Kerajaan Kutai, Masa Pendirian, Kejayaan, Keruntuhan Serta Silsilah Raja-rajanya

- November 10, 2018
Kerajaan Kutai ditinjau dari masa pendirian, kejayaan, keruntuhan serta Silislah Para Rajanya adalah satu kesatuan cerita yang mesti ada apabila kita meninginkan pemahaman mendalam mengenai Kerajaan Kutai. Sebab bilamana kisah yang kita baca sepotong-sepotong maka akan membingungkan pembaca mengingat Kerajaan yang menggunakan nama Kutai di Kalimantan ini tidak hanya satu saja.

Secara garis besar, Kerajaan di Kalimantan yang menggunakan nama ” Kutai” terdiri dari dua kerajaan yaitu Kerajaan Kutai Mulawarman/Martadipura dan Kutai Kartanegara. Oleh Karena itu dalam artikel ini akan dibahas mengenai keduanya, yaitu membahas mengenai Kerajaan Kutai masa pendirian, kejayaan keruntuhan serta silislah para Raja-rajanya. Baik Kutai Mulawarman maupun Kutai Kartanegara.

Kerajaan Kutai Mulawarman/Martadipura 

Kerajaan Kutai Mulawarman adalah salah satu kerajaan yang tertuan di Indonesia, yang muncul pada abad ke-5 Masehi atau ± 400 Masehi. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti Yupa yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut.

Meskipun kutai itu tak terletak dalam sebuah jalur perdagangan internasional, akan tetapi kerajaan tersebut telah memiliki hubungan dagang dengan india dan sudah berkembang dari sejak awal. Pada hal tersebut kemudian, Pengaruh Hindu-Budha mulai tersebar.

Salah satu yang menjadi bukti yang menerangkan mengenai kerajaan kutai dimana Yupa diidentifikasi yang merupakan suatu peninggalan Hindu-Buddha dan bahasa yang telah digunakan yaitu bahasa sansekerta. Bahasa sansekerta ialah bahasa Hindu asli.

Tulisan atau bentuk dari hurufnya itu dinamakan huruf pallawa, yaitu tulisan yang digunakan pada tanah Hindu Selatan sekitar ditahun 400 masehi. Dengan melihat adanya bentuk huruf dari prasasti yang telah ditemukan maka para ahli menyatakan bahwa Yupa itu telah dibuat sekitar abad kelima. Jadi bisa disimpulkan bahwa kerajaan kutai adalah kerajaan hindu yang pertama ada di Indonesia.

Yupa adalah sebuah tiang batu berukuran ± 1 meter sebagian ditanam di atas tanah. Pada tiang batu inilah terukir prasasti dari kerajaan Kutai Mulawarman yang dianggap msebagai sumber tulisan tertua, sehingga Indonesia mulai memasuki masa sejarah dan mengakhiri masa prasejarahnya.

Kerajaan Kutai diperkirakan berdiri pada abad ke-5 Masehi, ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah Yupa (prasasti berupa tiang batu) yang ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa Sansekerta yang berasal dari India yang sudah mengenal Hindu. Yupa mempunyai 3 fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, tiang pengikat hewan untuk upacara korban keagamaan, dan lambang kebesaran raja.

Dari tulisan yang tertera pada yupa nama raja Kundungga diperkirakan merupakan nama asli Indonesia, namun penggantinya seperti Aswawarman, Mulawarman itu menunjukan nama yang diambil dari nama India dan upacara yang dilakukannya menujukan kegiatan upacara agama Hindu. Dari sanalah dapat kita simpulkan bahwa kebudayaan Hindu telah masuk di Kerajaan Kutai.

Masa Pendirian Kerajaan Kutai Mulawarman/Martadipura

Berdasarkan Pada salah satu yupa yang ditemukan tersebut, diketahui bahwa yang mendirikan kerajaan kutai adalah kundungga, kemudian diteruskan kepada Aswawarman. Selanjutnys pengganti dari Aswawarman yang memiliki putra sebanyak tiga orang yaitu Mulawarman.

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai Mulawarman/Martadipura

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai Awal ini, adalah pada  pada zaman Mulawarman disitulah kerajaan kutai mencapai kejayaan tersebut. Oleh karena itu maka tidak mengherankan Kerajaan Kutai tertua ini kemudian juga dinamakan Kerajaan Kutai Mulawarman.

