Biografi Soekarno, Presiden Indonesia Pertama

- November 10, 2018
Biografi Soekarno sejatinya penting diketahui bagi orang-orang yang ingin memahami bagaimana latar belakang kehidupan seorang pejuang dalam mendirikan sebuah bangsa yang merdeka dari penjajahan. Oleh karena itu memahami biografi seokarno secara utuh bukan saja kewajiban bangsa Indonesia melainkan seluruh bangsa-bangsa yang menaruh hormat pada perjuangan orang-orang yang membebaskan bangsanya dari penjajahan.

Biografi Soekarno dalam tulisan ini menyangkut kapan dan dimana Soekarno dilahirkan, mengapa Bapak dan Ibunya menamakanya Soekarno, serta bagimana kisah perjuangan Soekarno hingga kemudian menjadi Presiden Indonesia sampai pada kisah akhir hayatnya.

Sebagaimana lazimnya Biografi, maka penulisan Biografi Soekarno dalam artikel ini pun akan menyuguhkan kisah ringkasan kehidupan dari seorang Soekarno saja, tapi dengan adanya Biografi Soekarno yang dipaparkan penulis ini semoga saja dapat memberikan pelajaran berharga bagai para pembaca pada umumnya dan khusunya bagi penulis pribadi.

Kelahiran Soekarno

Menurut pemaparan Cindy Adams, kelahiran Soekarno merupakan suatu hal yang istimewa. Bagaimana tidak, Soekarno dilahirkan dengan angka serba enam, 06 Juni 1901. Soekarno juga memiliki zodiak gemini, yang menurut pendapat Soekarno sendiri memberikan corak beraneka ragam warna kepribadian dalam dirinya. Soekarno dilahirkan pada pagi saat fajar menyingsing, yang menurut kepercayaan Jawa bahwa seseorang yang dilahirkan ketika matahari terbit, memiliki nasib yang baik[1] Itulah yang kemudian menjadi keyakinan dalam diri Soekarno bahwa kelak dia akan menjadi seorang pemimpin.

Soekarno terlahir dengan nama Kusno Sosrodiharjo. Namun pada saat Soekarno berusia 11 tahun, Soekarno sering mengalami sakit-sakitan. Ayah Soekarno, Raden Soekemi berpikir bahwa nama Kusno idak cocok untuk diri Soekarno. Raden Soekemi merupakan seorang yang sangat mengagumi cerita klasik zaman dahulu seperti Mahabharata.

Ketika Soekarno belum mencapai umur remaja, Soekemi mengganti nama Kusno menjadi Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar dalam Mahabharata. Karna dan Karno sama saja, karena dalam bahasa Jawa huruf [A]  dibaca [O].

Awalan [Su] pada kebanyakan nama dalam budaya Jawa berarti baik. Namun dalam ejaan, nama Sukarno menjadi Soekarno karena mengikuti ejaan Belanda. Sejak saat itu, nama Kusno menjadi Sukarno/Soekarno.

Latar Belakang Keluarga Soekarno

Soekarno berasal dari keluarga priyai rendahan. Ibu Soekarno bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang merupakan seorang perempuan kelahiran Bali yang berkasta Brahmana. Idayu, sapaan Ibunda Soekarno, merupakan keturunan bangsawan. Raja Singaraja adalah paman dari Idayu.

Sedangkan ayahnya, bernama raden Soekemi Sosrodiharjo yang merupakan keturunan dari Sultan Kediri. Kakek dan moyang Soekarno dari pihak Ibunya merupakan pejuangpejuang kemerdekaan.

Moyang Soekarno gugur dalam perang Puputan, suatu daerah di Pantai Utara Bali dimana terletak kerajaan Singaraja dan dimana telah berkobar pertempuran sengit dan bersejarah melawan penjajah.

Raja Singaraja yang terakhir secara licik disingkirkan oleh Belanda, dan kerajaannya, harta, istana, tanah serta semua miliknya dirampas. Keluarga Bapak Soekarno juga merupakan patriot-patriot hebat. Nenek dari Nenek Raden Soekemi memiliki kedudukan disetingkat bawah seorang putri yang merupakan pejuang pendamping pahlawan besar Pangeran Dipenogoro.

Walaupun Soekarno terlahir dari keluarga priyai, namun Soekarno dilahirkan ditengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan bersama kedua orangtuanya dan seorang kakak perempuannya, Sukarmini.

Ayah Soekarno, Raden Soekemi hanyalah seorang mantri guru yang hanya berpenghasilan 25 rupiah sebulan.

