Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Batara Wajo III, Raja Bugis Yang Tak Bermoral

Selepas kemangkatan Batara Wajo II, Kerajaan Bugis Wajo kemudian melantik La Pateddungi To Samallangi sebagai Raja wajo selanjutnya, beliaupun kemudian diberi gelar Batara Wajo III. Jika dalam masa Batara Wajo I dan II rakyat Wajo makmur dan tentram karena Rajanya adil dan bijaksana, maka tidak demikian dalam zaman Batara Wajo III, sebab Raja tak bermoral, ia gemar menculik anak gadis bahkan perempuan-perempuan beristri di wilayah kerajaanya untuk di direnggut kesuciannya, malangnya perbuatannya itu dilakukan dengan terang-terangan.

Perbuatan Batara Wajo III yang tak bermoral pada rakyatnya itu kemudian membuat sebagian besar rakyatnya marah, akan tetapi mereka tak berani untuk melawan Raja, merekapun kemudian melaporkan kelakuan buruk Rajanya kepada Paman Sang Raja, berkali-kali pamannya menasehati keoponakanya untuk sadar dan taubat, namun nasihat pamanya itu hanya didengar saja, tidak ia turuti.

Batara Wajo III tetap pada perbuatan buruknya, ia tetap melakukan perbuatan tak bermoralnya mengambil anak gadis maupun wanita-wanita bersuami untuk melampiaskan nafsunya.

Perbuatan itu pada kemudiannya membuat amarah rakyat terhadap Rajanya memuncak, sementara pamannya sendiri sudah muak dengan kelakukan keponakanya, dan akhirnya Rakyat Wajo kemudian bersekutu dengan Paman Batara Wajo III untuk melakukan kudeta.

Bersama rakyat para Petinggi Kerajaan Wajo mengusir Batara Wajo III, Raja pun kemudian terusir, dan dalam pengusiran tersebut Batara Wajo III kemudian dibunuh, ia dikisahkan dibunuh dengan cara kejam.

Selepas kemangkatan Batara Wajo III, diubahlah kemudian peraturan ketata negaraan di Wajo, jika dalam masa Batara Wajo I, II dan III, Raja Wajo diangkat berdasarkan keturunan dan bersifat Monarki Absoulut, maka setelah kemangkatan Batara Wajo III, Kerajaan ini menggunakan sistem Monarki Konstitusional, yaitu Raja Wajo dipilih oleh Pejabat Tinggi Kerajaan (Semacam Pimpinan DPR/MPR Sekarang).
Ilustrasi
Kisah menganai Batara Wajo III yang gemar merenggut kesucian wanita-wanita di kerajaannya sendiri itu  tertulis pada buku WAJO ABAD XV – XVII bagian ketujuh karya Andi Zainal Abidin, kisah tersebut menurut penulisnya diambil dari Lontara (Naskah Kuno) Wajo. Demikian kisah lengkapnya;

Dimulainya perbuatan jahat Batara Wajo La Pateddungi To Samallangi turun ke tanah di malam hari (dengan alasan) menjaga negerinya. Setelah tiga tahun ia berbuat turun ke tanah (untuk) tidur, maka kedapatanlah perbuatan jahatnya. Dipermain-mainkanlah anak dan isteri orang-orang Wajo.

Maka ia dinasehati oleh pamannya, Tuan kita Arung Saotanre, didengarnya jua nasehat sanaknya, namun tidak diubahnya juga perbuatannya yang tidak tertahankan oleh orang-orang Wajo (ialah) berkelilingnya mengambil perempuan orang dan dilawannya berzinah, baik gadis maupun yang bersuami.

Akhirnya Batara Wajo La Pateddungi To Samallangi menyuruh gantung kelambu pada hari pasar dan menyuruh untuk menarik perempuan orang-orang Wajo yang disukainya lalu diperkosanya.

Maka dinasehati lagi oleh pamannya, Arung Saotanre, demikian : "Jangan engkau lakukan perbuatan yang demikian yang tidak disukai oleh orang-orang Wajo dan dibenci oleh Dewata Yang Esa, bila engkau hendak mengambil perempuan, yang gadis saja engkau ambil untuk diperistrikan, karena beruntung juga orang-orang Wajo bila engkau perayahkannya".

