Sejarah Desa Kaliwedi Kabupaten Cirebon

- Oktober 09, 2019
Setidak-tidaknya ada dua versi tentang sejarah Kaliwedi, versi pertama mengatakan bahwa desa Kaliwedi mulanya dibangun oleh seorang yang bernama Surya Angkasa, ada juga yang menyebutnya Ki Tulus, Ki Jopak, Ki Pulan dan masih banyak sebutan lainnya. Konon Tokoh ini merupakan salah satu anak Prabu Siliwangi, meskipun demikian legenda masyarakat setempat tidak menjelaskan dari Istri atau selir Prabu Siliwangi yang mana.

Tujuan Surya Angkasa datang ke Cirebon mulanya untuk mencari Pangeran Cakrabuana dan Rara Santang, akan tetapi karena tidak kunjung ketemu, akhirnya Surya Angkasa membangun pemukiman baru untuk timpat tingganya. Pemukiman yang dibangun tersebut mulanya persis disamping sungai, atau dalam bahasa Cirebon disebut “Kali”, selanjutnya karena Sungai itu mengandung pasir atau dalam bahasa Cirebon disebut “wedi”, maka pemukiman yang ditempati Surya Angkasa akhirnya dinamakan Desa Kaliwedi, yang maksudnya “pemukiman yang sungainya berpasir”. Setelah mendirikan desa Kaliwedi, Surya Angkasa kemudian berjuluk Ki Gede Kaliwedi.

Selain versi di atas, ada lagi satu versi yang menyatakan bahwa munculnya nama Kaliwedi katanya tidak terlepas dari upaya penyebaran ajaran Islam di wilayah itu, penamaan desa Kaliwedi sendiri menurut versi ini di kait-kaitkan dengan upaya penyebaran agama Islam dari salah seorang pengelana misterius.

Waktu itu, Desa Kaliwedi belum bernama, meskipun demikian sudah ada penduduk yang tinggal di wilayah itu, seorang pengelana misterius yang tidak lain merupakan penyebar agama Islam mengajak penduduk setempat untuk masuk Islam, sehingga seluruh masyarakat yang tinggal di pemukiman yang belum bernama itu bersedia masuk agama Islam, kesediaan penduduk untuk masuk Islam karena ajaran Islam yang disampaikan menentramkan jiwa dan sangat mudah dipahami oleh penduduk.
Desa Kaliwedi-Cirebon
Dalam upaya mengislamkan penduduk, tentu pengelana Islam itu mengajarkan dua kalimat Syajadat, sebab memang hanya itulah sarat seseorang untuk masuk agama Islam. Dua Kalimat Syahadat semacam menjadi kenangan pertama orang-orang diwilayah itu dalam mengenal Islam.

Lambat laun selepas penduduk tersebut sudah mampu secara mandiri untuk mengamalkan ajaran agama Islam, pengelana misterius itupun akhirnya pamit untuk kembali berkelana mengajarkan agama Islam pada orang-orang di wilayah lain. Akan tetapi sebelum pergi, ia berpesan agar para penduduk “ Harus Takut Jika Meninggalkan Dua Kalimat Syahadat=Murtad” atau dalam bahasa wejangannyanya disebut “Kaliwedi”.

Menurut versi ini Kali berasal dari kata “Kalih” yang dalam bahasa Cirebon bermaksud “Dua=Dua Kalimat Syahadat” adapun "wedi" bermakna “Takut”, wejangan pengelana penyebar Islam ini akhirnya dipegang teguh oleh penduduk, bahkan tempat tinggal yang mereka tinggali kemudian dinamakan Desa “Kaliwedi”.

Kini, Desa Kaliwedi telah terbagi menjadi dua desa,  yaitu Desa Kaliwedi Kidul dan Kaliwedi Lor, selain itu Kaliwedi juga dijadikan sebagai nama Kecamatan, merupakan pemekaran dari Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon. Di tinjau dari lokasinya Kaliwedi berbatasan dengan wilayah Kabupaten Indramayu. 

Berkomentarlah yang terarah dan jelas agar dapat dipahami dan dibalas admin.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search