Ketika Soekarno berumur enam tahun, Soekarno dan keluarga pindah ke Mojokerto. Lingkungan tempat tinggal Soekarno di Mojokerto kumuh dan keadaan para tetangga tidak berbeda dengan lingkungan itu sendiri, namun mereka selalu memiliki sedikit uang untuk membeli pepaya dan permen. Tetapi tidak dengan Soekarno.

Bahkan karena begitu melarat kehidupan keluarga Soekarno sehingga tidak bisa makan nasi satu kali dalam sehari, hanya memakan ubi kayu, jagung yang ditumbuk dengan bahan makanan lain. Idayu bahkan tidak mampu membeli beras biasa seperti yang biasa dibeli oleh penduduk desa.

Kemelaratan yang dialami keluarga Soekarno lantas tidak membuat Soekarno tidak bisa merasakan pendidikan yang layak baginya. Soekemi menaruh harapan besar kepada Soekarno. Sehingga, segala jalan ditempuh olehnya demi masa depan Soekarno.

Harapan serta cita-cita Soekemi dan Idayu menjadi satu alasan dari segala usaha yang mereka lakukan untuk masa depan Soekarno. Begitu pula Soekarno, ia tidak pernah membuang-buang waktu dan kesempatan yang diberikan kepadanya. Ia belajar dengan serius dan sungguh-sungguh.

Pendidikan Soekarno

Pada tahun 1916 Soekarno menamatkan Sekolah Dasar Belanda ELS (Europeesche Lagere School = Sekolah Dasar Eropa) di Mojokerto, Soekarno melalui jasa teman baik ayahnya, yaitu Haji Oemar Said Tjokroaminoto, mendaftarkan diri pada HBS (Hoogere Burger School = Sekolah Tinggi Warganegara atau Sekolah Menengah Belanda) di Surabaya.

Selama di Surabaya, Soekarno tinggal bersama keluarga Tjokroaminoto. Keadaan tersebut membawa arti bagi masa depannya, karena Tjokroaminoto yang menjabat sebagai Ketua Organisasi Massa Sarekat Islam adalah tokoh pusat Nasionalisme Indonesia pada waktu itu. Di rumah tersebutlah Soekarno mendapatkan pengalaman pertamanya tentang kegairahan yang mulai mengetuk hati masyarakat Indonesia[2].

Pada saat bersekolah di HBS, naluri politik Soekarno sudah terlihat ketika dia berusia 16 tahun. Pada masa itu, Soekarno aktif pada suatu perkumpulan politik yang bernama Tri Koro Darmo yang berarti [Tiga Tujuan Suci] dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi dan sosial.

Organisasi tersebut merupakan bagian dari organisasi Budi Utomo dan merupakan cikal bakal dari organisasi Jong Java. Sementara Jong Java menjadi langkah kedua Soekarno karena mengandung cita-cita dan tujuan yang lebih luas, berupa kegiatan-kegiatan sosial yang diadakan oleh masyarakat.

Keaktifan Soekarno sebagai anggota Jong Java cabang Surabaya pada 1915 membuatnya dikenal oleh banyak orang. Baginya, Jong Java yang bersifat Jawa sentris dan hanya memikirkan kebudayaan saja mendapat tantangan yang besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.[3]

Pada tanggal 10 Juni 1921 Soekarno lulus dari HBS. Setelah kelulusan tersebut, Soekarno berniat untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke Negeri Belanda. Namun, rencana yang sudah disusun oleh Soekarno untuk masa depannya gagal total. Hal ini dikarenakan Idayu tidak menyetujui Soekarno untuk melanjutkan kesekolah di Belanda. Idayu berkata “Tidak. Sama sekali tidak ! Anakku tidak boleh pergi ke Negeri Belanda”[4]

Sesudah menamatkan pendidikan HBS di Surabaya, Soekarno sejak tahun 1920 pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Bandung yang terletak di wilayah Dago. THS memang baru saja dibuka dan diresmikan pada tanggal 3 Juli 1920 atau yang sekarang bernama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sesudah melalui perjuangan berat selama lima tahun Bung Karno dapat menyelesaikan pelajaran di THS pada tahun 1925. Bung Karno dapat lulus sesudah membuat skripsi tentang perencanaan sebuah pelabuhan. Sejak saat itu nama resminya menjadi Ir.Soekarno[5]

Karir Politik Soekarno

Pada tanggal 4 Juli 1927, Soekarno bersama keenam temannya mendirikan sebuah partai beraliran Nasionalis yang merupakan cikal bakal dari Algemeene Studieclub[6]. Pendirian Partai Nasionalis Indonesia (PNI) bagi Soekarno merupakan jawaban bagi tawaran kerjasama dengan pihak Belanda.