Berkata Batara Wajo : "Baiklah disuruh tandai diri orang-orang yang bersuami supaya bertapong dan bertopi. Maka memakai Tapong dan bertopilah wanita-wanita yang bersuami, namun tidak diubahnya juga perbuatan Batara Wajo, baik yang bertapong maupun yang bertopi diambilnya juga. Berganti-gantilah para arung di Wajo menasehatinya dan datang pula Arung Penrang di Wajo menasehati cucunya tetapi tidak diubahnya, sebab takdir Dewata yang Esa.

Yang dikerjakan lagi orang-orang Wajo ialah wanita-wanita tinggal di rumah dan suami mereka saja pergi ke pasar. Yang diperbuat lagi Batara Wajo, ialah menyuruh untuk mengambil secara diam-diam perempuan di rumahnya. Jikalau ada orang yang menyembunyikan perempuannya, ia sendiri pergi mengambilnya. Maka banyaklah orang yang pindah dan pergi ke Penrang, ada pula yang menyeberang ke Pammana.

Setelah Arung Saotanre melihat orang-orang Wajo berpindahan, dikumpulkannyalah yang masih ada. Setelah orang-orang Wajo berkumpul, berkata Arung Saotanre : "Aku lihat engkau sekalian orang-orang Wajo sangat enggan mempertuan Batara Wajo La Pateddungi To Samanglangi. Tetapi aku telah memecatnya dari jabatan Arung. Barulah kelak aku mengangkatkan Arung untuk kalian, jikalau kalian mengiakan kataku".

Berkata orang-orang Wajo : "Mengapa ada perkataanmu demikian, hai Arung Saotanre ?" Menjawab Arung Saotanre : "Bila kalian menjadi raja, pilihlah diluar aku! Hanyalah yang akan aku lakukan, bila ada yang kalian sepakati menyukai, aku akan mengangkatnya untuk kalian, [dan] kubuatkan janji [untuk] kalian. Aku mempertahankan adat persetujuanmu, dan yang akan mengadakan ikrar untuk [dan atas nama] kalian.

Jikalau kalian sepakat lagi membencinya, pemerintah [dan] rakyat, maka aku memecatnya untuk [dan atas nama] kalian. Jika kalian terjadi kesukaran [yang menimbulkan pertumpahan] darah berapi-api (= yang mendesak untuk diselesaikan?) di Wajo', [dan] kepunyaannya akulah yang memegangnya [dan] mengusahakan dengan baik.

Setelah ada raja di Wajo', maka aku hadirkan [orang-orang] Wajo' [lalu] kuserahkan [kepadanya], [agar] disaksikan olehnya [orang-orang] Wajo'. Maka mengialah [para] arung (=pejabat-pejabat) serta orang-orang Wajo'.

Berkata Arung Saotanre, "Baiklah amanatkan kepada anak [dan] cucu kalian, dan aku amanatkan pula kepada anak [dan] cucuku. Bahwa pantang Arung Saotanre dijadikan raja matahari, [hal mana] disaksikan oleh Dewata yang Esa."

Setelah jabatan arung simettempola diubah menjadi arung Bettempola dan jabatan itu dirangkap oleh Ranreng Bettempola La Paturusi To Ma'dualeng dan semua Renreng Bettempola kemudian, maka untuk membedakan fungsi kedua jabatan itu harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut, Jikalau pemangku jabatan itu mengangkat atau memecat arung matoa, membela hak-hak kebebasan rakyat, atau menjuru-bicarai Wajo', maka pejabat itu melaksanakan fungsi arung betteng yang dalam hal tersebut dijuluki dengan inanna limpoe (=ibu rakyat atau negeri).

Kalau ia melaksanakan tugas lain, maka ia berkedudukan sama dengan kedua orang ranreng lainnya, yaitu sebagai kepala pemerintahan di limpo-nya dan anggota dewan pemerintah pusat Wajo'.

