Sejarah Jalan Perjuangan Kota Cirebon

- Juni 03, 2019
Di Kota Cirebon terdapat salah satu Jalan yang disebut Jalan Perjuangan, di Jalan itu pula pemerintah Kota membangun tugu peringatan sebagai tanda perjuangan tentara dan rakyat Cirebon dahulu kala dalam melawan Belanda.

Dibangunnya Tugu dan Jalan Perjuangan di Kota Cirebon berkaitan erat dengan peristiwa pertempuran di Cirebon, yaitu pertempuran antara Pasukan Kancil Merah yang dipimpin Letnan Abdul Qodir Vs Belanda.

Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda menghianati perjanjian Linggar Jati, wilayah-wilayah yang dahulu diakui sudah merdeka tiba-tiba diserbu Belanda, termasuk didalamnya Cirebon. Peristiwa ini dalam sejarah dikenal sebagai Agresi Militer Belanda ke I.
Monumen Perjuangan Jl Perjuangan Cirebon
Tepat pada pukul 09.00 Wib disaat umat Islam Cirebon sedang melaksanakan Puasa Ramadhan, Belanda tiba-tiba melakukan serangan udara, serangan tersebut adalah tanda dimulainya agresi militer Belanda di Cirebon.

Kota Cirebon, mula-mula digempur dari udara, serangan udara menyasar basis-basis kekuatan Tentara Republik serta objek vital di Cirebon seperti Jembatan Krian, Stasiun Kejaksan, Kutaraga, Parujakan dan Pagongan. Dalam penyerangan yang membabi buta itu puluhan rakyat wafat terbunuh termasuk anak-anak dan wanita.

Setelah puas melakukan serangan uadara, Belanda kemudian menerjunkan pasukan daratnya untuk mengambil alih Kota Cirebon, mereka dilengkapi mobil dan tank-tank modern dizamannya.

Tentara Indonesia dari Divisi Siliwangi yang sebelumnya dibombardir dari udara tidak dapat berbuat banyak, sebab selain kalah persenjataan, mereka juga tercerai berai dengan para komandannya, kontak terputus.

Mendapati kondisi yang tidak menguntungkan, Letnan Abdul Qadir dari divisi Siliwangi berijtihad, beliau mengumpulkn sisa-sisa pasukannya yang masih hidup untuk kemudian membentuk pasukan khusus yang ia beri nama Pasukan Kancil Merah, dinamakan Kancil Merah karena pasukan ini diharapkan mampu bergerak cepat seperti kancil yang tak pantang menyerah.

Pada tanggal 22 Juli 1947, Belanda memasuki Kota Cirebon, fikirnya mereka akan dapat mudah menguasai kota Cirebon, akan tetapi perkiraan itu ternyata meleset, sebab pada Tahun 1948 Pasukan Kancil Merah yang dibantu rakyat tiba-tiba menyergap pasukan Belanda yang telah bercokol di Cirebon, perang darat pun tak terelakan, banyak pasukan Belanda yang mati dalam peristiwa ini.

Meskipun pasukan Kancil Merah dapat menyergap Belanda dan membunuhi tentara mereka, namun karena kurangnya amunisi dan persenjtaan, maka beberpa jam kemudian, Pasukan Belanda mampu bangkit kembali, dengn tank-tank canggihnya Belanda berhasil menghalau Pasukan Kancil Merah.
Ilustrasi Pejuang
Halauan itu menyebabkan beberpa puluh Pejuang dan pimpinan satuannya wafat terbunuh. Sisa-sisa Pasukan Kancil Merah yang terdesak kemudian mengundurkan diri ke seletan Cirebon, mereka melarikan diri sambil mencari asupan amunisi. Belakangan Pasukan Kancil Merah ini kemudian menuju Desa Mandala yang terletak di Kaki Gunung Ciremai yang sekarang masuk  wilayah Kecamatan Sumber. Mereka bergabung dengan Tentara Nasional lainnya untuk menghimpun kekuatan kembali.

Perjungan Pasukan Kancil merah dari divisi Siliwangi dalam mempertahankan Kota Cirebon agar tidak mudah di ambil alih Belanda itu pada nantinya mengundang decak kagum, sehingga nantinya pemerintah Kota Cirebon memutuskan tempat dimana terjdinya peristiwa peperangan dinamakan sebagai Jalan Perjuangan.

Selain Jalan Perjuangan, sebenarnya ada juga nama Jalan lain yang berkaitan dengan peristiwa itu, seperti Jalan Kusnan, Saleh dan Jalan Suroto, Jalan-Jalan tersebut diambil dari nama-nama anggota Pejuang yang wafat dari pasukan kancil merah pimpinan Letnan Abdul Qadir.

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search