Perjuangan Pasukan Kancil Merah Melawan Agresi Belanda di Cirebon

- September 21, 2019
Ketika seluruh Tentara Republik divisi Siliwangi hijrah ke Yogyakarta dan Jawa Tengah, ada beberapa kelompok pejuang yang sengaja tidak ikut hijrah. Mereka bermaksud membina rakyat selama ditinggal hijrah.

Polisi Militer di Cirebon pimpinan Kapten Koestowo juga tidak semuanya ikut hijrah, begitu pula dengan satu regu pimpinan Abdul Qodir, namun Abdul Qodir sendiri hijrah ke Yogyakarta. Pada pertengahan Bulan Maret Abdul Qodir Kembali dari Yogyakarta dikarenakan ingin membina rakyat Cirebon agar dapat ikut bergrilya melawan Belanda, ia merasa muak pada Belanda yang semena-mena menduduki Kota Cirebon.

Abdul Qodir, lalu mengadakan kontak dengan rekan-rekan seperjuangannya yang berada di sekitar kota. Diantaranya adalah Edi Hamzah, Edi Joesoef, M.S. Djanaka, Abdullah, Maksoedi, Soeta, Misnen, Tadi, Ahmad Koelili. Kemis, Kaim, dan Rais. Mereka semuanya kumpul di Sunyaragi dan berusaha untuk merumuskan pengorganisasian kembali kegiatan gerilya di Kota Cirebon dan sekitarnya, dengan nama Pasukan Kancil Merah dengan Saudara Abdul Qodir sebagai Komandannya.

Pasukan Kancil Merah adalah nama samaran Pasukan Siliwangi yang berkedudukan di wilayah Cirebon dengan komandannya yang bernama Letnan Abdul Qodir yang merupakan warga asli kelahiran Kanggraksan kota Cirebon yang masuk dalam Pasukan Divisi Siliwangi.

Baca Juga: Lahirnya Pasukan Kancil Merah di Cirebon

Awalnya mereka hanya dengan kekuatan hanya 1 regu. Dengan persenjataan sebagai berikut: 1 pucuk Pistol FN 9 mm, 2 pucuk pistol Colt 38, 1 pucuk pistol Vickrers, 1 pucuk pistol Buldog, 1 pucuk pistol PM, 1 pistol Owegun, 2 Steyer, 3 pucuk Karibin Jepang, 2 pucuk Lee Enfield dan 9 Granat tangan.

Pertengahan bulan Juli 1948 keadaan Pasukan Kancil Merah bertambah dengan bergabungnya Pasukan Gagak Putih dan S.P 88 pimpinan Ashari. Dengan bertambahnya jumlah pasukan dan persenjataan mereka menjadi pasukan yang mempunyai kekuatan tempur yang pada saat itu setara dengan 1 Peleton.

Pada 16 September 1948, satu Peleton Pasukan Kancil Merah Menyerang Pos Polisi Belanda di Sunyaragi pimpinan Inspektur Polisi Heine, terjadilah pertempuran sekitar tiga puluh menit. Korban dari pihak Belanda tidak diketahui jumlahnya, sedangkan dari Pasukan Kancil Merah selamat semua.

Abdul Qodir dan teman-teman pejuangnya yang tergabung Pasukan Kancil Merah, pada bulan Oktober 1948, mengadakan kontak dengan Kapten Datoek Mahmoed Pasha, Komandan Kompi II, Batalion Roekman di Pamulihan, Kuningan. Batalion ini tidak menggunakan Pengenal TNI , tetapi nama pengenalnya menjadi Kesatuan Gerilya Rakyat Merdeka.

Setelah diadakan koordinasi, Mahmoed Pasha memutuskan bahwa Pasukan Kancil Merah dimasukan kedalam Formasi Divisi Siliwangi, Seksi III, Kompi II, Batalion Roekman. Pasukan Kancil Merah telah mempunyai Pengenal TNI AD, tetapi mereka tidak menggunakan pengenal tersebut dan tatap menggunakan Pasukan Kancil Merah.

Pada 1 januari 1949, Belanda melakukan pembersihan  besar-besaran keseluruh kota Cirebon dan sekitarnya. Pada saat itu Pasukan Kancil Merah sedang berada di Kampung Pejaten, kota Cirebon. Karena ada operasi tentara Belanda, pasukan Kancil Merah diperintahkan oleh Komandan Kompi II mereka yaitu Mahmoed Pasha, agar mereka bergegas untuk menyelamatkan diri.

Pasukan Kancil Merah  bukan tidak mampu untuk melawan tentara Belanda, sebab pada dasarnya anggota pasukan Kancil Merah melakukan serangan terhadap Belanda pada malam hari, sedangkan pembersihan yang dilakukan Belanda pada pagi hari yang dimana biasanya para pasukan Kancil Merah pada pagi hari tersebut digunakan untuk beristirahat/tidur.

