Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Abdul Xarim, Agen Komunis Kelahiran Aceh

Nama tokoh ini memang nyentrik, meskipun nama yang tercantum dalam Kartu Identitasnya Abdul Karim, ia rela menukar huruf "K" dengan "X" sehingga tertulis Xarim bukan lagi Karim. 

Entah apa maksud dari ditukarnya huruf K menjadi X dalam namanya itu, apakah karena sekedar beragaya atau karena ia sudah anti tuhan dan benci terhadap namanya sendiri, karena memang kata Karim sendiri merupakan salah satu nama-nama Allah yang terkandung dalam Asmau'l Khusna

Menurut Reid (1981, hlm 32) bahwa Abdul Karim adalah pria kelahiran Idi, Aceh Timur pada 18 Juni 1901, ia merupakan anak dari Moehamad Sutan. Dalam surat menyurat, Abdul Karim mencantumkan namanya dengan "Abdul Xarim MS".

Sebagaimana yang dicatat oleh Said dalam bukunya (1973, hlm 157) bahwa Abdul Xarim M.S merupakan aktivis pergerakan nasional pada awal tahun 1920-an sekaligus terlibat dalam gerakan komunis tahun 1926-1927. Ini artinya ketika umur Xarim baru saja menginjak 19-20 tahun, ia sudah aktif sebagai agen Komunis yang diperhitungkan, terutamanya di Aceh.

Sebagai anak dari golongan Uleebalang (Bangsawan), Xarim sejak kecil mendapatkan pendidikan yang layak, ia tercatat belajar di Kweekschool dan mengambil kursus untuk menjadi tekenaar openemer (Juru Gambar), yang kemudian setelah lulus ia bergabung dengan Departemen Pekerjaan Umum (Burgerlijke Openbare Werken) di Langsa pada tahun 1914. 

Berkaitan dengan pekerjaannya, pada tahun 1920, ia dipindahkan ke Padang dan kemudian ke Kupang (Timor Barat) pada tahun 1921, Karena perpindahaan-perpindahan tersebut, ia pada akhirnya mengundurkan diri dari posisi pegawai pemerintahan, dan pada akhirnya ia lebih memilih menjadi seoerang Politikus, ia menjadi komisaris (Nationaal Indische Partij) NIP untuk wilayah Sumatera sampai kemudian dibubarkan pada Mei 1923.

Menurut Horton (2016, hlm 13). Bahwa setelah keluar dari pekerjaannya, Xarim menjadi ketua Personel Vereeniging Inlandse Personeel B.O.W. cabang serikat di Lho 'Seumawe (sekarang Lhokseumawe) dan kemudian menjadi ketua cabang untuk Nationaal Indische Partij (NIP), sebuah organisasi politik yang sifat keanggotaannya multi-etnis. Selain itu, Xarim juga aktif sebagai jurnalis dan penulis aktif, ia merupakan editor media cetak Hindia Sepakat (Sibolga) dan kemudian Oetoesan Rak’jat (Langsa). 

Masih menurut Harton, bahwa selanjutnya Xarim yang sudah cinta mati pada idiologi Komunis sejak 1921 memasuki PKI di Langsa dan tidak menunggu lama karirinya kian melejit, sebab pada akhir 1924 telah menjadi anggota eksekutif nasional. Bahkan lebih lanjut karir politiknya meningkat dengan menjabat sebagai pemimpin PKI cabang Langsa dan kemudian menjadi komisaris CC-PKI untuk Sumatera.

Sebagai orang Aceh yang PKI, tentu saja Xarim berupaya agar di daerah kelahirannya, banyak rakyat yang bergabung dengan PKI, ia pun melakukan blusukan ke berbagai daerah yang ada di wilayah Sumatra untuk menemui tokoh-tokoh penting termasuk tokoh penting di Aceh agar sedia bergabung dengan PKI. 

Kedalaman Xarim dalam ilmu pengetahuan, dan kepiawaiannya dalam menulis serta ditopang oleh gaya bicaranya yang meyakinkan, rupanya mengantarkannya pada keberhasilan, sebab banyak tokoh-tokoh hebat di Aceh yang dapat ia rangkul, bahkan ada anak seorang Ulama yang bersedia bergabung menjadi anggota Komunis berkat usahanya.

Diantara tokoh-tokoh berpengaruh asal Aceh yang pada akhirnya menjadi seoerang Komunis karena pengaruh Xarim adalah Tgk. Abdoel Hamid, putra dari ulama Besar di Tanjong, Tgk. Haji Malem.

Abdul Xarim MS

Xarim Dijebloskan Ke Penjara Oleh Belanda

PKI dalam menjalankan perjuangannya menyerukan anti penjajahan, penindasan dan perampasan hak-hak orang miskin, buruh dan orang-orang tertindas, sehingga dalam setiap kampanye dan propagandanya, orang-orang PKI sering menghujat pihak pemerintah Kolonial Belenda dan Pemerintah Lokal boneka Belanda yang dianggap sewenang-wenang dan merampas harkat dan martabat rakyat.