Pada waktu mangkatnya Batara Wajo' La Tenribali, orang-orang Wajo' hendak menjadikan raja La Mataesso bersama La Tiringeng To Taba'. Karena tidak diketahui siapa [diantaranya yang sebaiknya] dipilih oleh orang-orang Wajo '. Sama cakap, sama jujur [dan] sama tegas. Berkata orang-orang Wajo', "Kita sama angkatlah [keduanya sebagai] raja, sama turunan La Rajallangi' To Patiroi." Maka berkata Saotanre : "Perbuatan demikian itulah yang merusak Cinnottabi', [karena] diadakannya dua orang raja dan sama lain pendapat mereka."

Ketika Tuan kita To Taba' berkata demikian, hanya yang disepakati oleh orang-orang Wajo' [ialah] menyatakan kepada Arung Saotanre : "Engkaulah yang dicapai [oleh] pikiran kami, dan engkaulah yang mengangkat raja, jikalau ada yang engkau suka, serta engkaulah yang menelungkup menengadahkan (=menentukan nasib) negeri Wajo', perinduk."

Bila ada yang disepakati oleh orang-orang Wajo', pemerintah [dan] rakyat, pergilah mereka kepada Arung Saotanre dan beliaulah yang mengangkat raja dan mengadakan perjanjian [dengan raja itu]. Demikian itu pula jikalau ada raja yang disepakati tidak disukai oleh orang-orang Wajo', pemerintah [dan] rakyat, pergi pula [mereka] ke Arung Saotanre [dan] ialah yang memecatnya.

Demikianlah yang digenggam (=yang dipegang teguh) [oleh] Arung Saotanre [yang menyangkut hal] yang telah disepakatinya [dengan] orang-orang Wajo'. Tidak dibalikkannya lidahnya jika dibukanya matanya [dan] tidak mendengar telinganya jikalau bukan kemauan [berdasarkan] persetujuan bersama [orang-orang] Wajo'."

Entah berapa tahun [sejak] memburuknya perbuatan Batara Wajo' La Pate'dungi To Samanglangi', [maka] Arung Saotanre didatangi oleh orang-orang Wajo' untuk menyatakan kepedihan mereka.

Arung Saotanre hanya menggeleng kepala saja, dan disampaikannya adalah kata-kata bujukan dan penenteraman yang lemah lembut lalu pergi menasehati Batara Wajo'. Adapula Batara Wajo' hanya mendengarkan saja nasehat pamannya dan mengiakannya, namun tidak diubahnya juga perbuatan jahatnya.

Maka habis akallah Arung Saotanre dan malu pula kepada orang-orang Wajo' serta ia juga tidak mau diperumpamakan (=tidak mau disesali dan dicela?) adapun yang dilakukannya hanya menentramkan orang-orang Wajo' dengan kata yang lemah lembut [sebagai] pembujuk serta dimohonnya pertolongan kehadapan Dewata Yang Esa [agar melimpahkan] kebaikan [kepada] negeri bersama orang-orang Wajo'.

Maka datanglah La Taddampare', putera saudara lelaki sekandung Arung Saotanre yang bernama La Tompiwanua yang pergi memperistrikan I Tenrilai' puteri Arung Palakka dan lahirlah La Tadampare'. Dikeluarkan ia dari Bone, sebab dicela kelakuannya. Berjalan kaki [ia] pergi ke Wajo', [untuk bertemu dengan] pamannya, Tuan kita Saoranre. Tiga ratus [orang] sekawan sama meninggalkan Palakka.

Di Solo' mereka menyeberang dan singgalah [mereka] mandi di [sungai] Walennae. Ditanggalkannya pembelit [pinggang] mulainya dan dialirkannya di [sungai] Walennae. Berkata La Tadampare' : "dengarkanlah sekalian diatas, di bawah, di barat, di timur, di selatan, di utara, bahkan semua yang berkelana di dunia ini! Sekalipun kembali pembelit [pinggang] yang dihanyutkan oleh arus deras, tidak akan kembali lagi perbuatan jahatku lagi, aku taubatkan yang disaksikan oleh Dewata Yang Esa, sebab hanya raja yang dapat memperbaiki negeri, yang telah merenang-renangi perbuatan jahatnya, lalu ia taubatkan dan bersumpah, yang disaksikan oleh Dewata Yang Esa kata benarnya". Maka masuklah ia di Wajo' dan langsung pergi ke rumah pamannya [untuk] bermalam.