Kejayaan ini dapat dilihat dari aktivitas ekonomi. Dalam salah satu Yupa tersebut telah dikatakan bahwa pada Raja Mulawarman telah melakukan sebuah upacara korban emas yang sangat banyak. Kemajuan dari kerajaan kutai ini juga terlihat dari tanda adanya golongan terdidik. Mereka terdiri dari para golongan ksatrian dan brahmana yang kemungkinan telah bepergian ke India atau pada pusat-pusat penyebaran agama Hindu yang ada di Asia Tenggara. Masyarakat tersebut mendapat kedudukan yang terhormat dalam kerajaan kutai.

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan Kutai Mulawarman, antara lain:

Kehidupan Sosial 
Pada kerajaan Kutai memiliki golongan masyarakat yang telah menguasai bahasa sansekerta dan bisa menulis huruf Pallawa yaitu golongan para Brahmana. Golongan yang lain ialah suatu golongan ksatria yang terdiri atas kerabat dari Raja Mulawarman. Pada masyarakat kutai akan sendiri merupakan suatu golongan penduduk yang masih erat memegang teguh suatu kepercayaan asli dari leluhur mereka. Mulawarman kemudian menjadi penganut agama hindu syiwa dan golongan para brahmana

Kehidupan Politik 
Kudungga tak dianggap menjadi sebagai pendiri dari dinasti karena menggunakan konsep keluarga raja di zaman tersebut masih terbatas di para keluarga raja yang sudah menyerap kebudayaan india pada setiap kehidupan dalam sehari-hari. Raja mulawaranman juga menciptakan adanya stabilitas politik dimana pada masa pemerintahannya tersebut. Itu terlihat dari adanya Yupa yang menyebutkan bahwa Mulawarman menjadi raja berkuasa, kuat dan bijaksana.

Kehidupan Ekonomi
Adapun mata pencaharian yang utama dalam masyarakat zaman kerajaan kutai merupakan beternak sapi. Pada mata pencaharian yang lain ialah bercocok tanam dan lewat berdagang. ini dilihat dari letak kerajaan kutai berada ditepian sungai mahakam yang sangat subur sehingga cocok untuk pertanian.

Keruntuhan Kerajaan Kutai Mulawarman/Martadipura

Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Mulawarman/Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

Silsilah Raja-Raja Kerajaan Kutai Mulawarman/Martadipura

Kerajan Kutai Mulawarman (Martadipura) didirikan oleh Kudungga, yang selanjutnya menurunkan Raja Asmawarman, Raja Mulawarman, sampai 21 (dua puluh satu) generasi Kerajaan Kutai Mulawarman yaitu sebagai berikut:

No Nama Raja
1 Maharaja Kudungga
2 Maharaja Aswarman
3 Maharaja Mulawarman
4 Maharaja Marawijaya Warman
5 Maharaja Gajayana Warman
6 Maharaja Tungga Warman I
7 Maharaja Tungga Warman II
8 Maharaja Jayanaga Warman
9 Maharaja Nalasinga Warman
10 Maharaja Gadingga Warman Dewa
11 Maharaja Indra Warman Dewa
12 Maharaja Sangga Warman Dewa
13 Maharaja Candrawarman
14 Maharaja Sri Langka Dewa
15 Maharaja Guna Parana Dewa
16 Maharaja Wijaya Warman
17 Maharaja Sri Aji Dewa
18 Maharaja Mulia Putera
19 Maharaja Nala Pandita
20 Maharaja Indra Paruta Dewa
21 Maharaja Dharma Setia

Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu. Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal dari bahasa Sanskerta. Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.

Kerajaan Kutai Kartanegara

Sekarang lokasi bekas kerajaan Kutai Kartanegara yang berada di Kutai Lama. hanyalah berupa belukar dan kebun penduduk yang berada dipinggir sungai Mahakam. Di lokasi yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Kutai itu hanya terdapat makam kuno sebagai saksi sejarah bahwa ditempat itu pada zaman dahulu pernah berdiri sebuah kerajaan. Disinilah Raja-Raja Kutai.