Pada waktu itu, pergerakan Indonesia dalam keadaan yang sangat suram. Sejak bangkitnya pergerakan, perpecahannya di dalam dan tekanan dari luar telah merusaknya. Keanekaragaman masyarakat Indonesia, Sukuisme dan agama-agama, aliran-aliran dan isme-isme serta konflik-konflik sosial yang menggoncangkan pergerakan ini.

Setelah membentuk partai yang berasaskan Nasionalisme, selanjutnya pada Desember 1928 Soekarno mendirikan sebuah federasi dari PNI dengan semua partai utama yang berhaluan kebangsaan, Permufakatan PerhimpunanPerhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Dengan terbentuknya PPPKI ini, memungkinkan Soekarno dan para pendiri bangsa yang lainnya bergerak dengan kekuatan yang lebih besar daripada yang pernah terjadi sebelumnya. Sebagai ketua, Soekarno menghadapi resiko yang lebih besar pula.

Pada saat itu, pemerintah Hindia Belanda mulai mengadakan pengawasan yang keras terhadap PNI dan PPPKI. Pengaruh dari ucapan-ucapan Soekarno yang sanggup menggerakkan massa dianggap sebagai ancaman nyata bagi Belanda.

Ancaman penangkapan selalu membayangi Soekarno dan para petinggi PNI. Karena perkembangan PPPKI sangat pesat, Soekarno menjadi orang yang selalu diawasi dan dicurigai.

Pada tahun 1930 diadakan razia besar terhadap PNI, dan pada saat itu untuk pertama kalinya Soekarno ditangkap dan ditahan dipenjara Banceuy dengan tuduhan Kolonialisme dan Imperialisme. Setelah delapan bulan Soekarno berada didalam sel tahanan, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1930 perkara yang menimpa Soekarno tersebut dibawa ke pengadilan. Soekarno dituduh melanggar pasal 169 serta pasal 161, 171, dan 153 dari KUHP.

Dalam pengadilan inilah Soekarno membacakan pembelaan terhadap dirinya yang kemudian dikenal dengan judul Indonesia Menggugat yang seraca rinci mengungkapkan penderitaan dimana rakyat Indonesia terjerumus sebagai akibat pengisapan selama tiga setengah abad dibawah penjajahan Belanda.

Tesis tentang Kolonialisme ini, yang kemudian diterbitkan dalam belasan bahasa di seluruh dunia dan dimunculkan dengan kata yang berapi-api. Namun, bukan mendapat hukuman yang lebih ringan, pembacaan Pledoi tersebut justru menetapkan Soekarno ditahan selama dua tahun di penjara Sukamiskin. Setelah keluar dari penjara Sukamiskin, pada tanggal 31 Desember 1931 Soekarno kembali menghirup udara segar.

Pada tanggal 28 Mei 1945, dengan bantuan Jepang, kaum Nasionalis Indonesia berkumpul untuk merencanakan suatu negara merdeka. Pada tanggal itu juga, BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) resmi dibentuk dengan 26 anggota.

Pembentukan BPUPKI itu bertujuan untuk membicarakan persoalan-persoalan konstitusional dan ideologi. Setelah bersidang selama tiga hari, yang dimana membahas manifesto-manifesto ideologis, BPUPKI membentuk suatu Sub-komite yang terdiri dari tujuh orang anggota dibawah pimpinan Soekarno untuk menyelesaikan persoalan agama yang rumit.

Di dalam Badan Penyelidik di Jakarta, Soekarno mendesak agar versinya tentang Nasionalisme yang bebas dari agama disetujui. Karena konsep ini merupakan satu-satunya dasar yang dapat disepakati pemimpin-pemimpin lainnya, maka menanglah Soekarno.

Pada pidatonya pada tanggal 1 Juni, Ia mengemukakan doktrin Pancasilanya, lima dasar, yang akan menjadi falsafah resmi dari Indonesia merdeka, yaitu ketuhanan, kebangsaan, perikemanusiaan, kesejahteraan dan demokrasi.