Meskipun dalam keadaan mengantuk, sebagian besar anggota Pasukan Kancil Merah dapat menyelamatkan diri, akan tetapi malang bagi Abdul Qodir, M.S Djanaka, Edy Yusuf, dan Soeta mereka tidak berhasil melarikan diri, kemudian mereka berempat di bawa tentara Belanda, ketika tentara Balanda menyuruh mereka untuk berbaris dan berjalan kaki menuju mobil. Abdul Qodir, M.S Djanaka, dan Edy Yusuf berlari menyelamatkan diri ke arah semak-semak yang tinggi, sedangkan yang tidak dapat menyelamatkan diri hanya Soeta karena berada di barisan paling belakang.

Balasan Pasukan Kancil Merah Pada Blanda

Pada 4 Mei 1949, Mahmoed Pasha memimpin Pasukan S. E. Oesman, Pasukan Boedhi Hardjo, Pasukan Boenawi, Pasukan Kancil Merah, dan beberapa Pasukan lain. Pukul 09.00 malam, serentak seluruh pasukan menyerang Kota Cirebon dari segala arah.

Pasukan dari arah barat, yaitu dari arah Cideng menuju Prujakan dipimpin oleh Abdul Qodir, sedangkan pasukan dari arah selatan, yaitu dari arah Sunyaragi dengan melewati Kesambi dipimpin oleh Serma. A. Soebari.

Pasukan dari arah timur, yaitu Pegambiran melewati Jagasatru dipimpin oleh Sersan Rasman. Pasukan ini termasuk seksi S.E.Oesman. Markas komando dipimpin langsung oleh Mahmoed Pasha di Persil. Regu mortal ditempatkan di daerah Cideng dengan sasaran tembak tengsi militer Kesambi6 dan tengsi artileri Belanda.

Pada waktu serangan para gerilyawan dimulai, tentara Belanda mulai panik. Mereka menuju kearah pelabuhan untuk membentuk pertahanan. Ketika para gerilyawan memasuki kota Cirebon, ternyata kota dalam keadaan sepi, hanya tinggal polisi dan pasukan Po An Toei yaitu polisi Belanda dari keturunan Cina.

Bentrok terjadi di tengsi Pamitran, tembak-menembak terjadi tidak begitu lama, kurang lebih sekitar sepuluh menitan. Kemudian Polisi dan Po an Toei yang merasa kwalahan melarikan diri meninggalkan pos mereka.

Dari pos tengsi polisi tersebut, pasukan Kancil Merah dan para Gerilyawan mendapatkan enam pucuk senjata berikut pelurunya dan pembekalan lainya. Setelah menduduki kota selama dua jam, gerilyawan dan Pasukan Kancil Merah mengundurkan diri ke induk Pasukan di Persil, dan selanjutnya beristirahat di kampung Banjaran, Desa Sampiran.

Pada 20 Mei 1949, pukul 05.30 pagi, Pasukan Kancil Merah yang sedang beristirahat di kampung Banjaran diserang oleh pasukan Belanda dan terjadilah pertempuran sengit disekitar Balai Desa Sampiran yang mengakibatkan korban dari kedua belah pihak, dari pihak Belanda ada empat orang dan mayatnya di angkat oleh rakyat menuju tengah jalan raya, sedangkan dari pihak Pasukan Kancil Merah tidak ada korban jiwa melainkan adanya korban jiwa dari penduduk desa sekitar yang tewas bernama Bisoe dan Bella Soeprijadi anggota Polisi Militer ditawan pasukan Belanda.

Pasukan Kancil Merah mengundurkan diri dan kemudian berkumpul di Tanjakan, dilanjutkan kearah Seladara-Simaja, dan beristirahat di Majasem.

Pada 23 Mei 1949, ketika Abdul Qodir dan Edi Hamzah beserta pasukan sedang berada di Kampung Tanjakan, mereka ditembaki oleh tentara Belanda dengan Mortir dari Ciperna. Beberapa peluru mortil mengenai rumah-rumah penduduk, dan menelan korban jiwa tiga orang warga sekitar yang luka-luka terkena serpihan peluru.

Pada 2 Juli 1949, sekitar jam 07.00 malam, pos polisi Belanda di Sunyaragi di serang oleh Pasukan Kancil Merah. Setelah terjadi baku tembak selam lima belas menit, pasukan Kancil Merah mengundurkan diri. Peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak.

Pada 5 Juli 1949 sekotar jam 11.30, Desa Cideng ditembaki oleh tentara Belanda menggunakan mortir. Belanda mengira Pasukan Kancil Merah berada di Cideng. Akibat serangan tersebut beberapa rumah warga penduduk rusak berat akibat terkena ledakan peluru mortir dari tentara Belanda.

Pada pertengahan bulan Juli 1949, Pasukan Kancil Merah mencegah Patroli Belanda di Desa Kepongpongan. Terjadilah pertempuran sengit selama empat jam, hingga kedua belah pihak kehabisan peluru. Mereka juga saling kejar-kejaran dan terlibat perkelahian, hingga bala bantuan tentara Belanda datang dari daerah Kalitanjung. Sedangkan pasukan Kancil Merah mendapatkan bantuan dari pasukan Boedhi Hardjo yang datang dari arah Sumber, Pimpinan sersan Tjathja.