Berkata Arung Saotanre kepada kemanakannya : "Oh Tadampare', sungguh jahat perbuatan sanakmu Batara Wajo'. Telah habis kata baikku serta peringatanku, dan habis pulalah semua nasehat di Wajo'."
Bertepatan dengan sibuknya orang-orang di Wajo' hendak turun di sawah mereka, maka berkata Arung Saotanre : "Engkau hai Tadampare', yang aku kehendaki membimbing pertanian di Wajo'." Dan mengiya La Tadampare'.

Namun, berkata Tuan kita To Taba' kepada kemanakannya, "Demikianlah permufakatanku [dengan] orang-orang Wajo' : "aku kehendaki engkau mengusirnya ke luar, meninggalkan Wajo'. Bila [ia] tidak mau meninggalkannya, bunuhlah! Berkata La Tadampare' kepada pamannya : "Adapun Tuanku, [kekuatan] Batara Wajo' seimbang jua [dengan kekuatanku, sebab] sanakku berkawan tiga ratus orang„ [sedangkan] aku juga tiga ratus orang berteman. Namun, biarlah aku pergi menasehati sanakku, supaya aku melepaskan [nasar] kepada rokh [nenek moyang] aku bersama, sebab aku akan dikutuk oleh rokh [dari mana] aku seasal, jikalau aku tidak menunjukkan sebab [dan] akibat [perbuatannya]. Apalagi jikalau ia hendak mengubah [perbuatan] yang dibenci oleh orang-orang Wajo'."

Maka pergilah La Tadampare' hendak menyadarkannya, dan didapatinya lagi meniduri di rumahnya yang bukan isterinya. [yaitu] isteri orang Wajo'. Ketika ia naik ke rumah sepupunya, berkata Batara Wajo' : "Pergilah duduk [hai] bangsawan pendatang!" La Tadampare' tersenyumlah, dan duduk [sambil] menyampaikan kata yang mulia disertai dengan penghormatan, peringatan dan mempertakutinya kepada Dewata Yang Esa, lalu kembali keep rumahnya.

Keesokan harinya, ada Lagi orang Wajo' pergi mengadu kepada Tuan kita La Tadampare', katanya : "Adapun perempuan dua beranak itu, ibunya dahulu yang diperkosa, kemudian anaknya. Jadi didempetkannya dalam satu kelambu dua beranak. Maka pergi lagi La Tadampare' bersama pengikutnya ke rumah Batara Wajo' dan masih ditemukannya perempuan dua beranak itu di rumah Batara Wajo'.

Setelah La Tadampare' naik di istana, berkata Batara Wajo' La Pate'dungi To Samanglangi', : "pergilah duduk, [hai] bangsawan pendatang!" menjawab La Tadampare' : "Ya, raja penjangkit wabah, wabah perusak padi yang tidak mendatangkan musim panen, yang tidak mendaunkan tanaman. Janganlah engkau berbuat yang dicela [oleh] orang-orang Wajo', yang baiklah yang engkau kerjakan!".

Maka kembalilah La Tadampare' [untuk] menemui Arung Saotanre, katanya : "Baiklah disuruh orang-orang Wajo' [untuk] mencari benih dan bersesuaian kata, supaya kita sama keluar makan bersama di sawah". Maka diumumkannya [hal itu], dan semua [orang] pergilah, [lalu] orang-orang bersesuaian kata. Maka waktu [untuk] pembajakan [sawah disepakati ialah] pada [hari] ke delapan munculnya bulan.

