Kerajaan Kalingga Jawa Tengah

- November 16, 2018
Nama Kerajaan Kalingga ini sebenarnya sangat familier, disebutkan diberbagai macam cerita, orang-orang Kalingga ini kemudian disebut sebagai orang Keling. Namun Kerajaan Kalingga yang disebut-sebut itu merujuk pada nama sebuah Kerajaan yang berada di India sana, bukan yang ada di Indonesia.

Belakangan di Indonesia sendiri, khususnya di Pulau Jawa rupanya pernah berdiri suatu kerajaan yang bernama Kalingga. Kerajaan ini muncul karena adanya kabar berita dari Naskah Kuno yang ditemukan di Cina. Naskah Kuno tersebut adalah catatan dari pemerintah dinasti Tang di Cina yang memerintah negeri itu pada 618 M - 906 M.

Selain nakah resmi kerajaan, rupanya kabar mengenai adanya Kerajaan Kalingga di Jawa juga dikabarkan oleh pendeta Budha asal Cina yang bernama I-Tshing yang melakukan kunjungan ke Jawa pada tahun 664/665 M.

Perlu dipahami bahwa penyebutan Kalingga itu lidah orang Jawa, sementara penyebutan Kalingga menurut lidah orang Cina sebagaimana naskah kuno milik dinasti Tang dan Pendeta I-Tshing itu adalah Ho-Ling.

Selain kabar dari Cina, eksistensi keberadaan kerajaan Kalingga juga sebenarnya terdapat juga dalam naskah-naskah lokal maupun cerita rakyat, hanya saja naskah dan dongeng-dongeng tersebut bukan berasal dari masa sejaman berdirinya. Diantara naskah lokal yang menceritakan mengenai kerjaan Holing adalah Naskah Cerita Parahyangan dari Jawa Barat.
Kerajaan Kalingga
Candi Angin Peninggalan Kerajaan Kalingga
Berdasar kan naskah kuno baik yang berasal dari Cina maupun lokal, kemudian para sejarawan dapat merekonstruksi tentang bagaimana dan seperti apa gambaran mengenai Kerajaan Kalingga yang ada di pulau jawa tersebut. Adapun pemaparannya adalah sebagai berikut:

Kalingga atau Ho-ling adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu-Budha yang pernah ada di Jawa Tengah sekitar abad ke5-6 masehi. Letak dan pusat kerajaan di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Hal ini didasarkan pada berita Cina dan bukti-bukti peninggalan Kerajaan itu baik dongeng maupun bukti fisik Candi dan prasasti.

Gambaran mengenai letak Kerajaan Kalingga tersebut adalah dapat dipaparkan sebagaimana berikut:
Kalingga atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.Ibukota Kalingga dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.Penduduk Kerajaan Kalingga sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapaDaerah Kalingga menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.
Pemerintahan di Kerajaan Kalingga dikepalai oleh seorang Ratu, tidak diketahui kejelasan pemerintahan selanjutnya maupun sebelumnya, data atau kisah yang terdapat dalam naskah dan dongengan rakyat hanya membahas mengenai satu Ratu yang kala itu memerintah Kalingga, Ratu itu bernama Shima.

Dalam catatan Cina diberitakan bahwa sejak tahun 674, rakyat kerajaan Kalingga diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Kalingga disebutkan sebagai kerajaan yang sangat aman dan tentram.

Kabar mengenai Ratu Shima ini juga dikisahkan dalam naskah Parahyangan yang menyatakan bahwa;
Putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasena. Sanaha dan Bratasena memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M). 
Setelah Maharani Shima meninggal pada tahun 732 M, Raja Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno. 
Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.Dalam sumber lain, Kerajaan Kalingga ini kemudian ditaklukan oleh Sriwijaya Pada tahun 752 M.
Sementara itu menurut dongengan rakyat disekitaran Pekalongan dan Jepara, disebutkan bahwa;
Pada Jaman dahulu di Jawa Tengah utara mengenai seorang Maharani legendaris yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran dengan keras tanpa pandang bulu. Kisah legenda ini bercerita mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan pencurian. 
Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri. Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemashuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. 
Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada sorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya 
Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya. Dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka sang pangeran dijatuhi hukuman dipotong kakinya.
Begitulah mengnai kerajaan Kalingga yang dapat dipaparkan, Kerajaan tersebut sumbernya masih sedikit dan kabur sehingga belum banyak diketahui mengenai kelanjutan kisahnya. Meskipun demikian selain peninggalan berupa naskah dan dongenan rakyat, Kerajaan Kalingga juga rupanya meninggalkan beberapa Peninggalan.

Adapun peningalan Kerajaan Kalingga menurut para ahli adalah sebagai berikut:

  • Candi Angin, ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
  • Candi Bubrah, ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
  • Situs Puncak Sanga Likur Gunung Muria. Di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) dekat dengan Kecamatan Keling di sana terdapat empat arca batu, yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu. Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan bagaimana mengangkut arca tersebut ke puncak itu mengingat medan yang begitu berat. Pada tahun 1990, di seputar puncak tersebut, Prof Gunadi dan empat orang tenaga stafnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta (kini Balai Arkeologi Yogyakarta) menemukan Prasasti Rahtawun. Selain empat arca, di kawasan itu ada pula enam tempat pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah hingga menjelang puncak. Masing-masing diberi nama (pewayangan) Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan Kamunoyoso.
  • Prasasti Tukmas. ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.
  • Prasasti Sojomerto. Ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno dan berasal dari sekitar abad ke-7 masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu. Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search