Asal-Usul Terbentuknya Organisasi Papua Merdeka

- Desember 13, 2018
Asal-Usul Terbentuknya Organisasi Papua Merdeka tidak lepas dari pengaruh Belanda yang pada mulanya tidak rela tersingkir dari wilayah Indonesia setelah mereka menjajah Indonesia selama beratus-ratus tahun.

Ketika wilayah lain di Indonesia selain Papua berhasil mengusir Belanda dari tanahnya, Belanda memanfaatkan suasana Papua yang kondisinya adem ayem tanpa pergolakan menjadi basis terakhirnya di Indonesia, mereka membuat markas  di Papua sebagai upaya merebut Indonesia kembali jika Negara baru yang didirikan tahun 1945 itu bangkrut ditengah jalan, begitulah yang difikirkan Belanda pada dekade tahun 1945-1962.

Dalam upayanya mendapatkan dukungan dari warga Papua Asli, Belanda melakukan segala tipu muslihat  salah satunya menjanjikan kemerdekaan penuh pada papua, yang Rencananya akan diproklamirkan pada 1970 , janji Ini di gaungkan Belanda pada tahun 1960.

Sebelum menuju kemerdekaan yang dijanjikan, Belanda membuat terlebih dahulu tata perlengkapan Negara Papua Merdeka, seperti nama Negara, lagu kebangsaan, bendera dan termasuk menanamkan doktrin-doktrin palsu kepada orang-orang Papua tentang Indonesia.

Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam atas upaya Belanda untuk  memsikahkan Papua dari saudaranya, maka pada tahun-tahun itu Indonesia berupaya lebih keras dari Belanda untuk membebaskan Papua Barat dan cengkraman Belanda, Upaya Indonesia ini berhasil, sebab pada tahun 1963 Papua Barat  dapat direbut Indonesia dari tangan Belanda.

Tapi perlu dipahami, bahwa efek dari pembentukan Negara Boneka oleh Belanda itu masih terus tetap berjalan, meskipun Papua Sudah direbut Indonesia, orang-orang yang masih setia dan berharap terhadap janji Belanda yang akan memerdekakannya pada tahun 1970 itu kemudian dibelakang hari membuat faksi-faksi atau kelompok Makar untuk menentang Indonesia. Para Faksi makar inilah yang kemudian disebut  OPM.

Organisasi Papua Merdeka (OPM) dikendalikan oleh warganegara Belanda. Sekurang-kurangnya ada 6 tokoh pimpinan OPM sebagai warganegara Belanda. Tokoh tersebut adalah:
  1. J.E. Papare bertempat tinggal di Apedoorn, 
  2. Herman Wasiwor bertempat tinggal di Den Haag, 
  3. Bernadus Tangahma bertempat tinggal di Den Haag, 
  4. F. Malaiholo bertempat tinggal di Hoogeveen, 
  5. W.J. Aringaneng bertempat tinggal di Hoogeveen, dan 
  6. O.A. Dakilwadjir bertempat tinggal di Hoogeveen.
Organisasi Papua Merdeka lahir dan tumbuh di Irian Jaya yang pada awalnya terdiri dari dua faksi/ kelompok makar yaitu:

Kelompok Makar Pimpinan Aser Demotekay

Organisasi atau faksi yang didirikan oleh Aser Demotekay pada tahun 1963 di Jayapura dan bergerak di bawah tanah. Faksi ini menempuh jalan kooperasi dengan pemerintah Indonesia, serta mengaitkan perjuangannya dengan gerakan yang bercirikan spiritual yaitu campuran antar agama adat atau gerakan dan agama Kristen.

Makar Aser Demotekay untuk mencapai kemerdekaan Papua Barat atau Irian Jaya dengan bekerjasama dengan pemerintah Indonesia, dan meminta pemerintah Indonesia untuk menyerahkan kemerdekaan kepada Irian Jaya sesuai dengan janji Al Kitab, janji leluhur dan janji tanah ini bahwa bangsa terakhir yang terbentuk dan menuju akhir zaman adalah Papua Barat.

