Kisah Kematian Syekh Siti Jenar dalam Berbagai Versi

- Oktober 12, 2018
Syekh Siti Jenar atau juga yang dikenal dengan nama Syekh Lemah Abang dianggap sebagai wali yang penuh kontrofersi, beragam kisah mengenai wali ini dikisahkan dalam berbagai versi, termasuk kisah kewafatannya. Meskipun demikian naskah yang paling jelas mengungkapkan bahwa beliau wafat  pada bulan Safar tahun 923 H (1506 M) sementara versi lainnya menetapkan kewafatanya pada  tahun Nirjamna Catur Tunggal (1480 M).

Ketika Pengging dilumpuhkan Demak, Syekh Siti Jenar kembali ke tempat kelahirannya  Cirebon. Di kota kelahirannya kekuatannya bertambah kokoh, sebab pengikutnya meluas ke desa-desa.

Di Cirebon Sykeh Siti Jenar masih konsisten menjadi penentang Demak, selain itu beliau juga dikisahkan membelakangi kesultanan Cirebon yang dianggapnya sebagai sekutu demak.

Dianggap membahayakan Negara, maka Persekutuan Demak dan Cirebon kemudian berhasil menyeret Syekh Siti Jenar kemuka pengadilan, di pengadilan Syekh Siti Jenar kemudian dijatuhi hukuman mati atas tuduhan mengembangkan ajaran sesat, begitulah kabar dari rangkaian kisah kewafatan Syekh Siti Jenar menurut Naskah Negara Kertabumi.

Dalam Naskah Negara Kertabumi dikisahkan selepas Syekh Siti Jenar meninggalkan Pengging dan menetap di Lemah Abang (Cirebon Girang), beliau rupanya dengan cepat memperoleh banyak pengikut, bahkan selepas wafatnya Syekh Datuk Kahfi, Sultan Cirebon meminta Pangeran Panjunan untuk menjadi guru agama Islam di Amparan Jati. Pangeran Panjunan bersedia, tetapi ia tidak mendapat murid karena semua telah menjadi murid Syekh Siti Jenar.

Berita itu terdengar oleh Sultan Demak bahwa musuhnya berada di Cirebon. Sultan kemudian mengutus Sunan Kudus dengan 700 prajurit menuju Cirebon. Selanjutnya bala tentara Cirebon dan Demak bergerak menuju padepokan Syekh Siti Jenar di Cirebon Girang. Syekh Siti Jenar kemudian dibawa ke masjid agung Cirebon. Di sana para ulama’ telah menunggu.

Sunan Gunung Jati bertindak sebagai hakim ketua. Melalui perdebatan panjang, pengadilan memutuskan bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati. Kemudian Sunan Kudus melaksanakan eksekusi itu dengan keris pusaka Sunan Gunung Jati. Peristiwa ini terjadi pada bulan Safar tahun 923 H atau 1506 M.

Dalam Naskah Mertasinga disebutkan peristiwa eksekusi mati Syekh Siti Jenar dilakukan di alun-alun Keraton Cirebon, beliau diikat dipohon tanjung kemudian ditusuk dengan sebilah keris kepunyaan Sunan Gunung Jati yang bernama keris Sangyang Naga. 

Jenazah Syekh Siti Jenar kemudian dimakamkan pada suatu tempat, lalu banyak orang menziarahinya. Untuk mengamankan keadaan, Sunan Gunung Jati memerintahkan secara diam-diam agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke tempat lain yang dirahasiakan. Sedang di kuburan yang dikunjungi oleh orang-orang itu dimasukkan bangkai anjing hitam.

Ketika para ziarah menginginkan agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke Jawa Timur, kubur dibuka, ternyata yang ada di sana bukan mayat Syekh Siti Jenar, melainkan bangkai seekor anjing. Sultan Cirebon kemudian mengeluarkan instruksi agar orang-orang tidak menziarahi bangkai anjing dan supaya meninggalkan ajaran Syekh Siti Jenar.

Dari berita seputar wafatnya Syekh Siti jenar dalam versi Naskah Negara Kertabumi (Naskah Kesultanan Cirebon) di atas, dapatlah dimengerti bahwa wafatnya Syekh Siti Jenar disebabkan di eksekusi mati oleh Cirebon atas permintaan Demak, dibuktikan dari kedatangan Sunan Kudus dan 700 Prajurit dari Demak yang dikhususkan untuk memadamkan upaya penentangan Syekh Siti Jenar pada Demak. 