Kartanegara mennceritakan dan menggambarkan kronologis sejarah kebesarannya secara turun temurun. Sekarang ini mungkin sudah tidak bisa lagi ditemukan tanda-tanda kebesaran sebagai Ibukota Kerajaan yang berpenduduk ribuan jiwa. Juga tidak bisa lagi didapatkan istana megah yang diramaikan oleh para saudagar yang hilirmudik menawarkan barang dagangannya. Di lokasi itu kini hanya dihuni oleh masyarakat setempat dengan jumlah hanya sekitar kurang lebih 500 jiwa.

Kerajaan Kutai Kartanegara, untuk pertama kali disebut-sebut dalam kesusasteraan kuno kitab Negara Kertagama. Yakni sebuah kakawin untuk Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit yang disusun oleh Empu Prapanca pada tahun 1365.

Dalam pasal 13 dan 14 tercantum daftar beberapa wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Salah satu diantaranya disebut Kerajaan Kutai yang dalam kitab tersebut ditulis dengan istilah “Tunjung Kute”. Sedangkan kitab lain yang menyebutkan Kerajaan Kutai Kartanegara adalah terdapat pada Hikayat Raja-Raja Pasir dan kitab Pararaton.

Masa Pendirian Kerajaan Kutai Kartanegara

Masa pendirikan Kerajaan Kutai Kartanegara dimulai dari seorang kepala Desa Jahitan Layar, yang sudah sekian lama berumah tangga tidak memperoleh keturunan. Kemuadian secara ajaib ia mendapat anak yang diturunkan dari langit dalam sebuah bola emas. Oleh ayah angkatnya, anak ajaib itu diberi nama Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Kepala Desa Hulu Dusun juga memperoleh anak perempuan dengan cara yang sama menakjubkan. Anak perempuan itu ditemukan di atas buih air sungai Mahakam didekat Melanti. Suatu tempat yang sekarang terletak di Muara sungai Mahakam, termasuk wilayah Kutai Lama. Oleh orang tuanya, anak perempuan itu diberi nama Putri Karang Melenu atau bisa disebut juga putri Junjung Buih.

Setelah keduanya dewasa, Aji Batara Agung Dewa Sakti mendirikan kerajaan di hilir sungai Mahakam yang bernama “Kutai Kartanegara”dan menjadi raja di kerajaan tersebut, setelah itu dia menikah dengan Putri Karang Melenu. Perkawinannya membuahkan seoarang keturunan laki-laki bernama Aji Paduka Nira.

Sesudah kelahiran anak pertamanya, Aji Batara Agung Dewa Sakti melakukan perjalanan ke Pulau Jawa, mengunjungi kerajaan Majapahit. Atas kepergian suaminya itu, sang Permaisuri Putri Karang Melenu tidak tahan hidup sendirian. Lalu ia memutuskan untuk meninggalkan dunia ini dengan cara menceburkan diri ke sungai Mahakam dimana ia dilahirkan.

Aji Batara Agung Dewa Sakti sepulang dari Majapahit merasa sedih menerima kanyataan bahwa isterinya telah meninggal dunia. Kemudian ia memutuskan menceburkan diri masuk ke sungai Mahakam sama seperti istrinya.

Sepeninggal kedua orang tuanya, Aji Batara Agung Nira menjadi yatim piatu. Selanjutnya, seorang penduduk terkemuka dari desa Muara Bengalon. dengan cara ajaib memperoleh anak perempuan dari rumpun bambu. Anak angkatnya itu diberi nama Putri Paduka Suri. Setelah dewasa, ia diperistri oleh Aji Paduka Nira yang menjadi Raja kedua dari kerajaan Kutai Kartanegara. Dari perkawinannya ini kemudian lahir tujuh orang anak. Lima diantaranya laki-laki dan dua lainnya perempuan.

Aji Batara Agung Nira yang telah yatim piatu kemudian meneruskan tahta dari orang tuanya. Setelah cukup dewasa kemuadian ia menikah dengan Putri Paduka Suri, yakni seorang putri yang dipercaya lahir dari rumpun bambu. Berdasar data yang dihimpun dari manuskrip kerabat Keraton Kutai Kartanegara, menyebutkan antara lain bahwa Putri Paduka Suri sebenarnya adalah salah seorang keturunan Raja Kutai Martadipura, yang bernama Indra Perwati Dewi. Ia anak dari Raja Guna Perana Tungga, dinasti ke-20 dari Kerajaan Kutai Martadipura.

