Tumenggung Aria Wira Cula

- September 09, 2019
Kota Cirebon memiliki situs makam Cina yang terbilang populer, letaknya  di Samping PGC (Pusat Grosir Cirebon), penduduk sekitar menyebutnya makam tumpang bong Cina, di depan komplek makam tersebut terdapat papan keterangan yang memuat nama tokoh yang dimakamkan, namanya Tumenggung Aria Wira Cula.

Dalam catatan sejarah Cirebon, sebagaimana yang dituliskan Sulendraningrat, disebutkan bahwa sebenarnya pada komplek pemakaman tersebut  berisi dua jenazah suami-istri. Yang lelaki bernama Tan Sam Cay Khong dan istrinya bernama Loa Lip Ay.

Suami-istri almarhum ini waktu hidupnya beragama Budha. Tan Sam Cay Khong berasal dari kampung Tin Lam Sia, Kabupaten Ciang Ciu Liong Kee, Propinsi Hokkian sekarang bagian dari Negara Republik Rakyat  Cina.

Tan Sam Cay Khong  merupakan saudagar  sekaligus bangsawan dari  Cina yang kaya raya, mempunyai hubungan baik dan dengan Pemerintah Belanda dan Sultan Kasepuhan Cirebon, selain itu kedua tokoh itu juga dikenal dermawan kepada fakir-miskin dan suka menolong orang dalam kesusahan. Ia dihormati oleh kalangan bangsanya.

Kebaikan prilaku serta budi pekerti Tan Sam Cay Khong membuat Sultan Kasepuhan memberinya gelar"Tumenggung Aria Wira Cula" juga titel Dipa/Orang besar.

Diantara anak-anak Tumenggung Aria Wira Cula adalah Tan Kiu Ngau dan Tan Thian Song. Tumenggung Aria Wira Cula  meninggal dunia pada Tahun 1739 J/1817 M. Makamnya semula dinamai "Makam Siang Kong" yang bermaksud sepasang suami-istri.

Jenazah Tumenggung Aria Wira Cula dikubur di area pemakam tersebut atas persetujuan Tan Cin Kie, yang kala itu menjabat sebagai Mayoor der Chinezen/Mayor Bangsa Cina dibawah naungan Pemerintah Belanda.
Makam Tumenggung Aria Wira Cula
Tempat tinggal daripada Mayor Tan Cin Kie adalah gedung besar sebelah Barat Restaurant Bandung di Pasuketan yang sekarang ditempati oleh Dokter Gigi. Selain sebagai Mayoor ia  juga seorang leverancier atau pengirim bahan-bahan yang dibutuhkan pada berbagai pos Belanda.

Makam Tumenggung Wira Cula letaknya tidak terlampau jauh dari Kali (Sungai) Sukalila. Nama Kali Sukalila sendiri tercatat sudah  ada sejak tahun 1480-an, dinamakan Kali Sukalila berhubungan dengan peristiwa pemotongan Rambut Syekh Magelung Sakti oleh Sunan Gunung Jati.

Ketika  Syekh Magelung dipotong rambutnya ia  mengucap "suka ridho". Sejak itulah kali itu disebut kali Sukalila. Kuburan rambutnya sekarang masih ada berbentuk makam di sebelah Selatan kali Sukalila, presis di pinggir tikungan jalan Keboncai.

Baca Juga: Syekh Magelung Sakti, Pengelana Berambut Gondrong dari Mesir

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search