Pelarian Arung Palaka dan Derita Kesultanan Buton

- Oktober 21, 2018
Selepas Arung Palaka mengobarkan pemberontakan kepada orang-orang Kesultanan  Bone untuk lepas dari penjajahan Kesultanan  Gowa yang kala itu dipimpin oleh Sultan Hasanudin, maka terjadi keributan antara pengikut Arung Palaka dengan pihak Kesultanan  Gowa, korban tewas diantara keduanya tak dapat terelakan.

Pemberontakan pertama yang dilancarkan Arung Palaka pada Gowa dimulai di area proyek  pembuatan parit di sepanjang garis pertahanan di pantai pelabuhan Makassar, dari benteng paling selatan Barombong hingga ke benteng paling utara Ujung Tanah. Peritiwa ini terjadi pada 1660.
Dalam proyek itu ada 10.000 orang-orang Bugis Bone yang dipekerjakan secara paksa oleh Kesultanan  Gowa. Waktu itu Kesultanan  Bone merupakan salah satu taklukan Gowa, sehingga Gowa berhak memerintahkan rakyat Bone untuk turut serta membuat Proyek pembuatan Parit yang diperuntukan untuk pertahanan Kesultanan  Gowa.

Menurut Anandya (2004:64), 10.000 para pekerja Bone itu dipelakukan secara tidak manusiawi, dan diantara 10.000 orang-orang Bone yang turut serta dalam pekerjaan itu adalah Arung Palaka. Disinilah Arung Palaka kemudian melakukan pemberontakan, melalui Ribuan orang-orang Bone yang berhasil dipengaruhinya Arung Palaka di are proyek pembuatan parit benteng itu melakukan pemberontakan. Perang kemudian meletus, banyak tentara Gowa dalam peristiwa ini tewas terbunuh. Setelah peristiwa itu, Arung Palaka bersama pengikutnya kemudian melarikan diri.

Mendapati pemberontakan orang-orang Bone yang banyak menyebabkan kerugian bagi Gowa, Kesultanan Gowa kemudian melakukan pengejaran dan upaya penumpasan pada para Pengikut Arung Palaka. Sadar dirinya beserta pengikutnya tak mungkin mampu menandingi Para Prajurit Gowa yang memburunya, Arung Palaka kemudian lari dari satu tempat ke tempat lainnya, sampai akhirnya ia berlindung ke Kesultanan  Buton. Di Buton ia kemudian mendapatkan jaminan keamanan dan Perlindungan dari Raja Buton. Keputusan Raja Buton untuk melindungi buronan Kesultanan  Gowa ini semacam bunuh diri, sebab waktu itu Gowa merupakan Super Power di wilayah timur Indonesia.

Benar saja mendapati Buton melindungi Arung Palaka, Gowa kemudian murka, Gowa mengirimkan tentaranya untuk menghukum Buton dengan kekuatan 15.000 tentara. Buton dikurung, wilayahnya dicabik-cabik hanya karena melindungi Arung Palaka, disitulah deritanya Kesultanan  Buton (Hamid, 2013:11-12).

Sebelum peristiwa gempuran Gowa terhadap Buton dijalankan, rupanya dengan cerdas Arung Palaka bersama pengikutnya berlayar ke Jawa, di Jawa ia mendatangi Batavia untuk meminta Bantuan VOC Belanda sambil menawarkan kerja sama dengan pihak Belanda untuk melawan Gowa.
Waktu itu sebenarnya Belanda stress melawan Gowa, mereka tidak mampu melawan Gowa sebab kekuatan Gowa waktu itu seimbang dengan VOC Belanda, adanya orang-orang Bone dan sekutunya menawarkan kerjasama melawan Gowa ini diibaratkan semacam kejatuhan emas bagi Belanda, karena peluang menguasai wilayah timur Indonesia menjadi lebih besar dengan adanya Bantuan dari orang-orang Bone, maka dari itu Belanda menyambut hangat tawaran kerjasama dari Arung Palaka.
Setelah disepakati kerja sama antara VOC Belanda dan Arung Palaka, VOC Belanda kemudian mengirimkan Armadanya ke Sulawesi, Armada Belanda sampai di Sulawesi pada 31 Desember 1666. Disulawesi Armada Gabungan Belanda dan Pengikut Arung Palaka menuju Buton.

Waktu itu Buton hamper musnah sebab wilayahnya dikepung Gowa, untung saja Armada Belanda yang dipimpin Laksamana Speelman dan Arung Palaka datang tepat waktu, sebab kalau tidak kemungkinan besar Buton rata dengan tanah dihukum Gowa.

Kedatangan Arung Palaka ke Buton ini menurut Sagimun (1985: 162), membuat 15.000 Armada Gowa yang ditugaskan untuk menghukum Buton tercerai berai. Menurutnya Dalam armada Kesultanan  Gowa terdapat beribu-ribu orang Bugis yang negerinya ditaklukan oleh Kesultanan  Gowa. Saat orang-orang Bugis mendengar bahwa Arung Palaka datang, orang-orang Bugis begitu senang dan menganggap Arung Palaka sebagai pahlawan yang akan membebaskan orang-orang Bugis dari kekuasaan Kesultanan  Gowa. Orang-orang Bugis lalu berbalik menyerang Kesultanan  Gowa ditambah dengan kegoncangan orang-orang Mandar yang merasa tidak berkewajiban untuk membela panji-panji Kesultanan  Gowa. Armada Gowa kacau balau karenanya. Berkat pengaruh Arung Palaka, maka armada Kesultanan  Gowa dapat dilumpuhkan dengan mudah. Ini bukan karena kehebatan laksamana Speelman dan orang-orang Belanda, kekalahan armada Gowa karena armada dan pasukan-pasukannya tidak terdiri dari satu kesatuan yang kompak.

Setelah peristiwa itu, derita Kesultanan  Buton  yang berhari-hari dikepung oleh Gowa bahkan hampir ditaklukan itu kemudian sirna, Buton pun kemudian membenahi dirinya, dan untuk kemudian terus mampu mengembangkan Kesultanan ya. Apalagi setelah itu Gabungan Bone-Buton dan Voc Belanda berhasil menaklukan Kesultanan  Gowa.

Baca Juga: Catatan Belanda Mengenai Sikap Sultan Hasanudin Terhadap Arung Palaka


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search