benteng Sumbaopu sampai rata dengan tanah. Benteng Sumbaopu merupakan benteng yang bersaf-saf atau berlapis-lapis tembok lingkarnya, karena istana Raja yang ada di dalamnya juga dilindungi pula oleh temboklingkar yang berselekoh dua buah. Demikian pula rumah-rumah dan bangunan dilindungi oleh dinding atau tembok lingkar yang dalam keadaan darurat bisa digunakan sebagai benteng pertahanan. (Sagimun, 1985: 276)

Speelman tidak berani langsung menyerang Benteng Gowa. Speelman lalu menawarkan pengampunan kepada pihak yang bersedia bekerja sama dengan Belanda. Pada tanggal 29 Juni 1669, Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dari pemerintahan, Tahta kerajaan diserahkan kepada putranya, Amir Hamzah. Sultan Hasanuddin wafat pada tanggal 12 Juni 1670 setelah menderita penyakit ari-ari, dalam usia 39 tahun. (Kutoyo, 2010: 43).


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search