Pembebasan Pangeran Mertawijaya dan Kertawijaya dari Sekapan Mataram

- Oktober 23, 2019
Pangeran Mertawijaya dan Kertawijaya adalah anak Panembahan Girilaya, Sultan Cirebon ke tiga. Pada tahun 1650 ketiganya ditahan oleh Amangkurat I karena dianggap tidak loyal terhadap Kesultanan Mataram. Panembahan Girilaya dituduh banyak melindungi pelarian orang-orang Mataram di Cirebon, serta juga dianggap tidak serius membujuk dan memerangi Banten untuk tunduk di bawah Mataram terbukti dengan kegagalan Cirebon dalam melakukan penyerbuan ke Banten pada pristiwa Pagrage.

Menurut naskah Mertasinga, penahanan Mataram pada Panembahan Girilaya dan putranya dilakukan dengan bantuan seorang Belanda melalui jalan muslihat, Panembahan Girilaya beserta kedua putranya diberangkatkan dari Cirebon dengan menggunakan kapal laut. Panembahan Girilaya yang jugasebagai menantu Amangkurat I tidak sedikitpun merasa curiga, akan tetapi sesampainya di Mataram ketiganya ternyata di tahan. Panembahan Girilaya dalam naskah ini dinformasikan dibunuh dengan jalan guna-guna. Adapun dalam sumber lain Panembahan Girilaya wafat karena di racun.

Tujuan utama penyekapan Sultan Cirebon dan keduanya oleh Amangkurat adalah agar Cirebon bubar, meskipun demikian pada kenyataannya pemerintahan Cirebon tetap berjalan mengingat Pangeran Wangsakerta anak Panembhan Girilaya yang lain tidak ikut ke Mataram. Di Tangan Pangeran Wangsakerta pemerintahan Cirebon dijalankan bersama 6 orang lainnya yang disebut Jaksa.

Penahanan Panembahan Girilaya dan kedua putranya membuat marah Cirebon sekaligus juga membuat marah Banten,  oleh karena itu Cirebon dan Banten diam-diam melancarkan misi penghanccuran Mataram dan pembebasan Pangeran Mertawijaya dan Kertawijaya.

Setelah 16 Tahun Cirebon tanpa Raja, usaha Banten dan Cirebon untuk menghancurkan Mataram sekaligus membebaskan kedua pangeran menemui titik terang, sebab di Mataram meletus pemberontakan besar yang diplopori Pangeran Trunojoyo. Banten dan Cirebon mengambil kesempatan ini. Banten mendanai bahkan menyuplai senjata untuk keperluan para pemberontak.

Uang yang melimpah serta bantuan senjata yang banyak dari Banten dimanfaatkan betul oleh Pangeran Trunojoyo, maka pada sekitar tahun 1670 Raden Trunojoyo pergi ke Madura untuk mengumpulkan kekuatan di sana. Kemudian ia bersekongkol dengan orang-orang Makassar di bawah pimpinan Kraeng Galesong yang menetap di daerah Jawa Timur, mereka pun berhasrat untuk menuntut balas terhadap Sunan Amangkurat I.

Pertempuran demi pertempuran terjadi serta kekuatan para pemberontak semakin besar. Akan tetapi pada akhirnya Raden Trunojoyo tidak menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Dipati Anom seperti yang telah disepakati sebelumnya, mungkin terjadi perselisihan antara Raden Trunojoyo  dengan putera mahkota Mataram tersebut. Nyatanya Mataram dapat ditaklukkan dan terjadi penjarahan terhadap Istana Kartasura oleh Pasukan Trunojoyo . Putera mahkota tidak bisa menahan Raden Trunojoyo  lagi kembali mendukung Sunan Amangkurat I.

Keberhasilan Pasukan Trunajaya dalam menggempur ibukota Mataram, tidak lain karena adanya hubungan yang dekat dan juga bantuan dari Banten. Pada akhir tahun 1676 hingga awal tahun 1677, Raden Trunajaya berhubungan sangat intensif dengan Sultan Ageng Tirtayasa melalui utusan mereka masing-masing.