Dalam versi ini juga diketahui bahwa makam Syekh Siti Jenar yang asli tetap berada di Cirebon akan tetapi keberadaanya diharasiakan, sementara jasad yang dipindahkan dari Cirebon menuju Jawa Timur adalah jasad palsu berupa bangke Anjing, tujuannya agar para pengikut Syekh Siti Jenar yang semula banyak menjiarahai makam sang wali berubah pikiran untuk meninggalkan ajaran Syekh Siti Jenar.

Sementara itu dalam versi Naskah Suluk Walisongo, menceritakan agak berbeda dari versi Cirebon, dalam naskah ini dikisahkan bahwa karena ulah para pengikut dan murid Syekh Siti Jenar itu, ketertiban Demak menjadi terganggu. 

Setelah berkonsultasi dengan para ulama Raden Fatah kemudian mengutus dua santri yang terpilih, yakni Syekh Domba dan Pangeran Bayat untuk bertukar pikiran dengan Syekh Siti Jenar. Dalam perdebatan itu Syekh Siti Jenar dapat mengatasi kemahiran utusan Sultan Demak, juga para ulama’ saat itu. Bahkan Syekh Domba kagum atas uraian dan kedalaman ilmu Syekh Siti Jenar. Ia ingin menjadi muridnya secara tulus kalau saja tidak dicegah oleh Pangeran Bayat.

Kedua utusan itu kemudian kembali ke Demak dan melaporkan ajaran Syekh Siti Jenar serta keangkuhan sikapnya. Sultan kemudian berembug dengan para ulama’ untuk memanggil Syekh Siti Jenar ke istana guna mempertanggungjawabkan ajarannya. Lima orang diutus untuk menemui Syekh Siti Jenar, yaitu Sunan Ngudung, Sunan Kalijaga, Sunan Modang, Sunan Geseng, dan Sunan Bonang sebagai pimpinannya. Mereka diikuti oleh 40 santri bersenjata lengkap untuk memaksa Syekh Siti Jenar bersedia datang.

Kelima utusan raja itu kemudian terlibat perdebatan sengit dengan Syekh Siti Jenar. Perdebatan ditutup dengan ancaman yang disampaikan oleh Sunan Kalijaga. Tetapi Syekh Siti Jenar tetap tidak mau memenuhi perintah. Lalu ia memilih mati, itupun bukan karena ancaman Sunan Kalijaga, tetapi karena kehendaknya sendiri. Syekh Siti Jenar kemudian berkonsentrasi menutup jalan nafasnya dan kemudian ia meninggal.

Sementara dalam versi Babad Demak, Syekh Siti Jenar meninggal bukan atas kemauan sendiri, tetapi dibunuh oleh Sunan Giri. Keris ditusukkan ke Syekh Siti Jenar hingga tembus punggungnya dan megucurkan darah kuning.

Sementara dalam Naskah Suluk Syaikh Siti Jenar, bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal di Krendhasawa tahun Nirjamna Catur Tunggal (1480 M), jenazahnya kemudian dibawa dan diletakkan di Masjid Demak, karena saat itu maghrib tiba dan penguburan akan dilakukan esok paginya agar bisa disaksikan oleh raja.

Para ulama kemudian sepakat menjaga jenazah Syaikh Siti Jenar sambil mengucapkan pujian kepada Tuhan. Saat waktu shalat tiba, para santri mengerjakan shalat di masjid. Pada saat itu secara tiba-tiba tercium bau yang sangat harum, seperti kasturi. Selesai shalat para ulama’ kemudian memerintahkan para santri untuk keluar dari masjid. Tinggal para ulama’ saja yang tetap berada dalam masjid untuk menjaga jenazah Syaikh Siti Jenar.

Karena bau harum terus menyengat, maka Syaikh Malaya mengajak ulama’ lainnya untuk membuka keranda jenazah dan membukanya. Jenazah Syaikh Siti Jenar terlihat memancarkan sinar seperti bulan yang indah, dan muncul pelangi indah yang memenuhi ruangan masjid. Dari bawah peti memancar sinar yang sangat terang seperti siang hari.

Dalam Suluk Syekh Siti Jenar maupun Suluk Walisongo diceritakan bahwa para ulama’ telah berbuat licik, yaitu mengganti mayat Syekh Siti Jenar dengan bangkai anjing kudisan. Bangkai inilah yang dipertontonkan pada masyarakat untuk menunjukkan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar itu salah.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search