Karenanya, Belanda kala itu merasa kedudukannya sebagai penjajah terancam oleh Propaganda yang dilakukan PKI baik yang di sampaikan melalui orasi maupun surat kabar yang dicetak dan disebarkan oleh PKI. 

Tokoh-tokoh PKI yang dianggap melakukan provokasi dan berita bohong banyak dijebloskan ke Penjara oleh Belanda bahkan di buang ke Boven Digoel (Papua), salah satu tokoh PKI Aceh yang merasakan dinginya penjara dan pembuangan adalah Xarim.

Menurut Harton (hlm 13), bahwa selama menjalankan aktivitas sebagai agen dan Ketua Komunis, Xarim kerap kali dipenajara, ia dilaporkan pernah dipenjara selama 13 bulan sejak Agustus 1925 karena kegiatan politiknya. 

Tidak sampai itu saja, sebagai akibat gerakan politiknya, karim kali ini disengsarakan dan dijauhkan oleh Belanda dari tanah kelahirannya, Xarim dibuang dan dipenjara di Boven Digul (Papua) pada Bulan Mei Tahun 1927.

Pada tahun 1932, Xarim diampuni oleh Belanda, ia kemudian dipulangkan ke Sumatra, kali ini pergerakan Xarim agak melunak, mungkin ia masih taruma ketika di Penjara di Digoel, karena selepas pembebasan, Xarim memilih tinggal di Medan dan menjadi Jurnalis non Politik. 

Xarim Menjadi Dalang Pembantaian Para Sultan Melayu Sumatra Timur

Setelah hengkangya Belanda pada 1943 akibat invasi Jepang suhu perpolitikan di Indonesia dankhususnya Sumatra berubah, dan terus mengalami perubahan yang drastis setelah kekalahan Jepang dalam perang Dunia II. Mengamati hal semacam itu Xarim melanjutkan perjuangannya sebagai seorang PKI.

Berkaitan dengan keterlibatan Xarim dalam pembantaian Sultan dan Keratabat Kesultanan di Sumatra Timur dalam tragedi Revolusi Sosial Sumatra Timur 1946, beritanya disebutkan dalam catatan Intelejen Belanda;

Xarim menurut catatan Intelejen Belanda adalah salah satu dalang dari terjadinya tragedi yang menewaskan Sultan-Sultan di Sumatra Timur, ia dianggap sebagai dalang, penghasut dan Ketua Teororis yang berkedudukan di Medan (Hanif Harahap dan Dini Ramadhani 2019, Hlm 77). 

Tuduhan Intelegen Belanda terhadap Xarim sebagai Dalang dari meletusnya Revolusi Sosial juga terbukti dalam catatan yang lain. 

Dalam koran berita lokal Medan, yaitu "Harian Soeloeh Merdeka" Xarim pernah menyerukan ancaman kepada kaum bangsawan (Sultan-Sultan di Sumatra Timur dan Kroninya) yang tetap bekerjasama dengan musuh–musuh Republik. Ancaman Karim tersebut berbunyi : “semua penghianat dan kaki tangan musuh akan dipotong lehernya”. (Sinurat 2017).

Benar saja, selepas Ancaman Xarim tidak diindahkan para bangswan Sumatra Timur yang terbukti dari tindakan mereka yang lebih mendukung Belanda pada 1946 ketimbang mendukung Republik yang kemerdekaannya telah diproklamirkan pada 1945 itu akhirnya dibantai melalui tragedi Revolusi Sosial yang berdarah-darah. 

Begitulah petikan kisah mengenai Abdul Xarim, Agen Komunis Kelahiran Aceh yang sebetulnya selama hidupnya dibaktikan untuk tegaknya Republik Indonesia, hanya saja cara-cara yang ia lakukan terbilang ekstrim. 


Selain di Sumatra Timur, Revolusi Sosial juga terjadi di Jawa, banyak para Bupati di Jawa juga terbunuh dalam Revolusi yang dilancarkan kaum Komunis. Baca dalam : Kardinah, Adik RA. Kartini, Korban Revolusi Sosial Tiga Daerah

Daftar Bacaan;

[1]Horton, William Bradley. 2016. “History Unhinged: World War II and the Reshaping of Indonesian History William Bradley Horton 2016.” Waseda University.
[2]Hanif Harahap dan Dini Ramadhani. 2019. Laskar Revolusioner Sumatera Timur : Dari Revolusi Sosial Di Simalungun Sampai Kudeta Gubernur Sumatera. Yogyakarta: Deepublish.
[3]Reid, Anthony. 1979. The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in 
Northern Sumatra. KUALA LUMPUR: OXFORD UNIVERSITY PRESS.
[4]Sinurat, Junita Yosephine. 2017. “Sejarah Partai Politik Di Pematang Siantar ( 1927-1949 ) 
History Of Political Parties In Siantar (1927-1949).” 1: 11–18.
[5]Said, H. Mohammed. 1973. “HAT WAS THE ‘SOCIAL REVOLUTION OF 1946’ IN EAST SUMATRA?” Indonesia 15 5: 145-186.

Posting Komentar untuk "Abdul Xarim, Agen Komunis Kelahiran Aceh"