Secara organisasi, kegiatan Organisasi Papua Merdeka pimpinan Aser Demotekay merupakan kegiatan pemujaan versi baru dan sangat tergantung pada Aser Demotekay karena ia merupakan tokoh pembentuk faksi makar pertama yang berupaya melawan pemerintah Indonesia tanpa melalui kekerasan dan upaya ini banyak meraih simpati dari kalangan masyarakat Papua, serta berbagai masyarakat di wilayah Indonesia Timur.

Kelompok Makar Pimpinan Terianus Aronggear

Organisasi atau faksi yang didirikan oleh Terianus Aronggear di Manokwari pada tahun 1964. Keberadaan Aronggear memiliki peranan penting bagi perkembangan OPM karena merupakan faksi kedua yang ternyata memiliki beberapa perbedaan dengan Aser Demotekay karena ia lebih menekankan perjuangan bersenjata, dibandingkan pembentukan opini dan pendekatan-pendekatan diplomatis.
Tentara Pemberontak  OPM
Organisasi ini pada awalnya bergerak di bawah tanah untuk menyusun kekuatan melawan pemerintah Indonesia baik secara politik maupun secara fisik bersenjata. Kegiatan ini diberi nama “Organisasi Perjuangan Menuju Kemerdekaan Negara Papua Merdeka”, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Organisasi Papua Merdeka.

Aronggear selain sebagai ketua umum organisasi, juga menyusun suatu dokumen perjuangan yang akan diselundupkan ke badan PBB di New York untuk menanyakan tentang status Irian Jaya dan meminta peninjauan Persetujuan New York 15 Agustus 1962.

Persetujuan itu dinilai tidak adil, sebab tidak melibatkan wakil bangsa Papua dalam perundingan sebagai pihak yang dipersengketakan. Dokumen itu berisi suatu rancangan tentang kemerdekaan negara Papua Barat dengan susunan kabinet sebagai berikut:
  1. Presiden: Markus Kaisiepo 
  2. Wakil Presiden: Nicolaas Jouwe 
  3. Menteri Luar Negeri:  Terianus Aronggear (SE) 
  4. Menteri Perdagangan: Herman Womsiwor 
  5. Menteri Perekonomian: Kaleb Taran 
  6. Menteri Kehutanan: Melkianus Horota 
  7. Menteri Pendidikan: Melkianus Watofa 
  8. Panglima Perang: Permanes Ferry Awom 
Namun sebelum dokumen itu diserahkan oleh Terianus Aronnggear kepada Hendrik Joku di Jayapura, untuk selanjutnya diselundupkan ke luar negeri melalui perbatasan Papua New Guinea, Terianus Aronggear (SE) ditangkap oleh pihak keamanan di Biak pada tanggal 12 Mei 1965.

Nama Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada mulanya adalah nama yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia kepada setiap organisasi atau faksi, baik di Irian Jaya maupun di luar negeri yang yang bertujuan makar memerdekakan Papua/Irian Jaya dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Belakangan nama yang dipake Pemerintah RI itu semakin populer yaitu pada saat meletusnya kejahatan berenjata di Manokwari yang dilancarkan Permanes Ferry Awom pada tahun 1963 di Manokwari, serta pemberontakan atau aksi militer sporadis lainnya diberbagai wilayah Irian Jaya.

Organisasi Papua Merdeka lahir dari faksi makar yang ada dan dibentuk di Irian Jaya atau Papua Barat. Faksi-faksi itulah yang mengirim berita atau informasi kepada pemimpin Papua yang memilih tinggal di Belanda, supaya bersama-sama melakukan tindakan makar melepaskan Papua dari pelukan Ibu Pertiwi.

Setelah mendapat informasi tentang perjuangan di Irian Jaya, Nicolaas Jouwe dan Marcus Kaisiepo mulai menyusun rencana perjuangan baik politik maupun militer untuk mendukung aktifitas perjuangan kemerdekaan di Irian Jaya yang dilakukan Organisasi Papua Merdeka untuk menggunakan nama Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai suatu nama kesatuan dalam perjuangan bangsa Papua Barat.

Baca Juga: Kedekatan Belanda-Australia dan Berdirinya Organisasi Papua Merdeka


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search