Naskah Tarekat Muhammadiyah

- Juli 03, 2019
Naskah Tarekat Muhammadiyah adalah salah satu naskah yang berasl dari Cirebon, naskah ini merupkan slah satu naskah koleksi Bangbang Irinto. Naskah memiliki kode CRB16/BLAJ/MBI/012, berksra arab pegon dan berbahasa Jawa, naskh berjenis prosa, naskh berjumlah 56 halman.

Naskah ini tidak memiliki sampul. Jilidannya pun sudah tidak terlihat. Kondisi kertas sudah lapuk di pinggirannya. Terdapat bercak-bercak seperti terkena air di beberapa halaman. Teks dalam naskah masih dapat terbaca, meskipun ada satu dua huruf di bagian awal terpotong akibat lapuknya kertas.  Tinta hitam digunakan untuk menulis naskah utama.

Untuk menuliskan tanda titik atau akhir kalimat, penulis memberikan bulatan yang diarsir menggunakan tinta biru dan merah. Di beberapa bagian halaman akhir juga terdapat penggunaan tinta emas untuk menggambarkan ilustrasi. Terdapat watermark bertuliskan . Teks dalam naskah ditulis menggunakan aksara Pegon dan bahasa Jawa. Ada beberapa kata yang masih menggunakan bahasa Arab yang oleh penulis dituliskan terjemahnya ke dalam bahasa Jawa. Terdapat pula bagian yang dituliskan menggunakan aksara Jawa.

Naskah ini terdiri dari 9 baris di setiap halamannya. Terdapat penomoran halaman di atas teks menggunakan pensil. Ada bagian yang tersambung, namun ada pula beberapa  bagian yang seperti ‘terloncat’. Terdapat ilustrasi di halaman akhir naskah. Kertas yang digunakan dalam naskah ini ada yang sudah lapuk dan kusam, ada juga yang masih bersih dan belum kusam. Sehingga menurut hemat peneliti, naskah yang kertasnya kusam itu naskah pertama yang ditulis oleh penulis sebanyak 30 halaman.
Salah Satu Tampilan Halaman Naskah Tarekat Muhammadiyah
Naskah yang kertasnya bersih itu naskah yang ditulis oleh penyalin sebanyak 13 halaman. Selain dari fisik naskah, khat yang digunakan itu ada perbedaan. Naskah dengan kertas yang masih bersih tersebut khatnya lebih rapih, sedangkan naskah yang kertasnya kusam itu khatnya banyak juluran seperti khat tsuluts.

Pembahasan yang dimuat dalam naskah ini adalah: 4 hal yang bisa membuat kita bermartabat santun, Analogi makhluk ciptaan Allah dengan Emas, Menyatu dengan Allah, Hakikat orang ‘alim, Mati sebelum mati, Kekuasaan Allah, Thariq Muhammadiyah (mengikuti jejak Nabi Muhammad, seorang yang insan kamil), Hakikat orang yang sudah melebur kepada Allah dan mendapat hakikat dari Nabi Muhammad, Hakikat penciptaan Muhammad, Kerugian bagi yang tidak terpancar Nur Muhammad, Istighal dan Syuhud, Amalan orang yang Istighal, Doa untuk mandi, bukan sembarang mandi, Lafadz Allah sebagai pengikat niat, Keutamaan orang yang Istighal kepada Muhammad, Amalan agar terbuka kepada Sughul Thariq Muhammad, Skema Thariq Muhammadiyah (diilustrasikan seperti anatomi manusia; ada bagian kepala, tangan, perut dan kaki), Hakikat sempurnanya shalat, Wujud Allah, Asalnya Ṣulbi; Keseimbangan jasad, hati, nyawa, rusydi; merupakan kesempurnaan ma’rifat manusia; Ilmu hakikat, Hakikat Syahadat Hakikat Shalat dan takbir dalam shalat.

Kutipan awal teks, “...Kaweruhané dén nerosaken ing wongkang angulati ‘ilmu ing setuhuné rasa iku ‘ilmu kang pinagurokaken ing guru kang sempurna. Maka iyaiku ingkang ginedongan déning wong ngagung lan iyaiku sempurna ning ma’rifat kang minargakaken saking martabating idep maka keweruhané martabating idep iku ana patang perkara kang dingin dén awas ing kayaning...”. [...Pengetahuannya diteruskan kepada orang yang mencari ilmu dengan segenap rasa itu ilmu yang diajarkan oleh guru yang sempurna. Maka itu yang disampaikan oleh orang agung dan yaitu sempurna ma’rifatnya yang menampakkan martabatnya yang santun, maka pengetahuan tentang martabat yang santun itu ada empat perkara yang diawasi seperti di...].

Petikan akhir teks, “...Kang akéh- akéh kang benda-benda iku kabéh tatapi iya tetep dzat ... (hilang teksnya) Hawa-hawa saking tanpa rupa warna lamun wus kaya mengkonon maka haqiqaté dzohir kita iki dzohiré ing Allah lan rupa warna kita iku rupa warna ning Allah karana wus anaksi ora nduwéni Rupa warna dhéwék kaweruhé déniré kang ingucapaken singsapa bener syahadaté maka bener takbiré lamun wus bener takbiré maka bener sakaraté...”. [...Yang banyak-banyak yang benda-benda itu semua tetapi ya tetap dzat ... ... dari tanpa rupa warna. Apabila sudah seperti itu maka hakikatnya dzohir (raga) kita ini dzhoirnya kepada Allah, dan rupa warna kita itu rupa warna-Nya Allah. Karena sudah terlihat tidak memiliki rupa warna sendiri, diketahuinya dari yang mengucapkan barangsiapa benar syahadatnya maka benar takbirnya, apabila sudah benar takbirnya maka benar sekaratnya (meninggalnya)....].

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search