Sultan Ageng Tirtayasa akan menyediakan bantuan persenjataan dan persediaan kepada Pasukan Trunajaya. Pemberian ini bukan tanpa imbalan, Sultan Ageng Tirtayasa meminta Cirebon berada di bawah pengaruh Banten apabila Raden Trunojoyo  berhasil menggempur Mataram. Hal tersebut semakin membulatkan tekad Raden Trunajaya dalam menguasai Mataram.

Ibukota Mataram pun berhasil dikuasai oleh Pasukan Trunojoyo  pada 24 Juni 1677. Salah satu wilayah yang dibebaskan adalah Cirebon. Pasukan yang membebaskan Cirebon dipimpin oleh Ngabehi Sindukarti serta Ngabehi Langlangpasir. Mereka sampai di Pelabuhan Cirebon pada 5 Januari 1677. Kelompok ini terdiri dari 12 perahu dengan kekuatan 150 pasukan. Mereka meminta agar penguasa Cirebon (Syahbandar Martadipa) menyerah serta menyetujui syarat-syarat penyerahan. Syarat-syarat ini terdiri dari 7 pasal, yaitu:

  1. Cirebon tidak lagi membayar pajak kepada Mataram,
  2. Tentara Madura harus melindungi anak-anak dan wanita,
  3. Sandera Cirebon tidak ada lagi yang dikirim ke Mataram,
  4. Selanjutnya Cirebon berada di bawah pemerintahan rajanya sendiri,
  5. Cirebon berada di bawah pertanggungan hak-hak Sultan Banten,
  6. Orang Cirebon menyokong Banten dengan senjata serta mengakui Sultan Banten sebagai pelindung,
  7. Raja Cirebon yang tinggal di Mataram, jika daerah tempat tinggalnya diserang oleh Pasukan Madura, harus memasang janur sebagai tanda menyerah kalah.

Poin terakhir tentang janur pada ketujuh pasal di atas akhirnya menyelamatkan orang-orang Cirebon, termasuk menyelamatkan Pangeran Mertawijaya dan Kertawijaya yang kala itu berada di Ibukota Mataram.

Raden Trunojoyo  berhasil membebaskan dan kemudian membawa Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya ke Kediri dengan perlakuan yang baik. Sultan Ageng Tirtayasa menyuruh Kiai Nara membawa surat kuasa serta hadiah untuk menemui Raden Trunajaya dan mengambil kedua Pangeran Cirebon ke Banten. Pangeran Wangsakerta pun mengetahui akan hal ini.

Pada awal bulan Oktober tahun 1677, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya sampai di Banten. Di sana mereka disambut oleh Sultan Ageng Tirtayasa dengan upacara kebesaran disaksikan langsung oleh Pangeran Wangsakerta.

Ketiga pangeran Cirebon yakni Pangeran Martawijaya, Pangeran Kartawijaya dan Pangeran Wangsakerta mendapat anugrah dari Sultan Ageng Tirtayasa berupa gelar sultan lalu mereka dilantik oleh Sultan Banten menjadi penguasa Cirebon. Barulah kemudian mereka kembali lagi ke Cirebon dan sampai di sana sekitar tahun 1678.

Pangeran Martawijaya dilantik dengan gelar Sultan Muhammad Samsudin menjadi Sultan Kasepuhan, Pangeran Kartawijaya dilantik dengan gelar Sultan Muhammad Badridin menjadi Sultan Kanoman dan Pangeran Wangsakerta dilantik menjadi Panembahan Cirebon. Ketiganya dilantik bersama ditandai dengan penyerahan payung kebesaran masing-masing dua buah payung. Peristiwa ini menjadi tanda bahwa Cirebon benar-benar berada di bawah pengaruh Kerajaan Banten. 

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search