Para Pembesar Mataram Yang Melarikan Diri Ke Cirebon

- Maret 14, 2019
Selama Kesultanan Mataram diperintah oleh Amangkurat I yaitu dari mulai tahun 1646 hingga 1677 masehi, kesultanan terbesar di Jawa pada ab ad 17 itu diguncang berbagai manacam pemberontakan. Penyebabnya adalah kecongkakan Amangkurat I dalam memimpin Negara.

Pada masa Mataram dipimpin oleh Amangkurat I, Paman, adik, bahkan anaknya sendiri memberontak padanya, pemberontakan itu ditanggapi keras oleh Amangkurat I, pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam pemberontakan disingkirkan, dibunuh bahkan tak jarang diperlakukan semena-mena oleh Amangkurat I.

Baca Juga: Biografi Mangkurat I

Menghadapi kondisi semacam itu, para pemberontak terutamanya dari kalangan pembesar Kesultanan itu pada akhirnya banyak yang melarikan diri ke negeri-negeri lain salah satunya ke Cirebon.

Dalam catatan Naskah Mertasinga disebutkan bahwa setidak-tidaknya ada 5 para pembesar Mataram yang melarikan diri ke Cirebon karena menghindari hukuman mati, para pembesar-pembesar itu adalah:

  1. Arya Angkasa Manca
  2. Arya Dirja
  3. Arya Jagabayan
  4. Gedeng Kiring Manca
  5. Ki Gedeng Pengampon

Kelima para pembesar Mataram yang melarikan diri dan memohon suaka pada Cirebon ini, dikisahkan diterima Cirebon dengan hangat, bahkan diperlakukan dengan penuh persaudaraan dan diberikan jabatan penting di Cirebon.

Arya Angkasa Manca diberi jabatan dan wilayah di Kanggraksan, Arya Dirja diberi tempat di Kriyan, Arya Jagabayan diberi jabatan sebagai kepala penjaga Banteng Jagabayan, Gedeng Kiring diberi kekuasan di desa Pekiringan, sementara Ki Gedeng Pengampon diberi jabatan sebagai kepala desa di Desa Pengampon, waktu itu Cirebon diperintah oleh Panembahan Ratu II (Panembahan Girilaya), yaitu Sultan Cirebon ke III.

Sikap Cirebon yang waktu itu melindungi pelarian Mataram ke wilayahnya ini pada akhirnya membuat murka Amangkurat I kepada Panembahan Girilaya menjadi-jadi. Panembahan Girilaya dianggap oleh Amangkurat I sebagai menantu yang tidak menghargainya. Sehingga pada masa ini hubungan Cirebon dan Mataram menjadi retak.

Dalam catatan Naskah Mertasinga, peristiwa pemberian Suaka oleh Cirebon kepada beberapa pemberontak Mataram inilah yang kemudian membuat Mataram ingin menghapuskan kesultanan Cirebon.

Amangkurat I dengan Bantuan seorang Belanda akhirnya menjebak Panembahan Girilaya untuk datang ke Mataram bersama kedua putra Mahkota, kelak selepas Panembahan Girilaya datang ke Mataram, ia bersama kedua putra Mahkota disekap di mataram.

Baca Juga: Martawijaya dan Kertawijaya, Calon Raja Cirebon Yang disekap Raja Mataram

Ketiganya ditawan, sementara  Panembahan Ratu II dikisahkan wafat ketiga beberapa hari sampai di mataram, kewafatanya disebabkan dibunuh melalui jalan guna-guna. Panembahan Ratu II kemudian dimakamkan di pemakaman Girilaya Mataram. Itulah sebabnya Panembahan ratu II kemudian dijuluki dengan nama Panembahan Girilaya, karena ia seorang Sultan Cirebon yang dikebumikan di Girilaya.

Selepas kematian Panembahan Girilaya, dua orang Putra Mahkota Cirebon  tetap ditahan di Mataram, tidak boleh pulang ke Cirebon, oleh karena itu pada masa itu Kesultanan Cirebon dalam kondisi mati suri, sebab  tidak mempunyai sultan, hal tersebut berlangsung selama 16 tahun.

Kematian dan penahanan Putra Mahkota Kesultanan Cirebon oleh Mataram ini kemudian membuat murka orang-orang Cirebon dan Banten, keduanya kemudian ikut mendanai pemberontakan Trunojoyo yang meletus di Mataram. Pemberontakan itu pada akhirnya mampu membebaskan dua putra Mahkota Cirebon bahkan mampu merebut Istana Kesultanan Mataram, sehingga Amangkurat I melarikan diri ke hutan, Amangkurat I sendiri kemudian wafat dalam pelarian.

Baca Juga: Riwayat Panembahan Girilaya, Sultan Cirebon ke III

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search