Walaupun dasar-dasar ini pada umumnya diterima oleh anggotaanggota Badan Penyelidik, tetapi para pemimpin Islam tampakanya tidak akan memainkan peranan yang istimewa. Akhirnya mereka menyetujui suatu kompromi yang disebut Piagam Jakarta yang menyebutkan bahwa negara akan didasarkan pada “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Implikasi Piagam Jakarta terhadap hubungan antara syariat Islam dan negara menjadi sumber pertentangan-pertentangan sengit di tahun-tahun mendatang.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat. Hal ini dikarenakan 2 kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh Sekutu. Dengan situasi seperti ini, kemudian para tokoh Nasionalis, Soekarno dan kawankawan segera mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Tepatnya pada tanggal 17 agustus 1945, Soekarno dengan didampingi oleh Hatta memproklamasikan Indonesia pada pukul 10.00 wib di Jalan Pegangsaan Timur, dan untuk pertama kalinya Bendera Merah Putih yang dijahit oleh Fatmawati dikibarkan.

Semenjak itu, Soekarno menjadi satu-satunya pemimpin yang paling terkemuka selama dua puluh tahun lebih. Dengan rentang waktu tersebut, pemerintahannya telah mengalami beberapa kali pergantian sistem demokrasi. Antara lain yaitu masa Republik Indonesia Serikat (RIS) tahun 1949-1950. Pada masa pemerintahan ini, partai-partai secara aktif mendukung usaha gabungan negara-negara bagian ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia[7]

Selanjutnya, zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1965) dengan ditandai penguatan kedudukan presiden seumur hidup melalui TAP MPR No III Tahun 1963 serta adanya pengurangan peran partai politik, kecuali PKI yang mendapat kesempatan untuk berkembang. Di samping itu pula adanya peningkatan peranan militer sebagai kekuatan sosial politik. Oleh karena itu, masa ini bisa disebut dengan periode segitiga antara Soekarno, TNI dan PKI[8]

Pada tahun 1960, Soekarno dan pemerintahannya membentuk sebuah wadah politik yang berdasar pada NASAKOM dan disebut Front Nasional. Di dalamnya, terdapat semua partai yang mewakili termasuk PKI. Dengan adanya Front nasional yang berdasar pada NASAKOM, PKI berhasil mengembangkan sayapnya dan banyak mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan politik di Indonesia.

Akhir Hayat Soekarno

Di saat peristiwa Gerakan 30 September PKI benteng pertahanan Soekarno mulai goyang dan seorang Pemimpin Besar Revolusi yang didaulat oleh Seorang Letnan Kolonel Soeharto yang membentuk Dewan Revolusi yang berarti berakhirlah masa kepemimpinannya. Kemudian Soekarno menjadi tahanan rumah di Batu Tulis, Bogor dan dipindahkan ke Wisma Yaso[9]

Di Wisma Yaso, Soekarno menjadi orang yang terdampar dalam kesepian dan terpencil. Dia disisihkan bukan saja dari kekuasaannya, tetapi juga dari semangat kehidupan ini. Ketika itu, Soekarno hidup dalam keadaan kesehatannya yang secara terus menerus menurun.

Setelah berada di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) pada hari Minggu tanggal 21 Juni 1970, memegang tangan dokternya yang bernama Mahar Mardjojo dan menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazah Soekarno dimakamkan di Blitar sebelah ibunya.

Daftar Pustaka dan Catatan

[1] Cindy Adams. 2014. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta : Yayasan Bung Karno Hal. 21
[2] Anwar Ilmar. Skripsi tentang Relevansi Teori Marhaenisme Dalam Menjawab Tantangan Zaman di Era Kapitalisme Global, Universitas Sumatera Utara, 2010
[3] S.Wisnuwardhana,2015, Sarinah.... Hal. 63
[4] Op.Cit, Cindy Adams, 2014. Penyambung Lidah..... Hal. 59
[5] Farah Annisa Harahap. Skripsi tentang Analisis wacana Kritis Terhadap Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno Pada Tanggal 17 Agustus 1966, Universitas Sumatera Utara, 2015
[6] Algemeene Studieclub merupakan perkumpulan dimana para intelektual muda Bangsa Indonesia bergabung didalamnya, yang kebanyakan merupakan pemuda lulusan dari Negeri Belanda dengan membawa ijazah akademis yang cemerlang dan istimewa. Pertukaran pemikiran yang aktif dalam bidang politik adalah kegiatan utama pada perkumpulan ini. Cabang-cabang dari Studieclub ini terbentuk di Solo, Surabaya dan kota besar lainnya di Jawa. Selain itu, studieclub ini juga menerbitkan sebuah majalah perkumpulan, Suluh Indonesia Muda, dan Soekarno adalah penyumbang tulisan yang utama.
[7] MC. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, 316.
[8] Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia,2010 ), 431-435.
[9] Ully Hermono dan Peter Kasenda, Heldy Cinta Terakhir Soekarno, 218.


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search