Berkata ada seseorang yang bertanya, demikian : "siapakah orang yang ditugaskan oleh Arung Saotanre pergi menasehati Batara Wajo' ?" jawab orang yang mengetahui : "itulah kemanakannya, anak dari saudara kandung Arung Saotanre yang bernama La Tompiwanua yang pergi memperistrikan puteri Arung Palakka yang bernama We Tenrilai' dan lahirlah La Tadampare'. Putera tunggal ia dari ayah [dan] ibunya, [dan] beliaulah yang disuruh oleh Arung Saotanre [untuk] mengumumkan (=membimbing) pertanian di Wajo'."

Berkata La Tadampare' kepada orang-orang Wajo', "Sama datanglah besok, [hai] orang-orang Wajo'!" keesokan harinya berdatanganlah orang-orang Wajo' di pagi hari, di waktu subuh, dan pergi ke Tuan kita La Tadampare' dan menemaninya pergi ke istana Batara Wajo', "Pergilah duduk, [hai] bangsawan pendatang ! " jawab Tuan kita La Tadampare', "Ya, raja sial, keluarlah engkau hari ini! Engkau telah dibenci pula oleh negeri (=rakyat), bila engkau tidak mau pergi, aku akan mempertemukan engkau dengan nenekmu yang engkau tidak pernah lihat." dan tiga kali ditujukan kata-kata kepadanya tidak menyahut Batara Wajo', lalu turunlah, dan pergilah La Tadampare' mengisi sanaknya, diikuti orang-orang Wajo.

Setelah tiba di hutan, masuklah ia di hutan. Maka kembalilah tuan kita La Tadampare' bersama orang-orang Wajo'. Pergilah sepupu dua kalinya Batara Wajo' yang bernama La Tenriumpu' To Langi' adik Tuan kita La O'bi' Sattiriware', Pa'danreng Bettempola mengikuti Batara Wajo', sebab ia pernah dihina, dicapainya sepupu dua kalinya di sawah, di sanalah dibunuh Batara Wajo' La Pate'dungi To Samallangi'.

Setelah matinya Batara Wajo', La Pate'dungi To Samallangi, hanya Tuan kita La Tiringeng To Taba' yang menelungkup [dan] menengadakan (=memerintah) Wajo'. Ia juga menyelesaikan perkara orang-orang Wajo'), bersama Pa'danreng ketiganya, bila ada pertentangan orang-orang Wajo' di dalam atau di luar [negeri].

Sumber Cerita : 
[1]Andi Zainal Abidin. WAJO ABAD XV – XVII. (BAGIAN KETUJUH). Dimulainya Perbuatan Jahat Batara Wajo

4 komentar untuk "Batara Wajo III, Raja Bugis Yang Tak Bermoral"

  1. Sejarah kerajaan di seluruh dunia mirip2 semua ( pernah dipimpin oleh raja yg bengis dan jahat ) karena yg memimpin adalah manusia mahluk ciptaan yg maha kuasa di mana manusia memiliki 2 sifat yaitu baik/sifat malaikat dan buruk/sifat setan, jika sifat baik/malaikat mendominasinya maka jadilah raja yg dicintai rakyatnya dan diberkahi negerinya dan jika sifat buruk/setan mendominasinya maka jadilah raja yg dibenci rakyatnya dan dilaknat negerinya

    BalasHapus
  2. Maaf, untuk foto yang ditampilkan, itu tidak ada kaitannya sama sekali. Foto itu adalah raja Gowa - suku Makassar. Sementara Wajo itu di wilayah suku Bugis. Tidak ada kaitannya antara raja Gowa suku Makassar dengan Wajo. Tolong gambarnya diganti dengan yang sebenarnya. Cari tentang sejarah Wajo di tempatnya langsung agar lebih baik memberikan informasi.

    BalasHapus
  3. FOTO YANG DIPASANG ITU RAJA GOWA DAN MAHKOTANYA!! TOLONGLAH ADMIN BIJAK DALAM MEMPUBLIKASIKAN SESUATU.

    BalasHapus
  4. Tolong koreksi admin sejarah Cirebon...fotonya keliru, itu foto raja Gowa Tallo :

    . I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenanga Ri Sungguminasa Sombayya Ri Gowa .

    BalasHapus

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.