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai Kartanegara

Kerajaan Kutai Kartanegara berusaha memperkuat Kerajaan dengan melakukan pernikahan politik dengan Kerajaan Kutai Martadipura, yang beribukota di Muara Kaman. Masih kurang jelas motivasi dari perkawinan tersebut. Apakah sekedar untuk menghindarkan perselisihan dengan Kerajaan Kutai Martadipura, atau berusaha untuk menghimpun kekuatan baru.

Selanjutnya, setelah Aji Paduka Nira wafat, ia digantikan oleh anak sulungnya yang bernama Maharaja Sultan (1450-1474M). Maharaja Sultan bersama Raja Indera Mulia dari Kerajaan Kutai Martadipura berangkat ke Majapahit untuk belajar adat istiadat kerajaan.

Namun karena suatu alasan, Raja Indera Mulia pulang kembali ke Muara Kaman sebelum menyelesaikan belajarnya tentang adat istiadat kerajaan. Setelah Maharaja Sultan berhasil menamatkan belajarnya di Majapahit, ia kembali ke Kutai Kartanegara.

Kemudian menikah dengan Aji Paduka Sari. Dari perkawinan tersebut, Maharaja Sultan mempunyai seorang anak yang bernama Mandarsyah. Raja Mandarsah memerintah Kutai Kartanegara setelah setelah beliau beranjak dewasa. Karena saat beliau berusia empat tahun, ayah kandungnya, Maharaja Sultan meninggal dunia. Pada masa-masa Kutai Menjalin hubungan dengan Majapahit inilah Kuta mencapai puncak kejayaannya.

Baca Juga : Kala Calon Raja Kurta Kartanegara Study Banding Ke Majapahit

Keruntuh Kerajaan Kutai Kartanegara

Kerajaan Kurtai Negara sebenarnya hingga kini masih ada, hanya saja tidak mempunyai wewenang dalam memerintah, Semenjak zaman Belanda Kerajaan Kutai adalah kerajaan dibawah naungan Belanda, kemudian ketika Indonesia merdeka, Kerajaan Kutai menggabungkan diri dengan Kerajaan Indonesia. Kini Raja dikutai hanya sebagai Simbol kebudayaan saja. Tidak memerintah dan punya wilayah kekuasaan lagi.

Silsilah Raja-Raja Kutai Kartanegara

Selama berdirinya, Kerajaan Kutai dipercayai menelurkan sebanyak 22 Raja, adapun pemaparan mengenai silislah para Raja di Kerajaan ini adalah sebagai berikut.
No Nama Raja/Sultan
1 Aji Batara Agung Dewa Sakti 1300-1325 M
2 Aji Batara Agung Paduka Nira 1325-1360 M
3 Maharaja Sultan 1360-1420 M
4 Raja Mandarsyah 1420-1475 M
5 Pangerang Tumenggung Bayabaya 1475-1545 M
6 Raja Makota 1454-1610 M
7 Aji Dilanggar 1610-1635 M
8 Pangeran Sinum Panji Mendapa Ing Martadipura 1635-1650 M
9 Pangeran Dipati Agung Ing Martadipura 1650-1665 M
10 Pangeran Dipati Maja Kusuma Ing Martadipura 1665-1686 M
11 Aji Ragi Gelar Ratu Agung 1686-1700 M
12 Pangeran Dipati Tua Ing Martadipura 1700-1710 M
13 Pangeran Anum Panji Mendapa Ing Martadipura 1710-1735 M
14 Sultan Aji Muhammad Idris 1735-1778 M
15 Sultan Aji Muhammad Aliyeddin 1778-1780 M
16 Sultan Aji Muhammad Muslihuddin 1780-1816 M
17 Sultan Aji Muhammad Salehuddin 1816-1845 M
18 Dewan Perwalian 1845-1850 M
19 Sultan Aji Muhammad Sulaiman 1850-1899 M
20 Sultan Aji Muhammad Alimuddin 1899-1910 M
21 Dewan Perwalian/Pangeran Mangkunegoro 1910-1920 M
22 Sultan Aji Muhammad Parikesit 1920-1960 M


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search