Dikarenakan kekuatan pasukan Belanda lebih besar, para pasukan Kancil Merah mengundurkan diri kearah Majasem, kemudian ke Desa Cempaka, sedangkan pasukan Boedhi Hardjo kembali ke induk pasukannya di Desa Mandala, Kecamatan Sumber. Korban yang tewas dari pihak tentara Belanda berjumlah dua orang dan beberapa diantaranya luka-luka, sedangkan dari pihak para pejuang pasukan Kancil Merah dan pasukan Boedhi Hardjo tidak ada korban jiwa.

Pada akhir Juli 1949, pasukan Kancil Merah membuat brikade pertahanan di Kampung Tanjakan, Desa Situgangga. Brigade ini di pertahankan oleh pasukan regu Sersan Koesim dan regu Sersan Targani.

Pada 2 Agustus 1949 sekitar jam 04.00 sore, tentara Belanda dengan tank baja menyerang pasukan Kancil Merah di Kampung Tanjakan. Terjadilah pertempuran sengit yang sebenarnya tidak seimbang dalam persenjataannya. Tetapi, dengan cerdik Kopral Dalimoen membakar roket dan meledak dengan suara yang menggelegar sehingga menimbulkan kepanikan tentara Belanda.

Akhirnya, tentara Belanda mengundurkan diri menjelang matahari terbenam dikarenakan tentara Belanda mengira bahwa pasukan Kancil Merah memiliki senjata berat Pada 8 Agustus 1949, Hasan Wadena Cirebon dikawal polisi saat menemui M.S Djanaka di Kampung Tanjakan untuk mengadakan pertemuan.

M.S Djanaka tidak dapat memutuskan masalah ini, kemudian meminta pendapat Letnat Boedhi Hardjo, Komandan Seksi II, yang kebutulan berada di kampung Malangse dekat dengan Kampung Tanjakan. Letnan Boedhi Hardjo menganjurkan agar hal ini disampaikan kepada Komandan Wilayah Kota, yaitu Letnat Abdul Qodir.

Pada 11 Agustus 1949, Pasukan Kancil Merah mendapatkan perintah gencatan senjata. Gencatan antara RI dan Belanda ini berdasarkan persetujuan antara Mr. Roem dan Dr. Royen.

Presiden RI dan Panglima Besar TNI Letnan Jendral Soedirman, pada 3 Agustus 1949 melalui siaran RRI Yogyakarta, memerintahkan penghentian tembak-menembak di seluruh Indonesia. Gencatan senjata dinyatakan mulai berlaku ada 11 Agustus 1949 untuk Jawa dan Madura, sedangkan pada 15 Agustus 1949 untuk seluruh wilayah Indonesia.

Seminggu kemudian tepatnya 17 Agustus 1949, pasukan Kancil Merah mendapatkan kunjungan Verbending Officier terdiri dari lima orang, yang di pimpin Letnan I Herman Sarens dan beranggotakan Letnan Muda Jogi S. Memet, Letnan Muda Djoni Abdulrachman, Letnan Muda Djoko, dan Sersan Mayor Alfons.

Awal bulan September 1949, pasukan Kancil Merah mengadakan pertemuan dengan pihak Belanda untuk membicarakan masalah gencatan senjata berdasarkan petunjuk Verbending Officier.

Sebelum pertemuan dimulai, utusan Belanda dan Pasukan Kancil Merah sepakat untuk mengibarkan bendera putih tanda gencatan senjata. Meskipun pada waktu itu pendidikan anggota pasukan relative rendah, rasa tanggung jawab dan disiplinnya sangat tinggi. Hal ini terbukti ketika pasukan tentara Belanda bertemu dengan pasukan Kancil Merah di Majasem, kedua pasukan membawa bendera putih dan tidak terjadi insiden. Mereka bersalaman, padahal beberapa hari sebelumnya mereka berseteru.

Daftar Bacaan
[1]Marhayono, Semuanya untuk Cirebon: Kisah Heroik Pasukan Kancil Merah dan Palagan Mandala, Jakarta: PT. Grasindo, 2003.
[2]Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia, Bunga Rampai: Perjuangan dan Pembelaan Kemerdekaan RI, Jakarta: Yayasan Pembela Tanah Air, 2011.
[3]Muhammad Halwi Dahlan dkk, Cirebon dalam Kajian Sejarah dan Budaya, Bandung: Alqaprint Jatinangor, 2005.
[4]Nurdin, M. Nur, Sekilas Sejarah Pemerintahan Kota Cirebon, Cirebon: Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Cirebon, 2011.
[5]Nasution, A. H, Tentara Nasional Indonesia 1, Bandung: NV Ganaco, 1963
[6]Panitia Penelitian Monumen Perjuangan Kotamadya Cirebon,“ Sekelumit Kisah Perjuangan Masyarakat Kotamadya Cirebon”, Cirebon: Panitia Penelitian Monumen Perjuangan Kotamadya Cirebon, 1976.
[7]Sulendraningrat, P.S, Sejarah Cerbon, Jakarta: Balai Pustaka, 1978.
[8]Zaenal Musduqi, Cirebon: Dari Kota Tradisional Ke Kota Kolonial, Cirebon: Nurjati press, 2011.

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search